Berbagai Komplikasi Lupus yang Mungkin Terjadi dan Harus Diwaspadai

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar mengenai penyakit lupus sebelumnya? Lupus adalah penyakit rematik autoimun dengan diagnosis awal yang tidak mudah. Ini karena gejala lupus tampak sangat ringan di awal sehingga kerap kali disepelekan. Padahal jika terus dibiarkan tanpa pengobatan, tidak menutup kemungkinan lupus bisa menimbulkan berbagai komplikasi di kemudian hari.

Sudahkah Anda tahu mengenai komplikasi yang dapat muncul karena lupus? Berikut saya paparkan informasi lebih lengkapnya.

Komplikasi lupus yang mungkin terjadi

Sama halnya seperti penyakit autoimun lainnya, lupus adalah penyakit yang bisa timbul ketika sel imun menyerang sel dan jaringan tubuh yang sehat.

Padahal seharusnya, sel imun bertugas untuk menjaga sel dan jaringan tubuh sekaligus melawan infeksi virus, bakteri, dan benda asing lainnya.

Gejala lupus sendiri biasanya berbeda-beda antara setiap individu yang mengalaminya. Itulah mengapa lupus disebut sebagai penyakit seribu wajah.

Meski ringan di awal, gejala lupus yang tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada munculnya beragam komplikasi. Beberapa komplikasi lupus adalah sebagai berikut:

1. Gangguan saluran cerna

Misoprostol adalah

Sekitar 50% pasien lupus bisa mengalami gangguan saluran cerna dalam taraf ringan maupun berat. Bahkan, meski terbilang jarang, sekitar 10% gejala pertama lupus bisa ditandai dengan gangguan saluran cerna.

Agar lebih jelasnya, komplikasi lupus pada saluran cerna yakni:

Rongga mulut

Kurang lebih sekitar 50 persen komplikasi lupus bisa menimbulkan ulkus atau luka menyerupai sariawan yang umumnya tidak nyeri.

Selain adanya luka sariawan, rongga mulut orang dengan lupus (ODAPUS) juga bisa sangat kering. Kondisi ini dikenal dengan nama sindrom sjogren sekunder.

Kerongkongan (esofagus) dan lambung

Tidak sedikit ODAPUS yang mengeluhkan nyeri dada, rasa terbakar di dada (heartburn), hingga nyeri saat menelan makanan dan minuman.

Gangguan menelan termasuk komplikasi lupus karena adanya masalah dalam pergerakan otot-otot kerongkongan serta kurangnya produksi air liur.

ODAPUS juga bisa mengalami naiknya asam lambung ke kerongkongan disertai dengan heartburn atau dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD).

Cairan dalam rongga perut (asites)

Orang dengan lupus (ODAPUS) biasanya mengeluhkan adanya penumpukan cairan di dalam rongga perut (asites).

Sejumlah cairan ini berasal dari selaput tipis di dalam rongga perut. Kondisi ini memang cukup sering terjadi pada pengidap lupus.

Pankreas

Komplikasi radang pankreas (pankreatitis) dapat dialami oleh sekitar 0,9-4,2% ODAPUS. Penyebab radang pankreas pada pasien lupus dapat disebabkan oleh kondisi lupus yang aktif, kadar trigliserida tinggi, batu empedu, minum alkohol, hingga infeksi virus.

ODAPUS yang mengalami pankreas biasanya mengeluhkan nyeri perut hebat yang bisa terasa sampai ke punggung. Gejala lain juga dapat berupa mual, muntah, dan demam.

Radang pankreas pada pasien lupus sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal bila terlambat didiagnosis. Itu sebabnya, kondisi ini sebaiknya segera diobati dan tidak boleh disepelekan.

Hati

Komplikasi hati pada pengidap lupus biasanya meliputi hepatitis autoimun dan peningkatan enzim hati SGOT serta SGPT.

Tingginya kadar SGOT dan SGPT dapat menandakan adanya gangguan pada fungsi hati, tetapi sering kali tidak menunjukkan gejala dan dapat sembuh sendirinya.

Sementara gejala hepatitis autoimun bisa meliputi mual, muntah, demam, dan nyeri sendi.

2. Kelainan paru-paru

dada sakit saat pms

Selain berdampak pada saluran cerna, komplikasi lupus juga bisa menyerang paru-paru sebagai salah satu organ pernapasan.

Nah, berikut penjelasan mengenai komplikasi lupus pada paru-paru:

Pleuritis dan efusi pleura

Pleuritis merupakan kondisi yang disebabkan oleh adanya peradangan pada selaput pembungkus paru. Sementara efusi pelura sendiri adalah hadirnya cairan berlebih pada rongga di antara dua lapisan pleura.

Kondisi ini bisa dialami pada sekitar 34% pengidap lupus.

Pneumonitis lupus akut

Pneumonitis bukanlah komplikasi lupus biasa. Kondisi ini terbilang jarang terjadi dan gejalanya kerap mucul secara tiba-tiba.

Berbeda dengan pneumonitis biasanya yang disebabkan oleh bakteri dan jamur, pneumonitis sebagai komplikasi lupus dikarenakan penyakit lupus itu sendiri.

Pneumonitis ini membuat hadirnya bercak-bercak dan timbunan cairan pada paru-paru orang dengan lupus (ODAPUS) mengalami bercak-bercak.

Hipertensi arteri pulmonal

Sedikit berbeda dengan beberapa komplikasi lupus sebelumnya, angka kejadian hipertensi pulmonal pada lupus cukup sering yakni sekitar 9,3-14 persen.

Hipertensi arteri pulmonal merupakan bentuk komplikasi lain yang terjadi dari lupus. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pada arteri pulmonalis.

Arteri pulmonalis adalah pembuluh darah besar yang membawa oksigen dari darah ke paru-paru. Hipertensi pulmonal dapat menyebabkan hanya sedikit darah yang masuk ke dalam paru-paru.

Hal ini membuat oksigen di dalam aliran darah ke paru-paru menjadi berkurang sehingga pasokannya untuk tubuh tidak dapat terpenuhi dengan baik.

Emboli paru

Emboli paru merupakan kondisi adanya sumbatan pada arteri pulmonalis. Nyatanya, orang dengan lupus (ODAPUS) berisiko 20 kali lebih tinggi untuk mengalami emboli paru ketimbang populasi pada umumnya.

Apalagi karena kurang lebih 30-50% pengidap lupus memiliki antibodi fosfolipid. Antibodi fosfolipid adalah penyakit lain yang sering menyertai lupus.

Adanya antibodi fosfolipid bisa semakin meningkatkan risiko ODAPUS untuk mengalami emboli paru.

Bisakah komplikasi lupus diobati?

Ivermectin adalah obat

Jika Anda seorang ODAPUS, ada baiknya untuk tidak mengabaikan gangguan saluran cerna dan pernapasan. 

Ambil contohnya keluhan berupa mual, muntah, nyeri perut, diare, batuk, sesak, nyeri dada, hingga buang air besar (BAB) berdarah. Begitu pula ketika Anda mengalami gejala terkait gangguan pernapasan. 

Segera sampaikan keluhan yang Anda alami pada dokter. Diagnosis sejak dini dan pemberian penanganan yang tepat diharapkan dapat membantu mencegah komplikasi dan kerusakan organ-organ tubuh akibat lupus. 

Pengobatan untuk komplikasi ini nantinya dapat disesuaikan kembali dengan penyebab dan tingkat keparahan penyakit.

Ini karena komplikasi akibat lupus bisa terjadi karena seseorang telah lebih dulu mengalami penyakit lupus. Maka itu, pengobatan utama tetap dilakukan dengan menangani kondisi lupus itu sendiri. 

Selanjutnya, komplikasi yang terjadi diharapkan dapat ikut membaik disertai dengan pengobatan yang sesuai. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Was this article helpful for you ?

Artikel dari ahli dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR

Mitos dan Fakta Seputar Skleroderma yang Perlu Diungkap Kebenarannya

Skleroderma adalah satu dari beberapa jenis penyakit rematik autoimun. Supaya lebih jelas, mari pahami seputar mitos dan fakta skleroderma.

Ditulis oleh: dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR
mitos skleroderma adalah
Alergi 29 Juni 2020

Berbagai Komplikasi Lupus yang Mungkin Terjadi dan Harus Diwaspadai

Gejala lupus di awal memang ringan. Namun, jika tidak diobati secepatnya, lupus bisa berkembang menjadi komplikasi yang memperparah kondisinya.

Ditulis oleh: dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR
komplikasi lupus
Alergi 10 Mei 2020

Mungkinkah Lupus Bisa Menimbulkan Komplikasi Pada Organ Paru?

Selain menyerang sendi dan kulit, lupus juga menimbulkan komplikasi pada organ lain, termasuk paru. Seperti apa gejala dan pengobatan yang perlu diketahui?

Ditulis oleh: dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR

Yang juga perlu Anda baca

Septic Arthritis

Septic arthritis adalah infeksi yang menimbulkan rasa sakit di persendian. Simak penjelasan mengenai gejala, penyebab hingga pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Sindrom Antifosfolipid (APS)

Sindrom antifosfolipid, atau antiphospholipid syndrome (APS) adalah penyakit autoimun yang membuat darah mudah menggumpal.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit

ITP (Immune Thrombocytopenic Purpura)

ITP (Immune Thrombocytopenic Purpura) adalah kelainan darah yang membuat Anda mudah memar akibat sistem imun keliru mengenali trombosit sebagai ancaman.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 16 November 2020 . Waktu baca 6 menit

Anemia Aplastik

Anemia aplastik adalah kondisi langka saat tubuh tak lagi memproduksi tiga sel darah utama, yakni eritrosit, leukosit, dan trombosit. Bisakah disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Anemia, Penyakit Kelainan Darah 2 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengenal gangguan autoimun

Mengapa Penyakit Autoimun Semakin Banyak Terjadi di Indonesia?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
pemfigoid bulosa (bullous pemphigoid)

Pemfigoid Bulosa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
vitiligo adalah

Vitiligo

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Sarcoidosis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 24 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit