COVID-19 Menyebar Lewat Droplet Bukan Udara, Ini Penjelasannya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Penggunaan masker untuk mencegah penularan COVID-19 disinyalir tidak efektif bila yang memakainya adalah orang sehat. Alih-alih mengenakan masker, masyarakat lebih disarankan untuk menjaga kebersihan diri dan membatasi kontak dengan orang sakit. Pasalnya, penyebaran sebagian penyakit yang disebabkan coronavirus tidak melewati udara (airborne), melainkan droplet.

Penyebaran penyakit melalui udara dan droplet sering kali dikaitkan satu sama lain. Meskipun mirip, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Kemampuan penularan, jarak penyebaran, dan penyakit yang ditularkan juga bisa berbeda antara keduanya. Lantas, apa saja perbedaan tersebut?

Mengenal berbagai metode penyebaran penyakit

mengatasi bersin

Bakteri, virus, maupun kuman penyebab penyakit lainnya dapat menular melalui berbagai cara. Penularan penyakit dalam dunia medis dikenal sebagai transmisi. Setiap jenis bibit penyakit bisa menyebar dengan metode transmisi yang berbeda-beda.

Melansir American Animal Hospital Association, sejauh ini diketahui terdapat lima jenis transmisi, yakni:

  • Kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh penderita. Bibit penyakit memasuki tubuh orang yang sehat melalui mata, mulut, atau luka terbuka.
  • Melalui udara, baik secara langsung (airborne) ataupun droplet. Penyebaran via udara dan droplet biasanya terjadi pada penyakit saluran pernapasan.
  • Secara oral dari makanan, air, atau permukaan barang yang terkontaminasi. Kuman biasanya terdapat pada feses, urine, atau liur penderita.
  • Melalui vektor, yaitu makhluk hidup yang dapat menyebarkan penyakit seperti nyamuk, kutu, tikus, dan sebagainya.
  • Zoonosis, yang berarti dari hewan ke manusia. Transmisi zoonosis dapat terjadi melalui kontak langsung, udara, vektor, ataupun oral.

Dari berbagai jenis transmisi, penyebaran melalui kontak langsung adalah yang paling sering terjadi dan risikonya pun sangat tinggi. Namun, penyebaran melalui udara juga perlu diwaspadai karena dapat mencakup banyak orang sekaligus.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,940

Terkonfirmasi

7,637

Sembuh

1,641

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Perbedaan penyebaran penyakit melalui udara dan droplet

mengatasi pusing saat pilek

Penyebaran penyakit melalui udara terjadi ketika orang yang sakit berbicara, batuk, atau bersin sehingga mengeluarkan partikel-partikel kuman dari tubuhnya. Kuman lalu beterbangan di udara dan menempel pada mata, mulut, atau hidung orang yang sehat.

Jika kuman menyebar melalui udara, penularan penyakit dapat terjadi meski penderita tidak melakukan kontak langsung dengan orang yang sehat. Bahkan, kuman bisa saja menyebar ke udara ketika penderita mengembuskan napas.

Oleh karena kuman bisa bertahan di udara, penularan melalui udara cenderung sulit dikendalikan. Ini sebabnya penyakit airborne seperti cacar air serta tuberkulosis lebih sulit dicegah dan ditangani. Penularannya pun terbilang cepat dan mencakup area yang luas.

Penyebaran penyakit melalui udara dan droplet sering dianggap sama. Padahal, ada perbedaan di antara keduanya. Penyebaran melalui droplet terjadi ketika orang yang sakit batuk atau bersin sehingga mengeluarkan percikan cairan (droplet) mengandung kuman.

COVID-19

Apabila percikan cairan berisi kuman memasuki mata, mulut, atau hidung orang yang sehat, orang tersebut dapat tertular penyakit. Metode penularan seperti ini terjadi pada pilek, infeksi Ebola, serta COVID-19 yang saat ini mewabah di beberapa negara.

Sebelum COVID-19, wabah terparah yang mirip dengan penyebaran SARS-CoV-2 adalah MERS dan SARS. Kedua penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini juga diketahui menyebar lewat droplet, bukan udara. Sebagai contoh, penyebaran SARS dan MERS terjadi lewat kontak dekat satu orang ke orang lainnya. 

Namun, baru-baru ini WHO mengimbau petugas medis untuk meningkatkan kewaspadaannya karena virus COVID-19 disinyalir dapat bertahan di udara. Walaupun kekuatan virus mungkin tidak sampai dapat menularkan ke orang lain, Anda tetap perlu waspada dengan tetap menjaga jarak.

Penyebaran droplet biasanya terbatas sejauh satu meter. Namun, droplet juga dapat menempel pada permukaan benda, terutama kenop pintu, ponsel, dan pegangan tangga. Anda berisiko tertular penyakit bila memegang barang yang terkontaminasi, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan dengan sabun.

Mencegah penyebaran penyakit melalui udara dan droplet

terlalu sering mencuci tangan

Penyakit airborne memang sangat sulit dicegah, tetapi Anda dapat mengurangi risiko tertular COVID-19 dengan melakukan langkah-langkah berikut:

  • Membatasi kontak dekat dengan orang yang menunjukkan gejala COVID-19.
  • Tetap di rumah ketika Anda tidak enak badan.
  • Menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Jika tidak ada tisu, gunakan lengan baju Anda untuk menutup mulut dan hidung.
  • Mengenakan masker jika harus berada di antara kerumunan.
  • Tidak menyentuh wajah atau orang lain sebelum mencuci tangan.
  • Rutin mencuci tangan setidaknya selama 20 detik, terutama setelah batuk atau bersin.

Cara serupa juga dapat Anda lakukan untuk mencegah penularan penyakit melalui droplet. Akan tetapi, langkah terbaik untuk melakukan pencegahan sebenarnya adalah dengan rutin mencuci tangan dan membatasi kontak dekat dengan orang sakit.

COVID-19 pun menyebar melalui droplet. Jarak penularannya amat terbatas sehingga seseorang harus berjarak kurang dari 2 meter dari penderita untuk bisa tertular. Inilah mengapa Anda dapat mencegah COVID-19 dengan cara yang sama seperti mencegah flu, pilek, maupun penyakit lainnya yang menular dengan transmisi serupa.

Sementara itu, penggunaan masker lebih disarankan bagi orang yang sakit sehingga berisiko menulari orang lain. Jika tubuh Anda cukup sehat, Anda sudah bisa melindungi diri lewat cuci tangan secara rutin serta membatasi kontak dengan sumber infeksi.

Efek Coronavirus COVID-19 pada Lansia, Ibu Hamil hingga Anak

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020