Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi COVID-19 kini telah menyebabkan jutaan kasus di seluruh dunia dan ratusan orang meninggal dunia. Banyak hal yang belum diketahui dari penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini membuat kabar-kabar yang belum dipastikan kebenarannya beredar. Salah satu mitos COVID-19 yang paling populer adalah minum alkohol dapat membunuh coronavirus. 

Simak penjelasan di bawah ini untuk mengetahui lebih lengkapnya.

Benarkah minum alkohol bisa membunuh coronavirus?

rum adalah minuman beralkohol

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan ke seluruh masyarakat bahwa kabar minum alkohol dapat membunuh coronavirus adalah mitos belaka. Sebaliknya, konsumsi alkohol yang berlebihan, terutama di tengah pandemi COVID-19 justru dapat membahayakan kesehatan tubuh.

Menurut laporan dari sejumlah media angka kematian akibat konsumsi alkohol berlebihan meningkat selama pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan beredarnya kabar tentang minum alkohol yang dapat melindungi tubuh dari penularan virus.

Alkohol pada konsentrasi minimal 60% memang dapat berfungsi sebagai desinfektan pada kulit. Akan tetapi, alkohol tidak berdampak demikian ketika dikonsumsi dan dicerna oleh tubuh.

Selain minum alkohol, menghirup senyawa etanol pun disinyalir dapat membunuh coronavirus dengan membersihkan mulut dan tenggorokan. Faktanya pun tidak demikian.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,165

Terkonfirmasi

5,877

Sembuh

1,418

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Bahkan, beberapa orang percaya bahwa alkohol yang sudah didistilasi seperti bir dan anggur dapat merangsang kekebalan dan resistensi tubuh terhadap virus. Padahal, bahaya dari konsumsi alkohol berlebihan justru berdampak sebaliknya dan membuat Anda lebih rentan terhadap penyakit.

Maka dari itu, parah ahli dan pemerintah meminta masyarakat untuk tidak langsung percaya dengan berita-berita yang tersebar via media sosial. Ada kalanya berita yang disebarkan lewat WhatsApp atau platform digital lainnya berisi hoaks alias bohong belaka, termasuk konsumsi alkohol ini.

WHO minta konsumsi alkohol dibatasi saat karantina

efek alkohol pada otak

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa minum alkohol tidak dapat membunuh coronavirus yang ada di dalam tubuh. Walaupun demikian, masih ada banyak orang yang tetap mengonsumsinya secara berlebihan, terutama saat pandemi COVID-19 berlangsung.

Ada banyak hal yang menjadi faktor penyebab kondisi ini, seperti dampak dari physical distancing dan menjalani kebiasaan ‘normal’ baru. Bahkan, WHO telah memperingatkan untuk membatasi konsumsi alkohol saat lockdown dilakukan, terutama di negara-negara Eropa.

Di samping menyimpan stok bahan makanan, masyarakat di negara Eropa juga membeli anggur dan bir dalam jumlah yang banyak. Pembelian dalam jumlah banyak ini bertujuan untuk persiapan ketika terjebak di rumah.

Sayangnya, tren minum alkohol saat karantina di rumah ini juga membuat fenomena lainnya, yaitu membagikan resep minuman beralkohol yang dicampur dengan suplemen vitamin. Sementara itu, mencampurkan alkohol dengan obat-obatan tertentu justru bisa menimbulkan efek samping.

cara sehat karantina diri COVID-19

Mulai dari mual, muntah, sakit kepala, hingga pingsan. Tren mencampurkan alkohol dengan suplemen vitamin mungkin bukan pilihan yang tepat mengingat etanol dalam minuman tidak dapat membunuh coronavirus.

Efek alkohol terhadap sistem kekebalan tubuh

pengaruh alkohol

Alasan lain mengapa minum alkohol justru tidak membunuh coronavirus, melainkan membahayakan kesehatan tubuh adalah dampaknya terhadap sistem kekebalan. 

Begini, konsumsi alkohol terlalu banyak dapat mengganggu sistem pencernaan Anda. Akibatnya, fungsi bakteri baik di usus pun berubah. Kondisi ini juga dapat merusak sel-sel kekebalan utama di paru dan sel epitel yang melapisi organ pernapasan ini. 

Kebanyakan orang mungkin tidak tahu bahwa kerusakan paru yang disebabkan oleh alkohol tidak terdeteksi. Hal ini ternyata bisa menyebabkan penyakit paru yang lebih parah. Maka dari itu, masyarakat diminta untuk mengurangi minum alkohol, terutama selama pandemi COVID-19.

Bagaimana membatasi konsumsi alkohol selama pandemi?

tes alkohol

Bagi beberapa orang mungkin merasa stres selama menjalani karantina di rumah atau menerapkan physical distancing. Tidak sedikit dari mereka yang berusaha mengalihkan stres tersebut dengan minum alkohol meskipun tahu tidak dapat membunuh coronavirus di tubuh. 

Padahal konsumsi alkohol saat situasi genting seperti ini dapat membahayakan kesehatan tubuh dan orang sekitar. Maka dari itu, Anda sebaiknya mulai dari sekarang membatasi konsumsi alkohol, terutama selama menjalani karantina di rumah. 

Berikut ini ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghindari alkohol selama pandemi berlangsung. 

  • tetap menjalani aktivitas dan aturan seperti bekerja di kantor, yaitu tidak minum alkohol
  • tidak menyimpan stok alkohol di rumah
  • menghabiskan waktu dan uang untuk membeli dan memasak makanan sehat
  • mengalihkan waktu luang dengan berolahraga di rumah

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

Pengaruh alkohol terhadap kesehatan tubuh memang tidak begitu baik, terutama di masa pandemi yang membuat semua orang khawatir dan waspada.

Terlebih lagi beredarnya berita tentang minum alkohol dapat membunuh coronavirus membuat tingkat konsumsi meningkat. Agar Anda bisa menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain, cobalah untuk membatasi alkohol selama karantina di rumah.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 21, 2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Waspadai Risiko Penularan COVID-19 di Kendaraan Umum

Bagi pengguna moda transportasi umum serta taksi dan ojek online, simak panduan berikut agar terhindar penularan COVID-19 di kendaraan umum.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit kawasaki covid-19 anak

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Mei 24, 2020
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 24, 2020
dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020
gerak jalan saat pandemi

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal tayang Mei 22, 2020