Posisi Bercinta yang Rawan Menyebabkan Penis Patah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ketika sedang dibakar api asmara, Anda dan pasangan jadi lebih semangat bercinta. Semangat yang membara saat bercinta memang mampu memaksimalkan tingkat kepuasan seksual bagi pasangan. Selain itu, keintiman yang dihasilkan juga bisa membuat Anda dan pasangan jadi lebih dekat secara emosional. Namun, seks yang dibanjiri dengan gairah rawan bahaya dan cedera, terutama bagi laki-laki. Dampaknya pun bisa fatal, yaitu penis yang patah. Untuk menghindari risiko dari seks yang terlalu agresif, perhatikan beberapa posisi bercinta yang rawan ini.

Penis tak bertulang, tapi kok bisa patah?

Meskipun organ vital laki-laki ini tidak memiliki tulang, penis tetap bisa mengalami cedera fraktur (penile fracture). Cedera fraktur pada penis biasanya terjadi ketika penis mengalami ereksi. Penis memiliki tiga tabung silinder. Dua di antaranya akan terisi dengan darah dan jadi mengeras ketika penis menerima rangsangan. Inilah yang disebut dengan ereksi penis. Dua tabung ini dikenal secara medis dengan sebutan Corpora Cavernosa dan keduanya dilapisi oleh jaringan yang bersifat elastis, mengikuti besar dan panjang penis saat ereksi. Istilah medis untuk jaringan ini adalah tunika albuginea atau selaput putih.

Penis dalam keadaan ereksi bisa patah dan retak saat mengalami benturan atau mendapat tekanan yang berlebihan. Hal ini terjadi karena trauma pada selaput tunika albuginea yang tidak bisa menahan tekanan atau benturan. Pada kebanyakan kasus di mana penis sampai patah atau retak ketika bercinta, Anda akan mendengar bunyi retakan atau letupan yang datang dari tunika albuginea yang sobek. Ereksi juga biasanya langsung hilang atau melunak. Kemudian, organ vital laki-laki akan membengkak dan muncul memar-memar biru kehitaman. Rasa sakit yang hebat juga pasti menyerang penis, sehingga Anda pasti langsung menyadari ketika penis Anda patah.

Posisi bercinta yang rawan menyebabkan penis patah

Agar Anda dan pasangan bisa lebih waspada dan berhati-hati saat berhubungan intim, perhatikan beberapa posisi bercinta yang rawan menyebabkan penis patah berikut ini. Bukan berarti berbagai posisi ini harus dihindari, namun setidaknya Anda dan pasangan bisa bisa lebih berhati-hati saat bercinta dengan posisi berikut.

Posisi woman on top

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Advances in Urology, 50% kasus penis patah saat bercinta terjadi saat pasangan bercinta dengan posisi wanita di atas laki-laki. Ini berarti bercinta gaya woman on top seperti posisi cowgirl, reverse cowgirl, atau wanita duduk di pangkuan laki-laki adalah posisi seks yang paling tidak aman bagi organ vital laki-laki. Tekanan yang diterima penis saat bercinta dengan gaya woman on top biasanya sangat besar karena seluruh beban tubuh wanita bertumpu pada penis yang sedang ereksi.

Selain itu, ketika laki-laki berada di bawah wanita saat bercinta, laki-laki tidak mampu mengendalikan dan mengatur gerakan maupun tekanan yang diterima oleh penis. Akibatnya, jika penis mengalami benturan atau mendapat tekanan yang terlalu besar, wanita yang berada di posisi atas tidak bisa langsung menyadari dan menghentikan penetrasi.

Doggy style

Penelitian yang dilakukan oleh School of Medical Science, University of Campinas di Brazil menunjukkan bahwa sejumlah 29% kasus cedera fraktur pada penis diakibatkan oleh posisi bercinta ala doggy style. Posisi wanita di depan pria ini bisa menimbulkan cedera jika dilakukan dengan terlalu agresif sehingga penis membentur tulang kemaluan wanita dalam keadaan ereksi.

Bahaya jika penis patah

Penis yang patah adalah kondisi darurat yang harus segera ditangani secara medis. Cedera fraktur pada penis yang tidak ditangani bisa menyebabkan kecacatan pada penis dan disfungsi ereksi (impotensi). Ketika penis patah, Anda mungkin merasa takut dan malu. Hal ini sangat wajar, tapi ingatlah bahwa kesehatan Anda jauh lebih penting. Segera cari pertolongan medis untuk mencegah komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan.

Mengatasi penis patah

Anda akan menjalani serangkaian pemeriksaan fisik dan berbagai tes seperti uretrogram, pindai MRI, dan cavernosogram. Anda juga akan segera menjalani operasi (kurang dari 48 jam setelah penis mengalami cedera) untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Setelah operasi, pasien biasanya akan kehilangan fungsi ereksi selama dua hingga tiga hari dan disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama kira-kira sebulan. Kebanyakan kasus penis patah bisa disembuhkan dan bisa berfungsi dengan normal lagi setelah pemulihan.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Impotensi (Disfungsi Ereksi)

Impotensi atau impoten adalah kondisi ketika penis tidak bisa ereksi optimal saat berhubungan seks. Berikut gejala, penyebab, dan cara mengatasi impotensi.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesehatan Pria, Impotensi 20 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit