home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Berbagai Penyebab Telinga Berair dan Pilihan Pengobatannya

Berbagai Penyebab Telinga Berair dan Pilihan Pengobatannya

Telinga berair adalah salah satu masalah telinga yang paling sering dialami banyak orang. Masalah ini umumnya disebabkan oleh cairan kotoran telinga yang dibiarkan menumpuk. Namun, telinga berair juga bisa disebabkan oleh masalah yang lebih serius sehingga perlu penanganan khusus dari dokter. Apa saja kemungkinan penyebabnya dan bagaimana cara mengobati telinga berair? Simak ulasan berikut.

Apa yang menyebabkan telinga berair?

bahaya sering mengorek telinga

Telinga berair atau otorrhea merupakan keluarnya cairan dari telinga. Dikutip dari American Family Physician, kondisi ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Telinga berair akut, yaitu kondisi berlangsung selama kurang dari enam bulan
  • Telinga berair kronis, yaitu kondisi yang berlangsung lebih dari enam minggu

Otorrhea bisa terjadi karena kotoran telinga yang memang dikeluarkan oleh tubuh, atau air yang mengalir keluar lagi setelah berenang atau mandi. Jika ini yang terjadi, sifatnya tidak berbahaya sama sekali.

Namun, terdapat pula penyebab lain yang mungkin membutuhkan pertolongan medis. Penyebab tersebut termasuk infeksi atau cedera. Lebih lengkap, simak penjelasannya berikut ini.

1. Kemasukan air setelah mandi atau berenang

Ini adalah penyebab telinga berair yang paling umum. Ketika mandi atau berenang, air bisa saja ikut mengalir ke dalam liang telinga dan mengisi ruang kosong di telinga tengah yang seharusnya hanya terisi oleh udara.

Meski sepele, telinga yang kemasukan air tidak boleh dibiarkan terus berlama-lama. Air yang terperangkap di dalamnya lambat laun menciptakan lingkungan lembap yang cocok bagi kembang biak bakteri dan jamur penyebab infeksi telinga.

Solusinya, miringkan kepala sehingga bagian luar telinga Anda menghadap bahu dan goyang-goyangkan kepala sampai air bisa keluar. Jika tidak berhasil, tahan kepala masih dalam posisi miring, tarik pelan cuping telinga Anda yang kemasukan air dan goyangkan terus. Coba berbagai trik ampuh lainnya untuk mengatasi telinga kemasukan air.

2. Infeksi telinga tengah

Infeksi telinga tengah (otitis media) adalah penyebab paling umum telinga berair akut. Otitis media terjadi ketika ada bakteri atau virus masuk ke telinga tengah, yaitu tempat gendang telinga. Infeksi telinga di area ini bisa menyebabkan cairan menumpuk di belakang gendang telinga.

Ketika terlalu banyak cairan menumpuk akibat infeksi, risiko terjadinya perforasi gendang telinga semakin tinggi. Perforasi gendang telinga adalah pecahnya gendang telinga akibat tumpukan cairan yang mendorong kuat. Cairan bisa melalui gendang telinga lalu akan mengalir keluar telinga.

Gejala umumnya berupa demam, hidung tersumbat, telinga terasa nyeri atau penuh, sakit kepala, masalah pendengaran, dan keluarnya cairan dari telinga (cairan kuning, bening, atau berdarah).

3. Infeksi telinga luar (Swimmer’s ear)

Jika Anda perenang atau hobi berenang, infeksi “swimmer’s ear” alias infeksi telinga luar atau otitis eksterna adalah masalah telinga yang harus Anda waspadai. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah telinga yang kemasukan air.

Kondisi dalam telinga yang lembap karena air dapat meningkatkan risiko bakteri dan virus berkembang biak sehingga menyebabkan peradangan. Istilah swimmer’s ear sendiri muncul karena kondisi ini memang lebih sering dialami oleh orang-orang yang sering berenang dan membiarkan telinga mereka sering basah dan lembap.

Beberapa tanda dan gejala dari infeksi telinga swimmer’s ear antara lain bagian luar telinga yang membengkak kemerahan dan terasa panas, terasa nyeri atau tidak nyaman, gatal pada lubang telinga, hingga keluarnya cairan atau nanah sehingga telinga terasa seperti terus-terusan berair.

4. Trauma

Selain infeksi bakteri atau virus, telinga berair juga bisa menjadi akibat dari trauma fisik. Misalnya, ketika Anda membersihkan telinga pakai cotton bud dan mendorong stiknya terlalu dalam hingga menusuk gendang telinga. Hal ini bisa membuat gendang telinga pecah atau robek sehingga cairan di dalamnya merembes keluar.

Selain itu, kecelakaan yang menyebabkan cedera kepala juga bisa membuat cairan serebrospinal bocor dan keluar dari telinga.

Kapan harus ke dokter?

sakit kepala di belakang telinga

Anda harus segera ke dokter jika telinga Anda mengeluarkan cairan tiba-tiba (bukan setelah telinga kemasukan air karena berenang, misalnya). Terlebih lagi jika Anda sudah mengeluarkan cairan selama lebih dari 5 hari. Terkadang pelepasan cairan telinga yang disebabkan karena infeksi bisa disertai gejala demam.

Berikut tanda dan gejala yang membuat Anda perlu pertolongan medis:

  • Rasa sakit yang parah
  • Cairan keluar dari telinga berwarna putih, kuning, bening, atau berdarah
  • Telinga memerah
  • Bengkak
  • Pendengaran mulai menurun

Bila Anda habis mengalami kecelakaan atau cedera, lalu keluar cairan dari telinga, Anda juga perlu segera ke dokter untuk memeriksa kondisi ini.

Dokter mungkin akan mengambil sampel cairan telinga Anda dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diperiksa.

Bagaimana cara mengobati telinga berair?

telinga berair

Cara mengobati telinga berair berbeda-beda, tergantung dari penyebabnya. Secara umum, ada beberapa cara yang diberikan jika telinga berair, yaitu:

1. Obat antibiotik

Obat yang diberikan adalah antibiotik (jika infeksi karena bakteri) yang diresepkan dokter untuk mengobati penyebab utama telinga berair tersebut.

Jika yang terjadi adalah infeksi jamur, Anda mungkin akan diberikan larutan asetat untuk infeksi yang tidak terlalu parah. Kebanyakan infeksi jamur yang menyebabkan telinga berair diberikan obat antijamur topikal seperti clotrimazole.

Pada beberapa kasus, seperti pada otitis media, pemberian antibiotik ini juga bisa diberikan secara oral (obat minum) kalau diperlukan.

2. Obat pereda nyeri

Infeksi telinga bisa menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa di telinga. Maka itu, diberikan juga obat pereda rasa sakit untuk mengatasi keluhan ini. Obat ini diberikan untuk mengendalikan rasa sakit yang dirasakan selama infeksi terjadi.

Obat pereda nyeri yang diberikan misalnya obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) yang bisa digunakan untuk mengurangi sakit akibat peradangan telinga dengan gejala telinga berair. Acetaminophen (paracetamol) juga bisa digunakan untuk mengurangi rasa sakit.

3. Pembedahan

Dalam kasus yang parah, jika ada banyak cairan telinga yang terus menerus keluar bisa dilakukan pembedahan medis. Abses yang berisi nanah dalam telinga disayat menggunakan jarum khusus untuk mengeluarkan nanah hingga kering.

Jika keluarnya cairan terjadi akibat trauma, dilakukan pengobatan lain tergantung kondisi masing-masing orang. Jika ditemukan robekan di gendang telinga akibat kecelakaan atau trauma, dokter akan memberikan perawatan khusus dengan menambal bagian sobekan tersebut. Tambalan ini akan menutup gendang telinga selama proses penyembuhan.

Bagaimana mencegah telinga berair?

membersihkan kotoran telinga

Sebagian besar infeksi telinga yang menimbulkan gejala telinga berair disebabkan oleh virus. Jadi, jauhi orang yang sedang sakit dan pastikan anak Anda telah menjalani imunisasi.

Selain itu, jangan menaruh benda apapun di dalam telinga, termasuk cotton bud, pensil, atau benda keras lainnya. Gunakan penutup telinga, seperti ear plug, untuk melindungi Anda dari suara keras.

Sementara itu, otitis eksterna dapat dicegah dengan cara memastikan telinga Anda kering setelah berenang atau mandi. Kenakan penutup telinga untuk mencegah air masuk ke telinga Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Encyclopedia, M., & discharge, E. (2020). Ear discharge: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 13 October 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/003042.htm

Ear discharge Information | Mount Sinai – New York. (2020). Retrieved 13 October 2020, from https://www.mountsinai.org/health-library/symptoms/ear-discharge

Fluid from the ear. (2020). Retrieved 13 October 2020, from https://www.healthdirect.gov.au/fluid-from-the-ear

Treatment of Otorrhea in Infants and Children. (2001). American Family Physician, 63(7), 1426. Retrieved from https://www.aafp.org/afp/2001/0401/p1426.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui 10/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.