Kenali Brown-Sequard Syndrome, Penyebab Tubuh Mati Rasa Sebagian Setelah Kecelakaan Bermotor

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Sebagian besar kondisi mati rasa sebenarnya tidak berbahaya dan bisa sembuh sendiri. Namun jika Anda beberapa waktu ini pernah terlibat dalam kecelakaan bermotor atau terjatuh cukup fatal sehingga mencederai tulang belakang, dan terus-terusan mengalami mati rasa pada sisi yang cedera, sebaiknya konsultasikan pada dokter. Bisa jadi ini gejala Brown Sequard Syndrome. Apakah berbahaya?

Apa itu Brown Sequard Syndrome?

Brown Sequard Syndrome adalah serangkaian kondisi, bukan penyakit, yang diakibatkan oleh trauma pada saraf medula spinalis dalam tulang belakang. Istilah Brown-Sequard Syndrome diambil dari nama Charles Edouard Brown-Sequard, seorang ahli saraf yang pertama kali menemukan kondisi ini pada tahun 1949.

Apa penyebab Brown Sequard Syndrome?

Penyebab utama dari munculnya Brown Sequard Syndrome adalah trauma saraf tulang belakang, terutama pada medula spinalis. Trauma dapat berupa cedera akibat luka tembak, luka tusuk, atau pukulan benda tumpul (misalnya terjatuh dari motor) yang terjadi pada salah satu sisi tulang belakang.

Brown-Sequard Syndrome juga dapat diakibatkan oleh penyebab non-traumatik, seperti tumor ganas, kista, paparan radiasi, hernia pada saraf, stres tekanan pada saraf, gangguan sistem peredaran darah, hingga infeksi, seperti meningitis, herpes, TBC, myelitis, dan sipilis.

Apa saja gejala dari Brown-Sequard Syndrome?

Akibat kerusakan saraf tulang belakang, Brown-Sequard Syndrome dapat menyebabkan hilangnya kemampuan tubuh untuk merasakan sensasi fisik, seperti nyeri, getaran, geli, sentuhan, tekanan, hingga perubahan suhu panas-dingin. Trauma saraf tulang belakang ini juga menyebabkan hilangnya kemampuan proprioseptif, yaitu kemampuan Anda untuk mengetahui di mana letak dan posisi tubuh pada sisi yang mengalami cedera.

Ada pula set gejala lainnya berupa gangguan saluran pernapasan (seperti batuk), ketidakmampuan menahan buang air kecil, dan sembelit, yang apabila terjadi maka disebut sebagai gejala Brown-Sequard Syndrome Plus.

Bagaimana dokter mendiagnosis Brown-Sequard Syndrome?

Bila Anda mengalami gejala-gejala seperti di atas, khususnya setelah mengalami cedera atau memiliki kondisi/penyakit yang menjadi faktor risikonya, dokter dapat merujuk Anda kepada dokter ahli saraf (neurologis) untuk memeriksa kondisi saraf tulang belakang Anda. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan dengan MRI atau rontgen. Rontgen terutama sangat penting karena dengan begitu dokter dapat mengetahui lokasi tulang yang cedera dan dapat mengetahui lokasi benda asing yang menimbulkan luka secara lebih jelas.

Pada kasus gawat darurat, pencitraan dengan CT scan mungkin lebih direkomendasikan untuk dapat melihat anatomi dan kestabilan tulang untuk merencanakan operasi. Posisi benda asing dan hubungannya dengan tulang belakang dan pembuluh darah juga dapat dilihat melalui CT scan.

Sementara itu, MRI dapat memberikan gambaran yang lebih baik bila terjadi pembengkakan dan gangguan pada tulang belakang. Namun, penggunaan pencitraan MRI hanya diperbolehkan bila benda metal asing yang menyebabkan sindrom ini sudah diangkat. Hal ini disebabkan karena adanya gelombang magnet dari MRI yang dapat menarik benda logam tersebut di dalam tubuh sehingga dapat memperburuk kondisi saraf pasien dan menghambat dokter untuk mendiagnosis kerusakan pada sumsum tulang.

Bagaimana cara mengatasi Brown-Sequard Syndrome?

Untuk dapat mengatasi sindrom ini, perlu pula adanya dukungan dan kerja sama dengan dokter spesialis saraf, perawat dan fisioterapis.

Jenis penanganan Brown-Sequard Syndrome pun akan bergantung pada akar penyebab dari munculnya masalah tersebut dan ditujukan untuk mencegah munculnya komplikasi lebih lanjut. Bila kondisi Anda terlihat stabil (tekanan darah, laju napas, dan pernapasan yang baik) serta tidak ada kerusakan pada trakea maupun esofagus, penanganan dapat difokuskan pada pemeriksaan penunjang dan penanganan klinis.

Pasien yang mengalami Brown-Sequard Sindrom akibat luka tusukan umumnya akan segera dibawa ke IGD untuk disuntikkan vaksin pencegahan tetanus dan antibiotik untuk mencegah timbulnya infeksi.

Steroid dosis tinggi seringkali digunakan pada beberapa kasus Brown Sequard Syndrome yang disebabkan luka pada sumsum tulang belakang. Steroid digunakan untuk mencegah terjadinya peradangan dan meningkatkan fungsi kapiler darah. Dokter mungkin juga akan meresepkan antibiotik, penghilang nyeri, dan/atau laksatif tergantung dari gejala lainnya yang menyertai sindrom ini.

Operasi biasanya dilakukan bila terjadi penekanan pada medula spinalis, kebocoran CSF pada sistem saraf pusat otak, dan ketidakstabilan tulang belakang.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca