Otosklerosis

    Otosklerosis

    Kemampuan mendengar suara yang baik mendukung Anda untuk berkomunikasi dengan lancar. Sebaliknya, jika fungsi telinga ini terganggu, bisa jadi Anda akan kesulitan menjalani aktivitas tertentu. Salah satu masalah kesehatan yang bisa menyebabkan gejala ini adalah otosklerosis. Yuk, kenali penyakit ini lebih dalam mulai dari gejala hingga pengobatannya!

    Apa itu otosklerosis?

    telinga berdengung saat naik kendaraan

    Otosklerosis adalah kondisi adanya pertumbuhan tulang yang tidak normal di dalam telinga. Secara bahasa, kata “oto” berarti telinga dan “sklerosis” berarti pengerasan jaringan tubuh yang tidak normal.

    Ada 3 tulang kecil di dalam telinga yang bergetar ketika gelombang suara masuk. Tulang-tulang ini mengirimkan gelombang suara ke koklea (telinga bagian dalam), yang mengubah gelombang suara menjadi sinyal yang kemudian dikirim ke otak.

    Penyakit ini menyerang tulang-tulang penyusun telinga dan menyebabkan gangguan pendengaran konduktif. Itu artinya, ada masalah dengan cara telinga menstransmisikan getaran suara.

    Normalnya, getaran suara disalurkan oleh telinga bagian luar ke gendang telinga (membran timpani). Kemudian, gendang telinga mengirimkan suata ke tulang maleus, tulang inkus dan tulang stapes.

    Ketika tulang stapes bergetar, cairan di telinga bagian dalam ikut bergerak dan merangsang sel-sel rambut di telinga bagian dalam untuk mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang akan dikirim ke otak.

    Pada orang dengan gangguan tulang pendengaran ini, stapes (tulang sanggurdi) mulai menyatu dengan tulang di sekitarnya. Kondisi ini membuat tulang tidak dapat bergetar dengan bebas dan membatasi kemampuan telinga untuk menstransmisikan suara dengan benar.

    Semakin sedikit pergerakan tulang, semakin parah tingkat gangguan pendengaran yang dialami.

    Seberapa umumkah kondisi ini?

    Otosklerosis cukup jarang terjadi. Di banding kelompok usia lain, penyakit yang menyerang tulang penyusun telinga ini lebih sering menyerang orang dewasa, yakni rentang usia 20-30 tahun.

    Berdasarkan American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery Foundation, diperkirakan 2,5 – 10% orang dewasa memiliki penyakit ini.

    Kondisi ini dapat menyerang wanita dan pria, meskipun memiliki insidennya lebih tinggi terjadi pada wanita. Penyakit ini mempengaruhi kedua telinga sekitar 70 persen, namun tingkat keparahannya pada setiap telinga dapat berbeda.

    Tanda dan gejala otosklerosis

    gangguan telinga

    Setiap orang yang mengalami otosklerosis dapat mengeluhkan gejala yang berbeda-beda. Bahkan, ada pula yang mengalami gejala yang tidak disebutkan berikut ini.

    • Gangguan pendengaran secara bertahap dari waktu ke waktu.
    • Kesulitan untuk mendengar suara yang rendah, seperti bisikan.
    • Cenderung berbicara pelan karena suara yang diucapkan terdengar keras bagi penderitanya.
    • Kadang merasa lebih mudah mendengar ketika ada kebisingan sebagai latar belakangnya.
    • Telinga sering berdering atau menimbulkan bunyi-bunyian yang tidak normal alias tinnitus.
    • Pusing.

    Kapan harus periksa ke dokter?

    Jika Anda merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas, segera periksa ke dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT).

    Terutama jika Anda lebih mudah mendengar suara ketika ada kebisingan di sekitar. Ini merupakan gejala yang cukup membedakan penyakit ini dengan gangguan pendengaran. Kondisinya juga tidak membaik, malah semakin memburuk dari waktu ke waktu.

    Penyebab otosklerosis

    Dokter pemeriksaan THT

    Gangguan tulang pendengaran pada telinga ini terjadi ketika tulang sanggurdi mengeras atau mengalami sklerosis yang abnormal sehingga membuat tulang ini tidak dapat bergetar. Akibatnya, suara tidak dapat melewati telinga dan gangguan pendengaran bisa terjadi.

    Penyebab dari gangguan pada tulang telinga ini tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, ilmuwan berpendapat bahwa kondisi ini berkaitan dengan infeksi campak atau fraktur stres pada jaringan tulang di sekitar telinga bagian dalam.

    Sekitar 60 persen orang yang mengidap penyakit ini memiliki faktor genetik sebagai penyebabnya. Transmisi gen yang menyebabkan otosklerosis bersifat kompleks dan tidak semua orang yang memiliki gen tersebut akan mengalami kondisi tersebut.

    Ada kemungkinan juga akibat gangguan kekebalan, yakni interaksi antara tiga sel sistem kekebalan yang berbeda yang dikenal sebagai sitokin. Para peneliti percaya bahwa keseimbangan dari ketiga zat ini diperlukan untuk remodeling tulang yang sehat.

    Itu artinya ketidakseimbangan dapat menyebabkan jenis remodeling abnormal yang terjadi pada gangguan pada tulang telinga.

    Faktor-faktor risiko otosklerosis

    Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Akan tetapi, orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat otosklerosis ini lebih mungkin mengalaminya di kemudian hari.

    Meski begitu, tidak semua orang dengan faktor ini akan mengalaminya. Keturunan membuat risiko seseorang terkena penyakit ini lebih besar ketimbang orang yang tidak memiliki anggota keluarga yang mengidap otosklerosis.

    Diagnosis dan pengobatan otosklerosis

    pengobatan otosklerosis

    Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

    Gejala dari penyakit ini hampir serupa dengan gangguan telinga pada umumnya. Oleh karena itu, tidak cukup hanya dengan melakukan pemeriksaan lewat gejala-gejalanya.

    Dokter spesialis THT akan meminta Anda untuk menjalani tes pendengaran. Hasil dari tes kesehayan ini dapat membantu menentukan apakah stapes tidak bergetar dengan benar, dan dokter mungkin meminta Anda menjalani tes pemindaian telinga.

    Apa saja pilihan pengobatan untuk otosklerosis?

    Penyakit ini bisa menyebabkan gangguan pendengaran ringan hingga berat, tapi sangat jarang hingga menyebabkan tuli total. Pendengaran Anda biasanya memburuk secara bertahap selama berbulan-bulan atau beberapa tahun, dan dapat terus memburuk jika tidak diobati.

    Berikut ini adalah berbagai pengobatan untuk gangguan pada telinga ini.

    Menggunakan alat bantu dengar

    Alat bantu dengar adalah perangkat elektronik yang meningkatkan volume suara yang masuk ke telinga sehingga Anda dapat mendengar sesuatu dengan lebih jelas.

    Keuntungan menggunakan alat bantu dengar adalah tidak menimbulkan efek samping. Sekarang ini, alat bantu dengar berukuran kecil dan tersembunyi, dan beberapa dapat dikenakan di dalam telinga Anda sehingga tidak terlihat jelas.

    Operasi

    Pembedahan menjadi pengobatan pilihan jika Anda tidak ingin memakai alat bantu dengar. Prosedur medis ini disebut dengan stapedotomi atau stapedektomi.

    Sayatan akan dibuat di dalam saluran telinga, atau kadang-kadang di atas atau di depan telinga untuk mengakses tulang di dalam telinga. Kemudian, bagian dari tulang stapes diangkat dan implan plastik atau logam dimasukkan ke dalam telinga untuk mengirimkan suara dari tulang yang tersisa ke telinga bagian dalam.

    Meski jarang terjadi, pengobatan ini memiliki komplikasi berikut ini.

    • Kehilangan kemampuan untuk mendengar.
    • Perubahan indera perasa (biasanya sementara).
    • Mengalami tinnitus atau gejala telinga berdering semakin memburuk.
    • Vertigo.
    • Kelemahan saraf di wajah.

    Jika Anda mengalami kondisi yang disebutkan di atas, lakukan konsultasi lebih lanjut.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Otosclerosis. (2022). Retrieved 3 January 2022, from https://www.nidcd.nih.gov/health/otosclerosis

    Otosclerosis. (2022). Retrieved 3 January 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/otosclerosis/

    Otosclerosis. ENT Health. (2021, November 15). Retrieved January 3, 2022, from https://www.enthealth.org/conditions/otosclerosis/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Jan 13
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa