Satu-satunya cara yang paling efektif untuk memastikan seseorang terinfeksi HIV adalah melalui tes HIV. Pasalnya, gejala HIV tidak langsung muncul begitu saja setelah awal terinfeksi. Orang yang terkena virus HIV umumnya tidak menyadari bahwa mereka sedang mengembangkan penyakit HIV/ AIDS hingga bertahun-tahun lamanya. Lantas, berapa lama waktu gejala HIV muncul sejak awal infeksi? Berikut penjelasannya.

Perkembangan virus HIV, dari awal infeksi hingga mulai menimbulkan gejala HIV

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel CD4 tubuh. Ini adalah sejenis sel darah putih yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Karena itu, sistem kekebalan tubuh (imun) Anda akan melemah secara drastis. Virus ini menular melalui cairan tubuh tertentu (seperti cairan vagina, air mani, dan air susu ibu) dan bisa bertahan di dalam tubuh seumur hidup.

Waktu munculnya gejala HIV pada setiap orang berbeda-beda setelah terinfeksi atau tertular. Ini tergantung pada tingkat kekebalan tubuh Anda dan stadium penyakit HIV/AIDS.

Stadium awal

Sejak seseorang memasuki stadium awal penyakit HIV, tubuhnya mengandung virus HIV dalam jumlah yang sangat banyak. Karena itu, Anda akan dengan mudah menularkan virus HIV pada orang lain. Gejala awal infeksi HIV biasanya terjadi antara 2-4 minggu setelah infeksi awal. Perkembangbiakan virus terjadi secara cepat dan tidak terkendali pada minggu-minggu awal Anda tertular HIV.

Menurut University of California, gejala awal HIV biasanya menyerupai gejala flu yaitu demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Gejala-gejala tersebut merupakan respon alami sistem imun saat melawan infeksi virus yang masuk ke dalam tubuh. Sayangnya, sistem kekebalan tubuh tidak cukup kuat untuk membunuh virus HIV.

Beberapa penderita juga mengalami ruam di beberapa bagian tubuh hingga mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Yang paling mudah diamati adalah terdapat benjolan pada bagian leher tepat di bawah rahang. Namun, beberapa penderita lainnya bahkan tidak mengalami gejala atau hanya gejala ringan sehingga sering diabaikan.

Stadium laten klinis

Setelah stadium awal terlewati, Anda akan mengalami penantian panjang untuk mengembangkan gejala lanjutan. Pada fase ini, virus HIV tetap aktif dalam tubuh tapi tidak menunjukkan gejala atau hanya bergejala ringan. Tahap ini juga disebut dengan tahap asimtomatik, yang artinya tanpa gejala.

Bagi orang yang tidak meminum obat HIV apa pun, stadium laten klinis berlangsung sekitar 10 tahun untuk menunjukkan gejala infeksi HIV lanjutan. Meski diam-diam tanpa gejala, virus HIV justru semakin menyerang sel imun untuk mengembangkan komplikasi lebih lanjut.

Begitu gejalanya muncul, Anda akan mengalami beberapa masalah kesehatan sekaligus. Misalnya diare, sesak napas, batuk, penurunan berat badan secara drastis, dan demam. Anda juga dapat mengalami pembengkakan kelenjar getah bening sebagai lanjutan dari stadium awal. Namun, penyebab munculnya gejala-gejala tersebut tidak diketahui secara pasti, apakah memang disebabkan oleh HIV atau karena infeksi ringan akibat terkikisnya sistem kekebalan tubuh.

Stadium lanjut

Gejala stadium lanjut HIV adalah puncak di mana sistem kekebalan tubuh melemah atau rusak total akibat virus HIV. Di fase ini, jumlah CD4 penderita mengalami penurunan drastis, hingga di bawah 200 sel per milimeter kubik darah. Padahal, orang sehat memiliki jumlah CD4 sekitar 500 sampai 1.600 sel per milimeter kubik darah.

Tahap ini dapat memakan waktu hingga 10 tahun atau lebih untuk mengembangkan infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah bentuk komplikasi HIV yang disebabkan oleh jamur atau bakteri yang mengambil keuntungan dari sistem kekebalan tubuh yang lemah. Sistem imun yang lemah atau rusak akan membuat orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) rentan terhadap pneumonia, toksoplasmosis, dan tuberkulosis (TBC). Kumpulan penyakit ini menandakan bahwa virus HIV telah berkembang menjadi penyakit AIDS.

Gejala HIV yang muncul pada stadium akhir meliputi keringat berlebihan di malam hari, demam lebih dari 38 derajat Celcius selama satu minggu atau lebih, bintik abnormal di lidah atau mulut, diare kronis, dan gangguan penglihatan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca