home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal 4 Teknologi Canggih untuk Perawatan Gigi dan Mulut

Mengenal 4 Teknologi Canggih untuk Perawatan Gigi dan Mulut

Memeriksa kesehatan gigi atau menegakkan diagnosis penyakit pada gigi umumnya memang dengan melihat gejalanya dan mengamati kondisi gigi. Namun di era teknologi yang maju ini, pemeriksaan gigi tidak hanya dengan pemeriksaan fisik, tapi juga dengan tes kesehatan yang mengandalkan berbagai alat canggih. Ingin tahu apa saja teknologi canggih untuk perawatan gigi? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Teknologi canggih untuk perawatan gigi

Kesehatan gigi memang penting untuk dijaga. Pasalnya, gigi memiliki peran penting, seperti membantu Anda untuk mencerna makanan hingga melancarkan Anda untuk berbicara dengan baik.

Nah, menjaga kesehatannya ini tidak sebatas rajin menggosok gigi atau memakai benang gigi saja. Anda juga perlu melakukan pemeriksaan gigi secara rutin, setidaknya 6 bulan sekali. Jika Anda mengalami masalah pada gigi, pemeriksaan lebih lanjut pasti direkomendasikan dokter. Berikut ini ada beberapa alat canggih yang biasanya digunakan dokter untuk mengecek kondisi kesehatan gigi Anda.

1. Dental X-ray

gigi bungsu harus dicabut

Tahukah Anda bahwa sinar X-ray juga bisa digunakan untuk memeriksa gigi Anda? Ya, sama seperti tes pencitraan pada umumnya, sinar X-ray juga bisa menghasilkan gambaran kondisi gigi Anda. Biasanya, dokter akan merekomendasikan tes ini untuk menemukan masalah pada akar gigi, posisi rahang yang mungkin tidak sesuai, atau melihat bagaimana komposisi tulang wajah Anda,

Sinar-X adalah suatu bentuk energi yang dapat merambat atau diserap oleh benda padat, seperti gigi dan tulang, dan muncul dalam hasil gambar berupa area berwarna terang. Tes perawatan gigi yang canggih ini biasanya membantu dokter untuk menemukan penyebab dari masalah gigi yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan fisik.

Lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa tujuan penggunaan rontgen gigi.

  • Mendeteksi adanya pembusukan di antara gigi.
  • Menemukan perubahan pada saluran akar gigi karena infeksi.
  • Mengamati adanya pengeroposan pada tulang rahang, bahkan menemukan abses, maupun tumor.
  • Membantu menentukan posisi gigi untuk implan gigi, kawat gigi, gigi palsu atau prosedur gigi lainnya.

2. Laser decay

Teknologi canggih selanjutnya untuk perawatan gigi adalah laser decay. Perawatan ini digunakan untuk mendeteksi kerusakan gigi jauh lebih akurat dan efisien ketimbang dengan metode pemeriksaan konvensional.

Cara kerja dari perawatan ini adalah mengandalkan teknologi non-invasif yang nantinya akan memindai gigi Anda untuk memperlihatkan kondisi struktur gigi. Laser khusus yang digunakan akan memantulkan cahaya pada struktur gigi yang sehat. Sebaliknya, akan memantulkan cahaya kualitas rendah atau bahkan tidak bercahaya sama sekali pada kondisi gigi yang membusuk atau mati.

Setelah pemindaian selesai, pembacaan fluoresensi (penyerapan cahaya) akan diubah menjadi output numerik digital. Dokter akan menggunakan hasilnya untuk menilai kondisi gigi Anda. Tes canggih sangat membantu karena kerusakan gigi mungkin lebih sulit dideteksi dengan pemeriksaan konvensional.

Sejumlah kasus kerusakan gigi tidak menunjukkan gejala yang cukup kentara pada perkembangan awal. Salah satu contohnya adalah pembusukan gigi yang susah terlihat karena penggunaan pasta gigi flouride.

Sebelum melakukan pemeriksaan ini, dokter akan lebih dahulu meminta Anda untuk menjalani dental X-ray. Dengan begitu, tingkat akurasi dalam mendeteksi kerusakan gigi bisa mencapai 90 persen.

3. CAD/CAM Dentistry

perawatan gigi penderita diabetes

CAD dalam teknologi canggih perawatan gigi adalah singkatan dari “computer-assisted design“, sedangkan CAM adalah “computer-assisted manufacture.” Keduanya digunakan untuk membantu prosedur pencetakan dan pembuatan dental bridge.

Bridge gigi sendiri adalah perawatan untuk mengisi celah antara gigi yang kosong sehingga tampilan gigi jadi lebih baik. Secara tradisional, prosedur ini mengharuskan dokter untuk membuat cetakan gigi. Kemudian mengirimkan cetakan gigi tersebut ke laboratorium untuk dibuat sebagai gigi tiruan.

Namun, dengan teknologi CAD/CAM dentistry, desain gigi akan dibuat dengan komputer dan diteruskan ke mesin untuk dibuat gigi tiruan.

4. Veneer lebih tipis

Perawatan gigi ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama, namun dengan kecanggihan teknologi, veneer terbaru dibuat menjadi lebih tipis dari sebelumnya. Veneer gigi sendiri merupakan cangkang tipis yang digunakan untuk melapisi gigi bagian depan yang bengkok atau tampilannya bermasalah.

Pada veneer versi lama, ada kelemahan yang perlu Anda ketahui, yakni sebagian email gigi di permukaan perlu dihilangkan agar pemasangan veneer terlihat lebih alami. Masalahnya, email gigi merupakan komponen gigi yang penting karena melindungi gigi dari kerusakan, temperatur yang tidak sesuai, atau bahan-bahan kimia.

Sementara veneer terbaru, yang disebut dengan No-Prep atau Minimal-Prep dibuat setipis kotak lensa dan keuntungannya dapat langsung ditempatkan pada gigi tanpa perlu menghilangkan email gigi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dental x-rays. (n.d.). Retrieved September 17, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/11199-dental-x-rays

Laser decay diagnosis – Dentist Bartlett, IL – DENTAL Education Library. (n.d.). Retrieved September 17, 2021, from https://www.bestdental.org/library/7819/LaserDecayDiagnosis.html

Dental bridges: Who needs Them, Types, COSTS, Procedure & care issues. (n.d.). Retrieved September 17, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/10921-dental-bridges

CAD/CAM Dentistry. Retrieved September 17, 2021, from https://www.fdiworlddental.org/cadcam-dentistry

Ultra-thin veneers might help you avoid enamel removal. (n.d.). Retrieved September 20, 2021, from https://www.heritagedentalcare.net/blog/298688-ultra-thin-veneers-might-help-you-avoid-enamel-removal

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.