Berhubungan intim saat mengalami infeksi jamur pada vagina akan terasa tidak nyaman, bahkan terasa sakit. Namun, bukan cuma itu yang harus Anda khawatirkan. Apa saja yang perlu Anda waspadai? Yuk, simak penjelasan berikut!
Berhubungan intim saat mengalami infeksi jamur pada vagina akan terasa tidak nyaman, bahkan terasa sakit. Namun, bukan cuma itu yang harus Anda khawatirkan. Apa saja yang perlu Anda waspadai? Yuk, simak penjelasan berikut!

Jika tertular infeksi jamur, vagina biasanya mengalami keputihan yang tidak normal, gatal, sakit, dan merasakan sensasi perih.
Anda pun umumnya akan merasa nyeri saat berhubungan intim dan buang air kecil. Namun, sebagian orang bisa saja tidak merasakan hal tersebut sehingga tetap berhubungan intim seperti biasa.
Namun, sebaiknya tetap berhati-hati. Meskipun tidak merasakan sakit saat berhubungan intim, tetapi kemungkinan risikonya tetap ada. Berikut penjelasannya.
Mengutip Centers for Disease Control and Prevention, infeksi jamur pada vagina adalah kondisi yang sangat umum terjadi. Adapun jumlah wanita yang terkena infeksi ini masih perlu penelitian lebih lanjut.
Dokter dan pakar kesehatan seksual sepakat bahwa sebaiknya jangan dulu berhubungan intim saat sedang mengalami infeksi jamur vagina. Sembuhkan sampai benar-benar tuntas, barulah Anda dan pasangan boleh kembali naik ranjang.
Saat berhubungan intim, pelumas, sperma, dan lateks kondom dapat mengacaukan keseimbangan jamur pada vagina. Aktivitas ini kemungkinan bisa memperparah infeksi dan gejala jamur vagina.
Pada beberapa kasus, infeksi jamur vagina membuat labia dan vulva membengkak. Gesekan saat penetrasi (masuknya penis ke vagina), sex toys, jari, atau lidah dapat menyebarkan bakteri.
Mengutip Cleveland Clinic, infeksi jamur vagina dapat Anda alami tanpa melalui hubungan intim. Namun, infeksi jamur bisa berpindah melalui aktivitas seksual dari pasangan yang mengalaminya.
Risiko menularkan infeksi jamur ke pasangan memang kecil, tetapi tidak mustahil. Pria bisa saja terkena infeksi jamur pada penis setelah berhubungan intim jika Anda mengalami infeksi jamur.
Peluang penularannya akan lebih besar lagi jika pria itu tidak disunat. Ini karena jamur dapat terkumpul pada preputium atau kulit kulup pada ujung penis.
Meskipun infeksi jamur vagina bukanlah penyakit menular seksual. Namun, mengutip Women’s Health, infeksi jamur adalah salah satu gejala yang umum terjadi pada wanita yang menderita HIV/AIDS.
Oleh karena itu, jika Anda mengalami infeksi jamur vagina, sebaiknya tunda dulu berhubungan intim dan segera periksakan diri ke dokter. Tujuannya untuk mengetahui apakah itu infeksi jamur biasa ataukah gejala HIV.
Artikel terkait

Berhubungan intim saat infeksi jamur vagina masih aktif perlu dihindari untuk sementara waktu sampai benar-benar sembuh.
Sebaiknya Anda berobat sampai infeksi jamur sembuh tuntas. Pasalnya, beberapa wanita mungkin akan merasa membaik, tetapi ternyata jamurnya masih aktif sehingga infeksi dapat terjadi lagi.
Namun jangan khawatir, pengobatan untuk infeksi jamur biasanya relatif cepat, yakni sekitar 4—7 hari saja. Untuk itu, bersabarlah agar Anda dapat melakukan hubungan intim dengan lebih aman.
Obat infeksi jamur vagina yang mungkin diresepkan oleh dokter Anda antara lain krim miconazole (Monistat), butoconazole (Gynazole), atau terconazole (Terazol).
Obat-obatan ini dapat digunakan untuk mengobati infeksi vagina maupun infeksi penis.
Umumnya, obat-obatan tersebut bisa didapatkan dengan mudah di apotek. Namun, sebaiknya konsultasikan dulu kepada dokter sebelum menggunakannya. Begitupun saat ingin menghentikan penggunaan.

Hubungan intim sebaiknya Anda hindari saat terkena infeksi. Namun, jika Anda memutuskan untuk tetap berhubungan, sebaiknya lakukan tips-tips berikut ini.
Perlu diingat, meskipun Anda dapat melakukan tips-tips di atas jika berhubungan intim saat infeksi jamur, tetapi risiko risiko penularan tetap ada.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Versi Terbaru
14/08/2024
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Ihda Fadila