Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi COVID-19 kini telah menyebabkan jutaan kasus di seluruh dunia dan ratusan orang meninggal dunia. Banyak hal yang belum diketahui dari penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini membuat kabar-kabar yang belum dipastikan kebenarannya beredar. Salah satu mitos COVID-19 yang paling populer adalah minum alkohol dapat membunuh coronavirus. 

Simak penjelasan di bawah ini untuk mengetahui lebih lengkapnya.

Benarkah minum alkohol bisa membunuh coronavirus?

rum adalah minuman beralkohol

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan ke seluruh masyarakat bahwa kabar minum alkohol dapat membunuh coronavirus adalah mitos belaka. Sebaliknya, konsumsi alkohol yang berlebihan, terutama di tengah pandemi COVID-19 justru dapat membahayakan kesehatan tubuh.

Menurut laporan dari sejumlah media angka kematian akibat konsumsi alkohol berlebihan meningkat selama pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan beredarnya kabar tentang minum alkohol yang dapat melindungi tubuh dari penularan virus.

Alkohol pada konsentrasi minimal 60% memang dapat berfungsi sebagai desinfektan pada kulit. Akan tetapi, alkohol tidak berdampak demikian ketika dikonsumsi dan dicerna oleh tubuh.

Selain minum alkohol, menghirup senyawa etanol pun disinyalir dapat membunuh coronavirus dengan membersihkan mulut dan tenggorokan. Faktanya pun tidak demikian.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

381,910

Terkonfirmasi

305,100

Sembuh

13,077

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Bahkan, beberapa orang percaya bahwa alkohol yang sudah didistilasi seperti bir dan anggur dapat merangsang kekebalan dan resistensi tubuh terhadap virus. Padahal, Kupas Tuntas Efek Nyata Bahaya Alkohol Pada Tubuh: Kerusakan Jantung Hingga Ginjal justru berdampak sebaliknya dan membuat Anda lebih rentan terhadap penyakit.

Maka dari itu, parah ahli dan pemerintah meminta masyarakat untuk tidak langsung percaya dengan berita-berita yang tersebar via media sosial. Ada kalanya berita yang disebarkan lewat WhatsApp atau platform digital lainnya berisi hoaks alias bohong belaka, termasuk konsumsi alkohol ini.

WHO minta konsumsi alkohol dibatasi saat karantina

efek alkohol pada otak

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa minum alkohol tidak dapat membunuh coronavirus yang ada di dalam tubuh. Walaupun demikian, masih ada banyak orang yang tetap mengonsumsinya secara berlebihan, terutama saat pandemi COVID-19 berlangsung.

Ada banyak hal yang menjadi faktor penyebab kondisi ini, seperti dampak dari physical distancing dan menjalani kebiasaan ‘normal’ baru. Bahkan, WHO telah memperingatkan untuk membatasi konsumsi alkohol saat lockdown dilakukan, terutama di negara-negara Eropa.

Di samping menyimpan stok bahan makanan, masyarakat di negara Eropa juga membeli anggur dan bir dalam jumlah yang banyak. Pembelian dalam jumlah banyak ini bertujuan untuk persiapan ketika terjebak di rumah.

Sayangnya, tren minum alkohol saat karantina di rumah ini juga membuat fenomena lainnya, yaitu membagikan resep minuman beralkohol yang dicampur dengan suplemen vitamin. Sementara itu, mencampurkan alkohol dengan obat-obatan tertentu justru bisa menimbulkan efek samping.

cara sehat karantina diri COVID-19

Mulai dari mual, muntah, sakit kepala, hingga pingsan. Tren mencampurkan alkohol dengan suplemen vitamin mungkin bukan pilihan yang tepat mengingat etanol dalam minuman tidak dapat membunuh coronavirus.

Efek alkohol terhadap sistem kekebalan tubuh

pengaruh alkohol

Alasan lain mengapa minum alkohol justru tidak membunuh coronavirus, melainkan membahayakan kesehatan tubuh adalah dampaknya terhadap sistem kekebalan. 

Begini, konsumsi alkohol terlalu banyak dapat mengganggu sistem pencernaan Anda. Akibatnya, fungsi bakteri baik di usus pun berubah. Kondisi ini juga dapat merusak sel-sel kekebalan utama di paru dan sel epitel yang melapisi organ pernapasan ini. 

Kebanyakan orang mungkin tidak tahu bahwa kerusakan paru yang disebabkan oleh alkohol tidak terdeteksi. Hal ini ternyata bisa menyebabkan penyakit paru yang lebih parah. Maka dari itu, masyarakat diminta untuk mengurangi minum alkohol, terutama selama pandemi COVID-19.

Bagaimana membatasi konsumsi alkohol selama pandemi?

tes alkohol

Bagi beberapa orang mungkin merasa stres selama menjalani karantina di rumah atau menerapkan physical distancing. Tidak sedikit dari mereka yang berusaha mengalihkan stres tersebut dengan minum alkohol meskipun tahu tidak dapat membunuh coronavirus di tubuh. 

Padahal konsumsi alkohol saat situasi genting seperti ini dapat membahayakan kesehatan tubuh dan orang sekitar. Maka dari itu, Anda sebaiknya mulai dari sekarang membatasi konsumsi alkohol, terutama selama menjalani karantina di rumah. 

Berikut ini ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghindari alkohol selama pandemi berlangsung. 

  • tetap menjalani aktivitas dan aturan seperti bekerja di kantor, yaitu tidak minum alkohol
  • tidak menyimpan stok alkohol di rumah
  • menghabiskan waktu dan uang untuk membeli dan memasak makanan sehat
  • mengalihkan waktu luang dengan berolahraga di rumah

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

Pengaruh alkohol terhadap kesehatan tubuh memang tidak begitu baik, terutama di masa pandemi yang membuat semua orang khawatir dan waspada.

Terlebih lagi beredarnya berita tentang minum alkohol dapat membunuh coronavirus membuat tingkat konsumsi meningkat. Agar Anda bisa menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain, cobalah untuk membatasi alkohol selama karantina di rumah.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Di tengah pandemi COVID-19, China juga sedang diserang wabah lain dari infeksi norovirus yakni penyakit yang menyebabkan peradangan usus.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Luar Negeri, Berita 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
kepadatan kota memengaruhi covid-19

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit