Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

3 Pengaruh Dot pada Kesehatan Gigi Anak dan Cara Mencegahnya

3 Pengaruh Dot pada Kesehatan Gigi Anak dan Cara Mencegahnya

Meski cukup membantu membuat bayi tenang dan tidak rewel, penggunaan dot dalam waktu lama bisa memberikan dampak buruk, salah satunya untuk kesehatan gigi. Lantas, apa saja pengaruh dot pada gigi anak? Ini ulasan selengkapnya.

Pengaruh dot pada kesehatan gigi anak

Dot pada botol susu maupun empeng dapat memberikan efek menenangkan pada bayi Anda.

Meski begitu, penggunaan dot masih menjadi kontroversi, terutama pada bayi yang masih mendapatkan ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupannya karena dapat menyebabkan kondisi yang disebut bingung puting.

Dalam Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang digariskan WHO sejak 1981, disebutkan pada langkah ke-9: jangan memberikan botol dot/empeng kepada bayi yang sedang menyusu.

Penggunaan dot diperbolehkan dengan indikasi medis tertentu, misalnya pada bayi prematur yang ibunya belum bisa menyusui karena harus mendapat perawatan di NICU.

Kondisi lainnya yaitu pada ibu bekerja yang tidak bisa secara penuh menyusui anaknya. Maka, Anda perlu berkonsultasi dahulu dengan dokter sebelum memutuskan menggunakan dot.

memberi makan anak tumbuh gigi

Berikut ini beberapa pengaruh buruk dot pada gigi anak yang penting untuk Anda ketahui.

1. Pertumbuhan gigi tidak sejajar

Kondisi susunan tulang rahang dan gigi yang tidak sejajar dalam dunia medis disebut maloklusi.

Dikutip dari Stanford Children’s Health, anak-anak yang mengisap dot atau ibu jari setelah usia lima tahun berpeluang lebih besar mengalami pertumbuhan gigi tidak sejajar.

Pasalnya, kebiasaan ini memaksa gigi untuk bergerak dan mengubah bentuk langit-langit mulut untuk memenuhi keberadaan dot dalam jangka waktu lama.

Pengaruh dot pada gigi anak berkaitan dengan sejumlah kondisi maloklusi seperti berikut.

  • Open bite: gigi depan atas dan bawah tidak saling tumpang-tindih sehingga rongga mulut tidak bisa menutup sempurna.
  • Overbite: gigi depan atas lebih maju daripada gigi depan bawah.
  • Underbite: gigi depan bawah lebih maju daripada gigi depan atas.
  • Crossbite: gigi geraham bawah tidak sejajar dengan geraham atas.

2. Gigi gigis

Gigi gigis umumnya ditandai dengan gigi anak yang menghitam. Hal ini biasanya terjadi akibat kebiasaan menyusu sambil tidur.

Kondisi yang juga dikenal sebagai karies botol ini disebabkan oleh adanya susu atau minuman mengandung gula yang menggenang pada rongga mulut dalam waktu lama.

Gula yang menempel pada gigi anak akan menyebabkan bakteri tumbuh subur. Perkembangan bakteri ini akan mengubah gula menjadi asam yang memicu gigi berlubang.

Gigi berlubang yang dibarengi perawatan gigi yang kurang baik sering waktu bisa membuat gigi anak menghitam dan membusuk.

3. Resesi gingiva

Resesi gingiva atau gusi turun pada umumnya jarang terjadi. Namun, sebuah studi mencatat adanya risiko hingga 18% pada anak-anak untuk mengalami kondisi ini.

Gusi turun ditandai dengan hilangnya jaringan gusi secara bertahap. Kondisi ini akan mengekspos akar gigi dan membuatnya tampak lebih panjang dari biasanya.

Pertumbuhan bakteri akibat minuman manis yang dibarengi perawatan gigi anak yang buruk lama-kelamaan bisa menyebabkan gusi turun.

Kondisi ini sering kali terjadi tidak bergejala pada tahap awal. Guna menghindari pengaruh buruk ini pada gigi anak, Anda sebaiknya melakukan pencegahan sejak dini dengan mengurangi pemakaian dot.

Bagaimana cara mencegah bahaya dot pada gigi anak?

berhenti pakai botol susu, berhenti pakai botol dot, berhenti pakai botol bayi

Mayo Clinic menyebutkan bahwa sebagian besar bayi punya refleks mengisap yang kuat. Hal ini akan memberikan efek menenangkan saat mereka mengisap sesuatu.

Meskipun tidak berbahaya, lagi-lagi perlu ditekankan bahwa penggunaan dot tidaklah dianjurkan kecuali terdapat kondisi khusus.

Adapun, beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan untuk menghindari pengaruh dot pada gigi anak yakni sebagai berikut.

1. Hindari berbagi dot

Jangan menggunakan dot yang sama untuk beberapa anak. Kebiasaan ini dapat membuat anak Anda terpapar bakteri yang menular melalui air liur (saliva).

Penularan bakteri ini memungkinkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan, seperti gigi berlubang pada anak hingga penyakit infeksi lainnya.

2. Pilih ukuran dot yang sesuai

Dot tersedia dalam berbagai ukuran sesuai dengan usia perkembangan bayi. Anda sebaiknya memilih dot bayi sesuai usianya untuk mengurangi risiko tersedak.

Umumnya, pilihan dot bayi tersedia mulai ukuran S untuk usia 0–3 bulan, ukuran M untuk usia 3–6 bulan, hingga ukuran L untuk usia 6 bulan ke atas.

3. Pertimbangkan dot ortodontik

Untuk menurunkan risiko pertumbuhan gigi yang tidak sejajar, saat ini juga tersedia dot ortodontik.

Sebuah studi dalam Orthodontics & Craniofacial Research (2016) menunjukkan penggunaan dot ortodontik bisa menurunkan risiko overbite daripada dot konvensional.

Meski begitu, penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter gigi anak untuk menentukan jenis dot yang tepat untuk menghindari efek sampingnya.

Kapan anak harus berhenti memakai dot?

kebiasaan empeng pada bayi, pengaruh dot pada gigi anak

Pada dasarnya, penggunaan dot atau empeng pada bayi tergolong aman apabila disesuaikan dengan kebutuhannya.

Untuk menghindari pengaruh dot pada gigi anak, Anda sebaiknya menghentikan penggunaanya setelah bayi berusia enam bulan hingga maksimal satu tahun.

Para ahli mengatakan bahwa berhenti memakai dot sebelum usia 2 tahun bisa membantu memulihkan pengaruh buruk pada gigi dalam waktu enam bulan setelah anak disapih.

Namun, anak berusia dua tahun ke atas yang masih terus-menerus memakai dot mungkin perlu peralatan ortodontik untuk memperbaiki masalah gigi yang muncul.

American Dental Association juga menganjurkan anak-anak berusia empat tahun ke atas untuk tidak mengisap ibu jari atau dot dalam bentuk apa pun.

Hal ini dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius. Ini lantaran pada periode usia tersebut, benih gigi permanen mulai tumbuh di bawah gigi susu.

Anda bisa memulai menggunakan media pengganti dot untuk susu, seperti sendok, pipet, cup feeder, maupun spuit (suntik tanpa jarum) yang nyaman bagi anak-anak.

Selain itu, Anda juga mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan berbagai mainan atau aktivitas menarik agar anak tidak lagi menggunakan empeng.

Jika Anda kesulitan untuk melepaskan dot atau empeng, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pacifiers: Are they good for your baby?. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 8 April 2022, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/pacifiers/art-20048140

Sexton, S., & Natale, R. (2009). Risks and Benefits of Pacifiers. American Academy of Family Physicians. Retrieved 8 April 2022, from https://www.aafp.org/afp/2009/0415/afp20090415p681.pdf

Thumb sucking and pacifier use. American Dental Association. (2007). Retrieved 8 April 2022, from https://www.mouthhealthy.org/~/media/ada/publications/files/patient_77.pdf?la=en

Baby Bottle Tooth Decay. American Dental Association. Retrieved 8 April 2022, from https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Malocclusion in Children. Stanford Children’s Health. Retrieved 8 April 2022, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=malocclusion-90-P01860

Gum Recession in Children. CT Pediatric Dentistry. Retrieved 8 April 2022, from http://www.ctkidsdentist.com/blog/gum-recession-in-children/

Moon, R. Y., Tanabe, K. O., Yang, D. C., Young, H. A., & Hauck, F. R. (2012). Pacifier use and SIDS: evidence for a consistently reduced risk. Maternal and child health journal, 16(3), 609–614. https://doi.org/10.1007/s10995-011-0793-x 

Wagner, Y., & Heinrich-Weltzien, R. (2016). Effect of a thin-neck pacifier on primary dentition: a randomized controlled trial. Orthodontics & craniofacial research, 19(3), 127–136. https://doi.org/10.1111/ocr.12126 

Nwhator, S. (2014). Gingival recession in a child-patient; Easily missed etiologies: Case report with video. Annals Of Medical And Health Sciences Research, 4(7), 18. https://doi.org/10.4103/2141-9248.131698

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa