backup og meta

Jangan Cabut Gigi Saat Anda Mengalami 7 Kondisi Ini

Jangan Cabut Gigi Saat Anda Mengalami 7 Kondisi Ini

Prosedur cabut gigi dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah gigi, termasuk gigi berlubang yang parah hingga gigi bungsu yang tumbuh tidak normal. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang membuat Anda tidak boleh cabut gigi sembarangan.

Lantas, kapan Anda tidak boleh cabut gigi? Apakah boleh mencabut gigi saat sakit? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Penyakit apa yang membuat Anda tidak boleh cabut gigi?

Meski tergolong prosedur yang sederhana, cabut gigi atau dalam istilah medis disebut sebagai odontektomi ini bisa menjadi tindakan yang berisiko.

Mengetahui apa saja penyakit atau kondisi kesehatan yang membuat Anda tidak disarankan untuk cabut gigi sangat penting untuk mencegah komplikasi serius.

Berikut ini adalah beberapa kondisi yang harus diperhatikan sebelum Anda memutuskan untuk melakukan cabut gigi.

1. Infeksi gigi dan gusi yang parah

gingivitis

Larangan cabut gigi biasanya ditujukan bagi pengidap infeksi rongga mulut yang parah, seperti radang gusi (gingivitis), penyakit gusi (periodontitis), hingga abses gigi.

Kondisi tersebut perlu diatasi sebelum pencabutan gigi agar infeksi tidak menyebar ke area lain.

Sebuah studi dalam International Journal of Clinical Anesthesiology (2016) menyebutkan bahwa infeksi dan peradangan aktif dalam rongga mulut juga bisa mengurangi efek obat bius.

Pemakaian obat bius atau anestesi lokal dalam dosis yang lebih tinggi tentu berisiko bagi tubuh.

2. Kehamilan

Dokter menyarankan ibu hamil untuk tidak cabut gigi saat hamil trimester pertama dan ketiga.

Trimester pertama biasanya dianggap paling berisiko untuk melakukan perawatan gigi. Hal ini karena obat-obatan yang digunakan berisiko mengganggu perkembangan janin.

Meski tergolong aman, pencabutan gigi pada trimester ketiga bisa membuat ibu hamil merasa tidak nyaman untuk berbaring dalam waktu lama.

Umumnya, dokter gigi akan melakukan perawatan gigi yang dibutuhkan pada trimester kedua dan menunda perawatan yang tidak penting sampai setelah melahirkan.

Apakah boleh mencabut gigi saat sakit?

Jika Anda merasakan gejala flu atau batuk pilek, sebaiknya jadwalkan ulang pencabutan gigi. Menunda prosedur hingga sembuh membantu mencegah komplikasi dan mengurangi risiko penyebaran infeksi ke orang lain.

3. Memiliki alergi

Kondisi lain yang membuat Anda tidak boleh cabut gigi sembarangan adalah alergi. Pengidap alergi, terutama alergi anestesi dan obat-obatan, harus berhati-hati sebelum menjalani pencabutan gigi.

Meski jarang terjadi, anestesi lokal pada rongga mulut bisa memicu reaksi alergi, seperti ruam pada kulit, pembengkakan wajah, hingga tekanan darah rendah (hipotensi).

Beri tahu dokter gigi mengenai riwayat alergi Anda. Dokter bisa melakukan tes alergi atau menyesuaikan obat untuk mencegah efek samping berbahaya.

4. Gangguan kekebalan tubuh

hepatitis autoimun

Pasien dengan gangguan kekebalan tubuh (immunocompromised), misalnya karena HIV/AIDS, efek kemoterapi, atau efek obat imunosupresan, lebih rentan terhadap infeksi.

Pencabutan gigi pada kondisi ini harus dilakukan secara hari-hati. Untuk mencegah komplikasi serius, dokter akan memberikan antibiotik sebelum pasien menjalani prosedur.

Penelitian yang diterbitkan dalam Tohoku Journal of Experimental Medicine (2018) menyebutkan bahwa obat imunosupresan meningkatkan risiko osteonekrosis rahang setelah cabut gigi.

Osteonekrosis rahang (ONJ) merujuk pada kondisi langka dan serius saat sel-sel tulang pada tulang rahang mati secara perlahan.

5. Diabetes yang tidak terkontrol

Banyak orang yang bertanya, “Apakah boleh atau tidak mencabut gigi saat sakit diabetes?” Ya, tentu boleh asalkan kondisi Anda sudah terkontrol dengan baik.

Pasien dengan kadar glukosa atau gula darah yang tidak terkontrol berisiko tinggi mengalami infeksi dan proses penyembuhan luka yang lambat setelah cabut gigi.

Sebelum melakukan pencabutan gigi, pastikan kadar gula darah Anda berada pada rentang normal. Hal ini ditandai dengan hasil cek gula darah puasa (GDP) di bawah 100 mg/dL.

6. Riwayat serangan jantung dan stroke

Anda tidak boleh melakukan cabut gigi bila baru saja mengalami serangan jantung atau stroke.

Kondisi tubuh dan tekanan darah yang belum stabil bisa meningkatkan risiko komplikasi. Salah satu akibat cabut gigi saat tensi masih tinggi adalah perdarahan yang serius.

Untuk menghindari risiko tersebut, dokter gigi biasanya merekomendasikan pasien untuk menunggu beberapa minggu atau bulan sebelum menjadwalkan pencabutan gigi.

7. Penggunaan obat-obatan tertentu

minum obat

Pasien yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti pengencer darah (antikoagulan) atau obat imunosupresan, harus berhati-hati sebelum mencabut gigi. 

Obat antikoagulan dapat meningkatkan risiko perdarahan selama cabut gigi atau setelahnya, sedangkan imunosupresan bisa memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.

Tak hanya kedua jenis obat di atas, beri tahu dokter mengenai semua jenis obat, suplemen, vitamin, atau produk herbal yang sedang Anda minum. 

Dokter akan meminta Anda menyesuaikan dosis atau menghentikan penggunaan obat untuk sementara waktu supaya prosedur pencabutan gigi bisa dilakukan dengan aman.

Cabut gigi harus dilakukan dengan pertimbangan matang terhadap kondisi kesehatan pasien. 

Dalam beberapa kasus, pencabutan gigi harus ditunda atau dilakukan dengan persiapan dan pengawasan khusus untuk menghindari komplikasi serius.

Tanyakanlah kepada dokter gigi atau dokter spesialis terkait untuk mengetahui kondisi apa saja yang membuat Anda boleh atau tidak boleh cabut gigi.

Dengan begitu, Anda bisa memastikan bahwa prosedur ini bisa dilakukan dengan aman dan tidak memicu komplikasi serius bagi kesehatan Anda.

Kesimpulan

  • Prosedur cabut gigi perlu dipertimbangkan dengan cermat pada pasien dengan kondisi kesehatan tertentu untuk menghindari komplikasi serius.
  • Beberapa kondisi yang membuat pasien tidak boleh cabut gigi yaitu infeksi gigi dan gusi yang parah, kehamilan, serta diabetes atau penyakit jantung yang tidak terkontrol.
  • Konsultasi dengan dokter gigi atau spesialis terkait sebelum cabut gigi sangat penting untuk memastikan prosedur ini aman dilakukan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Extractions. (n.d.). American Dental Association. Retrieved May 20, 2024, from https://www.mouthhealthy.org/all-topics-a-z/extractions/

Tooth extraction: Procedure, aftercare & recovery. (2021). Cleveland Clinic. Retrieved May 20, 2024, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/22120-tooth-extraction

Gadhia, A., Pepper, T. (2023). Oral Surgery, Extraction of Teeth. StatPearls. Retrieved May 20, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK589654/

Ahmed, I., Younis, M., & Shah, A. A. (2019). Extraction in Patients on Oral Anticoagulant Therapy With and without Stopping the Drug: A Comparative Study. Journal of maxillofacial and oral surgery, 18(4), 555–558. https://doi.org/10.1007/s12663-019-01205-0

Hayashi, M., Morimoto, Y., Iida, T., Tanaka, Y., & Sugiyama, S. (2018). Risk of Delayed Healing of Tooth Extraction Wounds and Osteonecrosis of the Jaw among Patients Treated with Potential Immunosuppressive Drugs: A Retrospective Cohort Study. The Tohoku journal of experimental medicine, 246(4), 257–264. https://doi.org/10.1620/tjem.246.257

Southerland, J. H., Gill, D. G., Gangula, P. R., Halpern, L. R., Cardona, C. Y., & Mouton, C. P. (2016). Dental management in patients with hypertension: challenges and solutions. Clinical, cosmetic and investigational dentistry, 8, 111–120. https://doi.org/10.2147/CCIDE.S99446

Vt, H., T, M., T, S., Nisha V, A., & A, A. (2013). Dental considerations in pregnancy-a critical review on the oral care. Journal of clinical and diagnostic research : JCDR, 7(5), 948–953. https://doi.org/10.7860/JCDR/2013/5405.2986

Tomoyasu, Y., Mukae, K., Suda, M., Hayashi, T., Ishii, M., Sakaguchi, M., Watanabe, Y., Jinzenji, A., Arai, Y., Higuchi, H., Maeda, S., & Miyawaki, T. (2011). Allergic reactions to local anesthetics in dental patients: analysis of intracutaneous and challenge tests. The open dentistry journal, 5, 146–149. https://doi.org/10.2174/1874210601105010146

Versi Terbaru

03/06/2024

Ditulis oleh Satria Aji Purwoko

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari


Artikel Terkait

Risiko dan Cara Atasi Gigi Bungsu Bermasalah

Apakah Boleh Langsung Olahraga Setelah Cabut Gigi?


Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 03/06/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan