COVID-19 Menyebar Lewat Droplet Bukan Udara, Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Penggunaan masker untuk mencegah penularan COVID-19 disinyalir tidak efektif bila yang memakainya adalah orang sehat. Alih-alih mengenakan masker, masyarakat lebih disarankan untuk menjaga kebersihan diri dan membatasi kontak dengan orang sakit. Pasalnya, penyebaran sebagian penyakit yang disebabkan coronavirus tidak melewati udara (airborne), melainkan droplet.

Penyebaran penyakit melalui udara dan droplet sering kali dikaitkan satu sama lain. Meskipun mirip, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Kemampuan penularan, jarak penyebaran, dan penyakit yang ditularkan juga bisa berbeda antara keduanya. Lantas, apa saja perbedaan tersebut?

Mengenal berbagai metode penyebaran penyakit

mengatasi bersin

Bakteri, virus, maupun kuman penyebab penyakit lainnya dapat menular melalui berbagai cara. Penularan penyakit dalam dunia medis dikenal sebagai transmisi. Setiap jenis bibit penyakit bisa menyebar dengan metode transmisi yang berbeda-beda.

Melansir American Animal Hospital Association, sejauh ini diketahui terdapat lima jenis transmisi, yakni:

  • Kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh penderita. Bibit penyakit memasuki tubuh orang yang sehat melalui mata, mulut, atau luka terbuka.
  • Melalui udara, baik secara langsung (airborne) ataupun droplet. Penyebaran via udara dan droplet biasanya terjadi pada penyakit saluran pernapasan.
  • Secara oral dari makanan, air, atau permukaan barang yang terkontaminasi. Kuman biasanya terdapat pada feses, urine, atau liur penderita.
  • Melalui vektor, yaitu makhluk hidup yang dapat menyebarkan penyakit seperti nyamuk, kutu, tikus, dan sebagainya.
  • Zoonosis, yang berarti dari hewan ke manusia. Transmisi zoonosis dapat terjadi melalui kontak langsung, udara, vektor, ataupun oral.

Dari berbagai jenis transmisi, penyebaran melalui kontak langsung adalah yang paling sering terjadi dan risikonya pun sangat tinggi. Namun, penyebaran melalui udara juga perlu diwaspadai karena dapat mencakup banyak orang sekaligus.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

392,934

Terkonfirmasi

317,672

Sembuh

13,411

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Perbedaan penyebaran penyakit melalui udara dan droplet

mengatasi pusing saat pilek

Penyebaran penyakit melalui udara terjadi ketika orang yang sakit berbicara, batuk, atau bersin sehingga mengeluarkan partikel-partikel kuman dari tubuhnya. Kuman lalu beterbangan di udara dan menempel pada mata, mulut, atau hidung orang yang sehat.

Jika kuman menyebar melalui udara, penularan penyakit dapat terjadi meski penderita tidak melakukan kontak langsung dengan orang yang sehat. Bahkan, kuman bisa saja menyebar ke udara ketika penderita mengembuskan napas.

Oleh karena kuman bisa bertahan di udara, penularan melalui udara cenderung sulit dikendalikan. Ini sebabnya penyakit airborne seperti cacar air serta tuberkulosis lebih sulit dicegah dan ditangani. Penularannya pun terbilang cepat dan mencakup area yang luas.

Penyebaran penyakit melalui udara dan droplet sering dianggap sama. Padahal, ada perbedaan di antara keduanya. Penyebaran melalui droplet terjadi ketika orang yang sakit batuk atau bersin sehingga mengeluarkan percikan cairan (droplet) mengandung kuman.

COVID-19

Apabila percikan cairan berisi kuman memasuki mata, mulut, atau hidung orang yang sehat, orang tersebut dapat tertular penyakit. Metode penularan seperti ini terjadi pada pilek, infeksi Ebola, serta COVID-19 yang saat ini mewabah di beberapa negara.

Sebelum COVID-19, wabah terparah yang mirip dengan penyebaran SARS-CoV-2 adalah MERS dan SARS. Kedua penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini juga diketahui menyebar lewat droplet, bukan udara. Sebagai contoh, penyebaran SARS dan MERS terjadi lewat kontak dekat satu orang ke orang lainnya. 

Namun, baru-baru ini WHO mengimbau petugas medis untuk meningkatkan kewaspadaannya karena virus COVID-19 disinyalir dapat bertahan di udara. Walaupun kekuatan virus mungkin tidak sampai dapat menularkan ke orang lain, Anda tetap perlu waspada dengan tetap menjaga jarak.

Penyebaran droplet biasanya terbatas sejauh satu meter. Namun, droplet juga dapat menempel pada permukaan benda, terutama kenop pintu, ponsel, dan pegangan tangga. Anda berisiko tertular penyakit bila memegang barang yang terkontaminasi, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan dengan sabun.

Mencegah penyebaran penyakit melalui udara dan droplet

terlalu sering mencuci tangan

Penyakit airborne memang sangat sulit dicegah, tetapi Anda dapat mengurangi risiko tertular COVID-19 dengan melakukan langkah-langkah berikut:

  • Membatasi kontak dekat dengan orang yang menunjukkan gejala COVID-19.
  • Tetap di rumah ketika Anda tidak enak badan.
  • Menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Jika tidak ada tisu, gunakan lengan baju Anda untuk menutup mulut dan hidung.
  • Mengenakan masker jika harus berada di antara kerumunan.
  • Tidak menyentuh wajah atau orang lain sebelum mencuci tangan.
  • Rutin mencuci tangan setidaknya selama 20 detik, terutama setelah batuk atau bersin.

Cara serupa juga dapat Anda lakukan untuk mencegah penularan penyakit melalui droplet. Akan tetapi, langkah terbaik untuk melakukan pencegahan sebenarnya adalah dengan rutin mencuci tangan dan membatasi kontak dekat dengan orang sakit.

COVID-19 pun menyebar melalui droplet. Jarak penularannya amat terbatas sehingga seseorang harus berjarak kurang dari 2 meter dari penderita untuk bisa tertular. Inilah mengapa Anda dapat mencegah COVID-19 dengan cara yang sama seperti mencegah flu, pilek, maupun penyakit lainnya yang menular dengan transmisi serupa.

Sementara itu, penggunaan masker lebih disarankan bagi orang yang sakit sehingga berisiko menulari orang lain. Jika tubuh Anda cukup sehat, Anda sudah bisa melindungi diri lewat cuci tangan secara rutin serta membatasi kontak dengan sumber infeksi.

Efek Coronavirus COVID-19 pada Lansia, Ibu Hamil hingga Anak

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan penduduk suatu kota dapat memengaruhi lama waktu pandemi COVID-19 berlangsung. Kota besar diprediksi bakal lebih lama mengalami pandemi, mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Di tengah pandemi COVID-19, China juga sedang diserang wabah lain dari infeksi norovirus yakni penyakit yang menyebabkan peradangan usus.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Luar Negeri, Berita 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kebiasaan mencuci tangan covid-19

Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit