Depresi Setelah Serangan Jantung Tingkatkan Risiko Kematian Hingga 2 Kali Lipat

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Dikutip dari siaran pers Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit jantung koroner (PJK) masih menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Bentuk penyakit jantung bermacam-macam, tapi sering kali diawali dengan serangan jantung terlebih dahulu. Nyatanya, risiko serangan jantung ini dapat meningkat, bahkan sampai mengakibatkan kematian dini, jika penderitanya mengalami depresi. Bagaimana bisa?

Depresi pada pasien serangan jantung tingkatkan risiko kematian dini

penyebab depresi

Semua orang dapat mengalami depresi jika ia merasa sangat sedih dan tertekan dalam jangka waktu yang lama. Selain lebih sering dialami oleh perempuan, kondisi ini juga umum terjadi pada orang-orang yang mengidap penyakit kronis, salah satunya serangan jantung.

Depresi dan risiko serangan jantung ternyata memiliki hubungan timbal balik, seperti mata rantai yang tidak terputus. Bahkan, para ahli mengungkapkan bahwa kombinasi serangan jantung dan depresi dapat membuat seseorang mengalami kematian dini.

Hal ini diawali dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Heidy May, Ph.D., seorang epidemiolog dari Intermountain Medical Center Heart Institute di Salt Lake City. Ia meneliti sekitar 24.137 pasien yang didiagnosis terkena penyakit jantung koroner, baik itu serangan jantung, angina stabil, dan angina tidak stabil.

Sebanyak 15 persen atau sejumlah 3.646 pasien ternyata juga didiagnosis mengalami depresi setelah terkena serangan jantung. Kemudian, para peneliti mengabaikan faktor risiko, usia, jenis kelamin, obat-obatan, dan komplikasi lanjutan.

Dari keseluruhan peserta yang didiagnosis terkena serangan jantung dan depresi, sebanyak 50 persen pasien meninggal selama penelitian berlangsung. Sementara itu, hanya sekitar 38 persen pasien yang tidak meninggal dan tetap bertahan sampai penelitian selesai. Para ahli mengambil kesimpulan bahwa depresi memegang peran yang kuat dalam menyebabkan kematian pada pasien serangan jantung, bahkan risikonya bisa naik dua kali lipat.

Apa hubungannya depresi, risiko serangan jantung, dan kematian dini?

komplikasi penyakit jantung

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, depresi, dan risiko serangan jantung saling memengaruhi satu sama lain. Depresi mengakibatkan gejala serangan jantung semakin parah, sementara orang yang mengalami serangan jantung akan sangat mudah mengalami depresi karena penyakitnya.

Belum berhenti sampai di situ, para ahli menemukan bahwa depresi dapat mempercepat kematian pada pasien serangan jantung. Sayangnya, para ahli tidak menjelaskan penyebabnya secara spesifik. Mereka menduga ini ada kaitannya dengan kecemasan pasien terhadap pengobatan yang dijalaninya.

Ketika pasien serangan jantung mengalami depresi, mereka cenderung kurang disiplin minum obat dan malas olahraga. Jangankan untuk olahraga, hanya untuk makan teratur dan menjalani pola hidup sehat saja rasanya tidak bersemangat. Padahal, semua ini sangat penting untuk mendukung dan mempercepat proses penyembuhan pasien.

Terlebih lagi, depresi dapat meningkatkan produksi hormon kortisol alias hormon stres. Hormon ini dapat memicu peradangan di pembuluh darah dan memudahkan lemak menymbat pembuluh darah. Bukan cuma menyebabkan serangan jantung jadi semakin parah, pasien pun rentan kena penyakit lain yang semakin menurunkan harapan hidupnya.

Bagaimana cara mengatasi depresi pada pasien serangan jantung?

Gula darah rendah hipoglikemia saat olahraga

Berkat penelitian ini, para peneliti mengungkapkan bahwa penting untuk mengobati depresi pada pasien penyakit jantung sedini mungkin. Ini tidak hanya bermanfaaat untuk mencegah risiko serangan jantung yang lebih parah, tapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan kata lain, usia harapan hidup pasien jadi lebih panjang dan menurunkan risiko kematian.

Cara terbaiknya adalah dengan melakukan skrining depresi pada pasien dan dipantau secara berkelanjutan. Maksudnya ini tidak hanya dilakukan sesaat setelah pasien divonis terkena serangan jantung.

Setelah itu, dokter mungkin akan meresepkan beberapa antidepresan, seringnya berupa SSRI seperti sertraline (Zoloft), citalopram (Celexa), atau escitalopram (Lexapro). Obat-obatan ini dianggap aman dan efektif untuk mengatasi depresi pada pasien serangan jantung.

Dan yang terpenting, usahakan untuk melakukan olahraga rutin dan pola hidup sehat lainnya untuk membantu memperbaiki suasana hati Anda. Begitu pun dukungan sosial dari pasangan, teman, dan keluarga sangat membantu dalam mengatasi depresi pada pasien.  Semakin cepat fase depresi berakhir, maka semakin kecil perkembangan serangan jantung.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca