Pasien Suspek COVID-19 Meninggal, Dipastikan Akibat Bakteri Pneumonia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Seorang pasien suspek COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi meninggal dunia. Pasien tersebut meninggal setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari. Meski demikian, faktor yang menyebabkan kematian bukanlah COVID-19, melainkan infeksi bakteri legionella yang menimbulkan keluhan mirip pneumonia.

Setiap tahun, pneumonia menjangkiti sekitar 450 juta orang di seluruh dunia. Menurut sebuah penelitian dalam jurnal The Lancet, pneumonia menyebabkan 3 juta kematian pada tahun 2016 dan merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyebabkan kematian. Lantas, apa yang membuat pneumonia begitu mematikan?

Bagaimana pneumonia menyebabkan kematian?

Cara Menggunakan Nebulizer untuk Orang dengan PPOK

Pneumonia merupakan penyakit pada paru-paru akibat infeksi virus, bakteri, atau jamur. Penyakit ini menyebabkan peradangan, penumpukan cairan, dan bahkan penumpukan nanah pada alveoli atau kantong udara berukuran kecil yang terdapat dalam paru-paru.

Pasien dengan tubuh yang sehat biasanya pulih dari pneumonia setelah menjalani perawatan selama 1-3 minggu. Namun, pneumonia juga dapat menyebabkan dampak yang lebih berbahaya, termasuk kematian pada orang-orang dengan kondisi tertentu.

Pneumonia berawal saat patogen (bibit penyakit) memasuki saluran pernapasan lewat batuk, bersin, atau bicara dalam jarak dekat dengan pasien yang terinfeksi. Keberadaan patogen lalu memicu peradangan dan pembengkakan pada alveoli dalam paru-paru.

Paru-paru berperan penting dalam pengiriman oksigen ke seluruh tubuh. Akan tetapi, peradangan dan pembengkakan membuat paru-paru tidak dapat berfungsi secara normal. Organ-organ vital akhirnya tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

111,455

Terkonfirmasi

68,975

Sembuh

5,236

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Pneumonia mungkin tidak langsung menyebabkan kematian, tapi penyakit ini membuat tubuh pasien terus mengeluarkan reaksi peradangan untuk melawan infeksi. Respons ini mengakibatkan penurunan tekanan darah dan semakin mengurangi aliran darah menuju organ-organ vital.

Organ-organ vital akhirnya kekurangan suplai darah dan oksigen sekaligus. Kombinasi keduanya lantas mengganggu fungsi jantung, ginjal, dan organ lain yang penting untuk menunjang kehidupan pasien. Hal ini akan membuat kondisi pasien semakin menurun.

Seiring waktu, pasien juga kesulitan bernapas karena alveoli dalam paru-parunya terisi oleh cairan atau nanah. Tanpa penanganan segera, pneumonia yang sangat parah bahkan dapat menyebabkan kematian dalam hitungan jam.

Faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat pneumonia

ppok eksaserbasi adalah

Siapa pun dapat mengalami pneumonia, tetapi ada sejumlah faktor yang meningkatkan risiko infeksi dan membuat penyakit ini menjadi lebih berbahaya. Faktor-faktor tersebut mencakup penyebab pneumonia, usia, kondisi kesehatan, gaya hidup, dan lingkungan.

Berikut faktor-faktor yang perlu diwaspadai:

1. Penyebab pneumonia

Setiap jenis pneumonia dapat menyebabkan kematian, tapi risikonya tergantung pada jenis kuman yang menyebabkan penyakit. Pneumonia akibat virus misalnya, cenderung ringan dan gejalanya muncul perlahan. Namun, infeksi virus bisa lebih rumit dibanding bakteri dan jamur.

Pneumonia bakteri biasanya lebih parah dan gejalanya bisa muncul secara tiba-tiba. Apabila tidak ditangani dengan baik, bakteri dapat memasuki aliran darah dan memicu komplikasi yang lebih berbahaya.

Sementara itu, pneumonia akibat jamur lebih banyak ditemukan pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Infeksi jamur juga dapat menimbulkan komplikasi parah seperti halnya pneumonia bakteri.

makanan untuk memperkuat imun

2. Usia

Pneumonia lebih sering menyebabkan kematian pada anak di bawah dua tahun, sebab sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sepenuhnya. Penyakit ini bahkan menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di Amerika Serikat, seperti dikutip dari American Thoracic Society.

Selain anak-anak, lansia berusia 65 tahun ke atas juga berisiko mengalami komplikasi parah akibat pneumonia. Pasalnya, lansia memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah sehingga sulit bagi tubuh mereka untuk melawan infeksi.

3. Kondisi medis yang sudah ada

Pneumonia kerap menyebabkan komplikasi berat dan kematian pada pasien yang telah mengidap penyakit parah atau memiliki kondisi medis tertentu. Berikut sejumlah kondisi yang perlu diwaspadai:

  • Penyakit yang menyerang paru-paru seperti asma, fibrosis kistik, dan penyakit paru obstruktif kronis.
  • Penyakit jantung, sel darah merah sabit, dan diabetes.
  • Baru saja mengalami pilek atau flu.
  • Menjalani perawatan intensif dan menggunakan ventilator untuk bernapas.
  • Mengalami kesulitan dalam batuk atau menelan sehingga liur dan sisa makanan dapat memasuki paru-paru, lalu memicu infeksi.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV atau AIDS, kemoterapi, penggunaan steroid, atau penyebab lainnya.

4. Lingkungan sekitar

Paparan jangka panjang polutan, zat kimia, dan asap rokok dapat meningkatkan risiko pneumonia dan komplikasinya. Selain kematian, pneumonia juga bisa menyebabkan komplikasi berupa:

  • meningitis (infeksi pada selaput otak)
  • bakteremia (kondisi masuknya bakteri ke dalam aliran darah)
  • gagal ginjal
  • kegagalan sistem pernapasan
  • sepsis (kondisi berbahaya akibat respons kekebalan tubuh secara besar-besaran untuk melawan infeksi)

5. Gaya hidup

Gaya hidup pasien turut memengaruhi tingkat keparahan pneumonia. Pneumonia dapat menyebabkan komplikasi berat dan kematian pada pasien yang menggunakan obat terlarang, merokok, serta mengonsumsi alkohol secara berlebihan. 

Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

Pneumonia dapat menimbulkan komplikasi parah pada pasien dengan kondisi tertentu, bahkan tidak jarang menyebabkan kematian. Penyakit ini juga merupakan salah satu komplikasi dari COVID-19 yang kini mewabah di sejumlah negara.

Meski pneumonia belum tentu menandakan COVID-19, jangan abaikan gejala yang muncul. Segera periksakan diri bila Anda mengalami gangguan pernapasan atau batuk yang tidak kunjung sembuh. Pemeriksaan dini amat penting untuk menunjang pemulihan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Atasi Rasa Cemas Saat Kembali ke Kantor di Tengah Pandemi

Rasa cemas yang muncul ketika harus kembali ke kantor di tengah pandemi COVID-19 adalah hal yang wajar. Bagaimana cara mengatasi kecemasan ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 05/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Vaksin yang Bisa Mencegah Pneumonia

Langkah penting dalam mencegah penyakit pneumonia adalah dengan mendapatkan vaksin. Terdapat 6 jenis vaksin yang mampu mencegah penyakit ini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, Pneumonia 04/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Penyebab Angka Kasus COVID-19 di Korea Selatan Kembali Melonjak

Lonjakan kasus COVID-19 di Korea Selatan kini tengah menjadi pusat perhatian dunia. Lantas, apa yang menyebabkan berita mengejutkan ini terjadi?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 04/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Potong Rambut di Salon Saat COVID-19 Ada Aturannya, Lho!

Pelonggaran aturan PSBB sudah mulai direncanakan. Sejumlah salon dan tempat cukur pun mulai dibuka. Amankah potong rambut di salon saat COVID-19?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vaksin pcv

Vaksin PCV : Ketahui Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Herbavid-19 COVID-19

WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 5 menit
menggunakan face shield

Perlukah Pelindung Wajah (Face Shield) Digunakan Sehari-hari?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/06/2020 . Waktu baca 5 menit
jenis-jenis pneumonia

Beda Jenisnya Beda Pula Obatnya, Kenali Macam-Macam Pneumonia Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 08/06/2020 . Waktu baca 7 menit