Bolehkah Orangtua Cabut Gigi Susu Anak Tanpa ke Dokter?

Bolehkah Orangtua Cabut Gigi Susu Anak Tanpa ke Dokter?

Gigi susu biasanya akan tanggal sendirinya saat anak memasuki usia 6–7 tahun. Namun, gigi yang goyang kerap menimbulkan ketidaknyamanan pada anak, terutama saat makan. Kondisi ini membuat beberapa orangtua memilih untuk cabut gigi susu anak sendiri, dengan cara masing-masing.

Bolehkah orangtua cabut gigi susu anak tanpa bantuan dokter?

gigi susu copot

Orangtua boleh cabut gigi susu anak tanpa bantuan dokter. Meski begitu, beberapa hal harus diperhatikan sebelum melakukan tindakan ini.

Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum Anda mencabut gigi susu anak.

1. Anak telah berusia enam tahun ke atas

Mencabut gigi susu anak di usia terlalu dini bisa menyebabkan gigi baru tumbuh dalam kondisi bengkok. Maka dari itu, hindari cabut gigi secara paksa jika usia anak masih di bawah enam tahun.

2. Gigi sudah dalam keadaan hampir lepas

Sebelum melakukan pencabutan, pastikan gigi telah dalam keadaan benar-benar hampir lepas. Hal ini bertujuan untuk menghindari perdarahan dan rasa sakit yang parah akibat cabut gigi.

3. Gigi yang goyang tidak disebabkan kecelakaan

Jangan mencabut gigi yang goyang akibat kecelakaan atau masalah gigi tertentu tanpa bantuan dokter. Pencabutan gigi berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika dilakukan sendiri.

Agar lebih aman dan nyaman, orangtua sebaiknya melakukan cabut gigi susu anak ke dokter. Dengan begitu, pencabutan bisa dilakukan secara steril dan sesuai prosedur yang benar.

Cara mencabut gigi susu supaya tidak sakit

Cabut gigi susu anak tak boleh dilakukan sembarangan karena bisa menyebabkan komplikasi. Untuk percobaan awal, Anda bisa meminta anak untuk mendorong gigi menggunakan lidah.

Umumnya, gigi yang hampir lepas akan mudah tanggal dengan sedikit dorongan. Jika dorongan lidah tidak cukup kuat, Anda bisa mencabutnya dengan tangan.

Dilansir dari laman American Dental Association, berikut cara mencabut gigi susu supaya tidak sakit.

  1. Bersihkan tangan sebelum mencabut gigi. Tindakan ini berguna untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam luka.
  2. Tempelkan es batu pada gusi sekitar gigi yang hendak dicabut selama beberapa saat. Tujuannya agar gusi mati rasa saat dicabut.
  3. Dengan menggunakan tisu, tarik gigi dengan cara memutarnya. Jika gigi tidak kunjung lepas, jangan dipaksa karena hal itu menandakan belum saatnya gigi untuk tanggal.

Saat mencabut gigi, jangan mengikatnya dengan tali karena ini dapat menimbulkan rasa sakit dan masalah lain. Selain itu, jangan melanjutkan pencabutan jika anak merasakan sakit.

Agar lebih aman, Anda sebaiknya memeriksakan anak ke dokter gigi. Dengan begitu, prosedur pencabutan gigi bisa dilakukan secara aman dan nyaman.

Kapan cabut gigi susu sebaiknya dilakukan?

cabut gigi susu

Terkadang, dokter akan menyarankan cabut gigi susu anak meskipun gigi tidak goyang. Tindakan tersebut dilakukan jika terjadi masalah dalam pergantian gigi susu ke gigi permanen.

Proses cabut gigi susu mau tidak mau harus dilakukan ketika ada gangguan atau masalah pada rongga mulut sebagai berikut.

1. Gigi permanen tidak punya cukup ruang untuk tumbuh

Ukuran rahang yang kecil umumnya disertai dengan ukuran gigi susu yang kecil pula. Padahal, ukuran gigi dewasa yang tumbuh nantinya bisa saja jauh lebih besar daripada gigi susu.

Minimnya ruang membuat gigi dewasa yang baru keluar saling menumpuk dan terkesan tidak rapi. Bahkan, tak jarang gigi permanen sulit keluar karena tidak punya ruang untuk tumbuh.

Satu-satunya pilihan untuk memperbaiki struktur gigi seperti ini yaitu dengan pemasangan behel gigi. Tak hanya merapikan gigi, cara ini juga membantu memperbesar ukuran rahang yang minim.

2. Gigi susu tidak kunjung tanggal

Sebelum usia 17 tahun, seluruh gigi susu harusnya telah copot dan digantikan dengan gigi permanen. Sayangnya, tidak semua anak mengalami fase gigi tanggal sesuai waktunya.

Cabut gigi susu biasanya dijadikan pilihan jika gigi susu tidak tanggal sampai dewasa. Jika tidak dicabut, kemungkinan akan terjadi penumpukan gigi yang memicu rasa sakit.

3. Adanya infeksi yang merusak gigi

Saat gigi susu mengalami kerusakan akibat infeksi, masalah tersebut dapat meluas sampai ke pulpa. Dalam anatomi gigi, pulpa adalah lapisan paling dalam setelah enamel dan dentin.

Infeksi pada pulpa dapat mengakibatkan masalah serius. Apalagi, pulpa merupakan pusat atau inti gigi yang tersusun dari pembuluh darah, saraf, serta jaringan lunak lainnya.

Jika tidak dicabut, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh. Cabut gigi susu biasanya dilakukan ketika pemberian obat antibiotik tidak dapat menyembuhkan infeksi.

Serba-serbi terkait cabut gigi susu anak

  • Boleh dilakukan sendiri oleh orangtua, asalkan anak sudah berusia enam tahun ke atas, gigi sudah hampir lepas, dan tidak goyang karena kecelakaan atau penyakit tertentu.
  • Mencabut gigi harus dilakukan dengan tangan bersih untuk menghindari terjadinya infeksi.
  • Jangan memaksa untuk mencabut gigi jika anak merasa kesakitan.
  • Agar lebih aman, cabut gigi susu anak sebaiknya dilakukan oleh dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Should I Pull My Child’s Loose Tooth? – American Dental Association . (2022). Retrieved 26 October 2022, from https://www.mouthhealthy.org/en/ask-an-ada-dentist/removing-loose-tooth

Extractions (removal) of baby teeth. (2022). Retrieved 26 October 2022, from https://www.health.qld.gov.au/__data/assets/pdf_file/0026/364652/dental_07.pdf

When do children start losing baby teeth?. (2022). Retrieved 26 October 2022, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/expert-answers/baby-teeth/faq-20058532

Teeth development in children. (2022). Retrieved 26 October 2022, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/teeth-development-in-children

Reasons for dental extractions in children. (2001). Retrieved 26 October 2022, from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11340717/

Bansal, M., Gupta, N., Gupta, P., Arora, V., & Thakar, S. (2017). Reasons for extraction in primary teeth among 5-12 years school children in Haryana, India- A cross-sectional study. Journal Of Clinical And Experimental Dentistry, 0-0. doi: 10.4317/jced.53076

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.