Mengapa Ada Orang Percaya pada Teori Konspirasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Semakin dalam menjelajah di internet, Anda akan menemukan semakin banyak teori konspirasi. Teori konspirasi tampaknya begitu sulit dipercaya, tapi ternyata masih banyak orang yang percaya bahwa bumi itu datar, vaksin menyebabkan autisme, atau pandemi COVID-19 adalah senjata biologis yang dibuat dengan sengaja.

Perkembangan teknologi memang ibarat pedang bermata dua. Anda dapat mengakses informasi yang tak terbatas. Di sisi lain, informasi yang belum jelas kebenarannya pun semakin banyak beredar. Sebenarnya, apa yang membuat seseorang percaya pada teori konspirasi?

Mengapa seseorang bisa percaya teori konspirasi?

berita hoax

Ada banyak alasan yang membuat seseorang atau kelompok mudah memercayai teori konspirasi. Menurut sebuah penelitian dalam jurnal Current Directions in Psychological Science, alasan-alasan tersebut dapat dirangkum menjadi tiga motif berikut:

1. Keinginan untuk paham dan mengetahui secara pasti

Manusia secara alamiah ingin memahami penjelasan dari suatu hal atau peristiwa. Ada orang yang ingin tahu bagaimana cara vaksin dibuat, dari mana asal virus penyebab COVID-19, seperti apa bentuk bumi yang sesungguhnya, dan masih banyak lagi.

Namun, orang cenderung mencari jawaban yang cepat, bukan jawaban dari penelitian ilmiah yang sulit dicerna dan bisa berubah bila ada penelitian baru. Jawaban cepat itu belum tentu benar, tapi memberikan rasa nyaman dan kesannya sangat menyeluruh.

Sebagai contoh, Anda mungkin merasa tidak nyaman saat tidak tahu apa pun tentang COVID-19. Berita yang simpang-siur membuat Anda kian bingung dan was-was. Pada saat inilah, teori konspirasi muncul untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,165

Terkonfirmasi

5,877

Sembuh

1,418

Meninggal Dunia

Anda awalnya akan mencari informasi dari internet, buku, atau siaran yang mendukung teori tersebut. Lambat laun, teori ini pun membekas dalam pikiran Anda. Meskipun tidak benar, setidaknya Anda kini mengetahui sesuatu yang lebih pasti.

Padahal, sesuatu yang pasti tersebut mungkin saja membuat Anda semakin keliru. Jika tidak dibarengi dengan informasi dari sumber yang tepercaya, Anda mungkin tidak akan sadar bahwa Anda percaya pada teori konspirasi.

2. Keinginan untuk memegang kendali dan merasa aman

Selain senang bertanya, manusia juga senang memegang kendali atas hidupnya. Inilah yang membuat Anda merasa aman, stabil, dan tenang menjalani kehidupan sehari-hari. Pada kasus ini, kendali yang Anda cari berbentuk informasi.

Teori konspirasi membuat orang-orang yang memercayainya merasa aman dan punya kendali. Fenomena ini biasanya lebih kentara ketika teori konspirasi tersebut berkaitan dengan hal-hal yang mengancam kesejahteraan diri.

Sebagai gambaran, jika pemanasan global disebabkan oleh kegiatan manusia, artinya Anda harus mengubah gaya hidup untuk mencegahnya semakin parah. Bagi beberapa orang, perubahan ini mungkin terasa sulit, tidak nyaman, dan merepotkan.

Akan tetapi, Anda tak perlu mengubah gaya hidup bila pemanasan global adalah hoaks yang dikarang para elit politik penguasa dunia. Keyakinan ini memberikan rasa aman dan kendali atas hidup. Akhirnya, banyak orang memilih percaya pada hoaks atau teori konspirasi.

cemas covid-19

3. Keinginan untuk terlihat positif

cara agar terlihat pintar

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa terpinggirkan atau tidak dianggap cenderung percaya pada teori konspirasi. Ini disebabkan karena mereka ingin memiliki peran dalam masyarakat dan ingin terlihat positif bagi orang lain.

Citra positif seseorang biasanya berasal dari perannya, entah dalam bentuk pekerjaan, hubungan sosial, dan lain-lain. Ketika Anda tahu bahwa Anda bisa memberikan sesuatu (termasuk informasi) kepada orang lain, Anda merasa lebih bahagia dan berguna.

Sebaliknya, Anda tidak merasakan ini bila opini Anda tidak pernah didengar, misalnya karena Anda tidak bekerja atau dianggap tidak tahu apa-apa. Ketika Anda menemukan teori konspirasi dan menyebarkannya, Anda merasa memiliki pengetahuan baru.

Anda pun menggali lebih dalam tentang teori konspirasi yang Anda temukan, contohnya teori bahwa bumi itu datar. Namun, Anda tidak mengimbanginya dengan fakta-fakta dari sumber ilmiah karena Anda sudah telanjur percaya pada teori konspirasi tersebut.

Begini Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan Sekitar

Pada dasarnya, orang-orang meyakini teori konspirasi karena mereka ingin memahami dunia, merasa aman dan punya kendali, serta memiliki citra diri yang baik. Mereka ingin mencari kebenaran, seperti halnya ilmuwan dengan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Bedanya, penganut teori konspirasi hanya melihat suatu hal atau kejadian dari sisi yang ia yakini. Padahal, ilmu pengetahuan terus berkembang. Guna mencari kebenaran yang sesungguhnya, manusia tentu harus terus belajar hal baru dari waktu ke waktu.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Why Do People Believe in Conspiracy Theories?. (2020). Retrieved 4 May 2020, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/talking-apes/201801/why-do-people-believe-in-conspiracy-theories

Douglas, K., Sutton, R., & Cichocka, A. (2017). The Psychology of Conspiracy Theories. Current Directions In Psychological Science, 26(6), 538-542. doi: 10.1177/0963721417718261

A psychologist explains why people cling to conspiracy theories during uncertainty and after traumatic events. (2020). Retrieved 4 May 2020, from https://www.businessinsider.com/psychologist-explains-why-people-believe-conspiracy-theories-during-uncertain-times-2020-4?IR=T 

Yang juga perlu Anda baca

Permen Anak-anak Mengandung Narkoba, Hoax Atau Fakta?

Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan soal isu permen mengandung narkoba yang dikonsumsi anak-anak. Ini cuma hoax atau justru fakta? Simak penjelasannya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

Jangan Mau Ditipu! Ini Alasan Orang Mudah Percaya Berita Hoax

Berita hoax di Internet memang selalu bikin resah, tapi herannya masih banyak saja yang percaya. Ups, ternyata otak manusia yang jadi penyebabnya, lho!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

Paracetamol Mengandung Virus Machupo yang Mematikan: Hoax Atau Fakta?

Dewasa ini gempar isu obat paracetamol mengandung virus Machupo yang fatal. Padahal, tak ada bukti ilmiahnya. Cari tahu kebenarannya di sini, yuk!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

Direkomendasikan untuk Anda

3 Alasan Psikologis yang Membuat Orang Percaya dengan Sekte Tertentu

3 Alasan Psikologis yang Membuat Orang Percaya dengan Sekte Tertentu

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 17/01/2020
Hentikan Penyebaran Berita Hoaks yang Merugikan dengan 4 Tips Ini

Hentikan Penyebaran Berita Hoaks yang Merugikan dengan 4 Tips Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/11/2019
5 Cara Bijak Menyikapi Berita Hoax dan Negatif Agar Tidak Stres

5 Cara Bijak Menyikapi Berita Hoax dan Negatif Agar Tidak Stres

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 16/11/2017
Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2017