Benarkah Makan Semut Jepang Bisa Atasi Berbagai Penyakit?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Akhir-akhir ini, beredar kabar bahwa jenis serangga tertentu bisa jadi obat mujarab berbagai jenis penyakit dan keluhan. Jenis serangga yang lebih dikenal dengan istilah semut jepang tersebut memiliki nama ilmiah Tenebrio molitor. Bentuk aslinya tidak menyerupai semut sungguhan, melainkan tampak seperti kumbang atau kecoa yang sangat kecil.

Semut jepang diyakini ampuh untuk mengatasi berbagai penyakit berbahaya, mulai dari diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung, penyakit asam urat, hingga osteoporosis. Serangga ini juga diklaim mampu meningkatkan kejantanan pria di ranjang.

Seperti apa pengobatan dengan semut jepang?

Karena janji-janji tersebut, banyak orang mulai rutin mengonsumsi semut jepang. Semut ini bisa dikonsumsi langsung, dimasukkan ke dalam kapsul, atau dicampur dalam teh dan makanan. Penjualnya akan memberikan “dosis” khusus yang disesuaikan dengan keluhan pembeli.

Benarkah semut jepang bisa atasi berbagai jenis penyakit?

Belum ada penelitian atau uji klinis yang bisa membuktikan keampuhan semut jepang dalam menyembuhkan penyakit apa pun. Namun, serangga ini diklaim mengandung protein dan enzim yang sangat tinggi. Nutrisi dalam serangga inilah yang membuat banyak orang yakin dengan khasiatnya.

Akan tetapi, berbagai manfaat yang digembar-gemborkan masyarakat, terutama di jejaring sosial tidak menyediakan landasan medis atau ilmiah sama sekali. Maka, klaim dari para konsumen juga belum terbukti. Untuk orang-orang yang mengaku kondisinya membaik setelah rutin makan semut jepang, diduga penyebabnya adalah efek plasebo (obat kosong). Efek plasebo biasanya membuat Anda bersugesti kuat bahwa pengobatan yang dijalani akan mampu mengatasi penyakit yang diderita.   

Efek samping yang mungkin terjadi akibat makan semut jepang

Saat ini, laporan soal efek samping yang mungkin timbul masih bersifat simpang siur. Beberapa efek samping yang dikabarkan muncul karena makan semut jepang antara lain tubuh jadi panas, kurang darah, lemas karena gula darah menurun drastis, gangguan pencernaan seperti mual dan muntah, hingga infeksi bakteri pada usus.

Amankah makan semut jepang?

Menurut Kepala Staf Medis Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, dr. R. Bowo Pramono, sebaiknya pengobatan apa pun yang dijalani sudah teruji secara ilmiah dan ada kepastian keamanan dan manfaatnya bagi tubuh. Sementara itu, hingga saat ini tidak ada kepastian soal manfaat serta efek samping pengobatan dengan semut ini. Lebih lanjut, dr. R. Bowo Pramono mengingatkan bahwa untuk mengobati penyakit seperti diabetes, sudah ada terapi insulin yang dirancang khusus untuk mengendalikan kadar gula darah. 

Dilansir dari kanal kesehatan Kompas, dr. Tri Juli Edi Tarigan dari RS Cipto Mangunkusumo juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi semut jepang sembarangan. Pasalnya, Anda mungkin justru akan mengalami efek negatifnya, misalnya alergi. Dokter spesialis penyakit dalam ini menambahkan bahwa setiap jenis pengobatan wajib diuji dulu keampuhannya. Harus ada kejelasan zat aktif atau komponen apa yang bisa melawan penyakit tertentu. Selain itu, perlu dilakukan pengamatan apakah pengobatan tersebut justru bisa merusak organ vital yang lain.

Pada akhirnya keputusan untuk menjalani pengobatan tertentu ada di tangan Anda. Namun, ingatlah bahwa tak ada satu obat pun yang bisa secara ajaib menyembuhkan penyakit. Anda perlu usaha yang seimbang dengan cara menjaga pola makan, menghindari pemicu penyakit, berolahraga, dan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

4 Penyebab Buah Zakar Anda Gatal dan Ingin Terus Digaruk

Menggaruk alat kelamin terkadang sudah menjadi kebiasaan, tapi bisa juga karena memang terasa gatal. Apa saja penyebab buah zakar gatal? Apakah berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit