home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

5 Mitos Seputar Vaginismus yang Perlu Diluruskan

5 Mitos Seputar Vaginismus yang Perlu Diluruskan

Istilah vaginismus mungkin masih terdengar awam di telinga Anda. Kondisi ini merujuk pada ketegangan otot-otot di sekitar vagina yang dapat terjadi secara mendadak. Salah satu akibatnya adalah sulitnya penetrasi ketika berhubungan seks. Banyak kesalahpahaman terjadi terkait penyakit satu ini. Supaya Anda tidak lagi salah dalam mengenali kondisi ini, pahami apa saja mitos dan fakta terkait penyakit wanita satu ini.

Mitos seputar vaginismus yang perlu Anda ketahui kebenarannya

penyebab vagina hitam

Rasa nyeri pada vagina hingga gagalnya penetrasi menjadi salah satu gejala khas yang sering dikeluhkan. Gejala lainnya yang serupa adalah nyeri saat memakai tampon atau ketika menjalani pemeriksaan ginekologis.

Kondisi vaginismus tidak hanya menimbulkan nyeri secara fisik, tapi juga bisa berdampak buruk bagi kelanggengan hubungan si pengidap dengan pasangannya maupun kesehatan perempuan secara umum. Dengan pemahaman dan perawatan yang tepat, kondisi ini sebenarnya bisa disembuhkan.

Untuk mengenali kondisi ini lebih baik, Anda, pasangan, dan keluarga di rumah perlu mengetahui kekeliruan informasi yang selama ini beredar dan dipercayai banyak orang. Berikut ini adalah berbagai kekeliruan yang beredar mengenai vaginismus.

Fokus


1. Vaginismus adalah masalah psikis

Banyak orang beranggapan bahwa vaginismus disebabkan oleh masalah psikis atau kejiwaan. Anggapan ini menjadi salah satu mitos vaginismus yang banyak dipercayai.

“Rasa sakit bukanlah karena kelainan pikiran. Rasa sakit adalah kelainan fisik. Apalagi kalau kita berbicara tentang vaginismus, yang terbanyak bukan rasa sakit saja malah, justru ya gagal, penetrasinya tidak terjadi,” ujar dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, dalam acara Vaginismus Awareness Day yang diselenggarakan oleh Komunitas Pejuang Vaginismus pada Rabu (15/9) secara daring.

Dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM-5) tahun 2013 yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, diagnosis vaginismus secara mandiri sebagai bagian female sexual dysfunction sudah dihapus.

Kondisi ini masuk dalam klasifikasi genito pelvic pain penetration disorder bersamaan dengan dyspareunia, yakni nyeri saat melakukan penetrasi seksual. Di samping itu, ada juga dua klasifikasi lainnya, yakni kelainan minat atau rangsang seksual dan kesulitan orgasme pada wanita.

Di samping itu, WHO juga memasukkan vaginismus ke dalam penyakit fisik pada International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10 dengan kode N94.2.

Berdasarkan hal tersebut, dr. Robbi menegaskan bahwa kondisi vaginismus tidak termasuk ke dalam masalah kejiwaan. Masalah kejiwaan mungkin membuat seseorang kehilangan minat atau rangsangan seksual namun tidak mengakibatkan vaginismus atau mengencangnya otot vagina sehingga penis gagal masuk.

Sebab banyak pasien yang mengalami vaginismus memiliki hasrat seksual seperti pada umumnya. Namun kondisi vaginismus yang dialaminya justru bisa menyebabkan masalah psikis karena kegagalan dan rasa sakit yang dialami ketika hendak melakukan penetrasi seksual.

2. Vaginismus itu penyakit langka

operasi selaput dara

Mitos kedua yang paling umum beredar adalah vaginismus merupakan penyakit langka. Memang istilah vaginismus kurang awam bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, bukan berarti kondisi ini langka terjadi.

Faktanya, angka kejadian kelainan nyeri penetrasi atau kegagalan penetrasi hingga 15%, berdasarkan data DSM-5 tahun 2013.

“Vaginismus merupakan kasus terbanyak disfungsi seksual pada perempuan yang muncul ke permukaan. Berdasarkan data lain, kasus vaginismus berkisar pada angka 7-17%”, ungkap dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang bertugas di RSIA Limijati, Bandung. “Dalam dunia medis angka 17% itu banyak sekali,” tambahnya.

Keluhan pengidapnya pun bervariasi, seperti tidak bisa penetrasi saat berhubungan seksual, penetrasi vagina terasa sangat sakit padahal sudah melakukan foreplay dan menggunakan pelumas tambahan, atau tidak bisa menjalani pap smear karena alat medis tidak bisa masuk ke vagina.

3. Trauma seksual adalah penyebab vaginismus

Tak sedikit orang yang percaya jika vaginismus terjadi akibat trauma seksual atau gangguan psikis di masa lalu. Perlu Anda pahami bahwa hal ini sepenuhnya tidaklah benar, bisa jadi mitos.

Beberapa kasus vaginismus mungkin saja terjadi karena hal tersebut. Akan tetapi, tidak semua wanita yang terkena vaginismus pernah mengalami trauma seksual atau memiliki gangguan psikis. Faktanya, beberapa pasien yang mengalami vaginismus mengaku tidak pernah mengalami trauma seksual atau gangguan psikis sebelumnya.

Hingga saat ini penyebab pasti dari vaginismus tidak diketahui secara pasti, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic. Hal ini juga meluruskan bahwa melahirkan, takut melakukan hubungan seks, atau memiliki pandangan yang negatif tentang seks, bukan menjadi penyebab dari vaginismus. Namun, bisa jadi faktor-faktor pendukung yang mungkin meningkatkan risikonya.

4. Vaginismus tidak bisa disembuhkan

infeksi jamur vagina

Salah satu mitos yang bisa berdampak buruk bagi pengidap vaginismus adalah mengenai penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan. Vaginismus adalah penyakit yang bisa sembuh dengan pengobatan yang tepat. Umumnya, vaginismus bisa disembuhkan dengan terapi dilatasi ditambah konseling bersama psikolog.

“Terapi dilatasi sendiri adalah metode penyembuhan kekakuan otot pada vaginismus dengan bukti ilmiah paling valid dan jumlah pasien paling banyak,” papar dr. Robbi.

Lewat perawatan ini kekakuan otot-otot pada vagina akan dikurangi dengan alat bantu medis sehingga menjadi tidak kaku lagi. Terapi dilatasi bisa dilakukan sendiri (terapi dilatasi mandiri), maupun dibantu oleh dokter.

Studi pada jurnal Sexual medicine menunjukkan 171 dari 241 pasien mengalami penurunan rasa nyeri saat penetrasi vagina selama lebih dari 5 minggu perawatan dilatasi. Itu artinya, terapi dilatasi cukup efektif dalam mengobati vaginismus.

Sementara terapi psikis seperti melakukan konseling dengan psikolog tidak cukup efektif dalam mengatasi vaginismus. Akan tetapi, bisa membantu mengurangi efek buruk vaginismus terhadap kesehatan mental. Oleh karena itulah, akan lebih baik jika keduanya dilakukan bersamaan.

Perawatan lainnya yang bisa membantu pasien untuk sembuh dari vaginismus meliputi senam kegel, hipnoterapi, injeksi botolinum toxin, psikoterapi, dan prosedur dilatasi berbantu.

5. “Bisa memasukkan jari atau dilator, saya bebas vaginismus”

Mitos terakhir yang perlu Anda ketahui kebenarannya adalah indikator vaginismus atau tidak diukur dengan keberhasilan memasukkan dilator atau jari ke vagina. “Bisa memasukkan jari atau dilator bukan berarti tidak vaginis” ucap dr. Robbi. Alasannya, karena beberapa pengidap vaginismus bisa saja memasukkan jari, dilator, atau bahkan penis tapi mengalami rasa nyeri luar biasa.

Jadi, sekalipun hal tersebut berhasil dilakukan tapi Anda mengalami rasa nyeri parah ketika melakukan penetrasi pada vagina, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. dr. Robbi juga tidak membenarkan bahwa berhasil memasukkan jari atau dilator bukan berarti sudah menjalankan dilatasi yang menyembuhkan.

Pasien vaginismus dikatakan sembuh dari penyakitnya jika lolos dalam 3 tahap penilaian, yakni bisa melakukan dilatasi mandiri, berhasil melakukan pemeriksaan medis melalui vagina, dan terjadi penetrasi penis dalam aktivitas seksual tanpa gejala mengganggu.

Kalkulator Masa Subur

Kalkulator Masa Subur

Memantau siklus haid, menentukan hari kesuburan dan lebih membantu Anda untuk merencanakan kehamilan lebih baik.

Kalkulator Masa Subur

Memantau siklus haid, menentukan hari kesuburan dan lebih membantu Anda untuk merencanakan kehamilan lebih baik.

Kalkulator Masa Subur

Berapa lama siklus haid Anda?

(hari)

28

Berapa lama Anda haid?

(hari)

7

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Webinar dengan dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, dalam acara Vaginismus Awareness Day pada Rabu, 15 September 2021 via daring.

Pacik, P. T., & Geletta, S. (2017). Vaginismus Treatment: Clinical Trials Follow Up 241 Patients. Sexual medicine5(2), e114–e123. https://doi.org/10.1016/j.esxm.2017.02.002

Vaginismus: Dyspareunia, causes, Symptoms, treatment. (n.d.). Retrieved September 16, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15723-vaginismus

Painful intercourse (dyspareunia). (2020, February 07). Retrieved September 16, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/painful-intercourse/symptoms-causes/syc-20375967

Sexual pain disorders. (n.d.). Retrieved September 16, 2021, from https://labs.la.utexas.edu/mestonlab/sexual-pain-disorders-3/

What is female sexual dysfunction. (n.d.). Retrieved September 16, 2021, from https://www.apa.org/monitor/2009/04/dysfunction

How to use a vaginal dilator. (n.d.). Retrieved September 16, 2021, from https://www.mskcc.org/cancer-care/patient-education/how-use-vaginal-dilator

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.