backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Begini Cara Menghitung Tetesan Infus yang Tepat

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Klinik Chika Medika


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 18/01/2024

Begini Cara Menghitung Tetesan Infus yang Tepat

Pemberian cairan infus tidak boleh sembarangan. Perawat atau tenaga medis harus menguasai cara menghitung dan mengatur tetesan infus supaya dosis obat yang diterima pasien sesuai kebutuhan.

Persiapan sebelum menghitung tetesan infus

Saat menangani kondisi darurat medis, seperti dehidrasi, keracunan, hingga serangan jantung, dokter dapat meresepkan terapi intravena atau yang dikenal sebagai infus.

Infus adalah metode pemberian obat yang dilakukan langsung melalui pembuluh darah vena. Cara ini bertujuan agar obat diserap dengan cepat melalui aliran darah.

Sebelum mulai menghitung tetesan infus, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh perawat.

Perawat akan mempersiapkan peralatan untuk infus, di antaranya cairan infus, set infus, jarum infus, sarung tangan medis, alcohol swab, plester, kain kasa, dan tourniquet.

Pada set infus, ada dua jenis tetesan utama, yaitu macro drop dan micro drop. Pada umumnya, informasi ini tercetak pada kemasan set infus.

Perbedaan keduanya terletak pada faktor tetes (drop factor) yang diukur dengan jumlah tetesan per milliliter (gtt/ml) seperti berikut.

  • Macro drip: menghasilkan tetesan yang lebih besar, sekitar 10–20 tetesan per mililiter. Umumnya digunakan oleh orang dewasa atau untuk keperluan yang membutuhkan waktu cepat, seperti penggantian elektrolit dan transfusi darah.
  • Micro drip: menghasilkan tetesan yang lebih kecil, sekitar 60–80 tetesan per mililiter. Diperuntukkan bagi bayi dan anak-anak dengan berat badan kurang dari 7 kilogram atau digunakan dalam pengobatan penyakit tertentu, seperti gagal jantung dan gagal ginjal.

Perhatian!

Pemilihan set infus dengan faktor tetes makro atau mikro perlu diperhatikan karena hal ini akan memengaruhi perhitungan laju tetesan infus yang diberikan kepada pasien. Perawat perlu menyesuaikan hitungan berdasarkan jenis set infus yang digunakan.

Cara menghitung tetesan infus

atracurium

Perawat bisa memberikan cairan infus secara manual ataupun dengan mesin pompa otomatis.

Ketika memberikan infus dengan mesin pompa otomatis, perawat cukup memasukkan volume cairan infus dan waktu yang dibutuhkan untuk memasukan cairan ke dalam tubuh.

Sementara bila cairan infus diberikan secara manual, perawat harus menghitung tetesan infus untuk mengetahui jumlah tetesan per menit (TPM).

Menurut University of Southern Queensland, rumus hitung tetesan infus yakni sebagai berikut.

Jumlah Tetesan per Menit (TPM) = Faktor Tetes (gtt/ml) x Volume Cairan Infus (ml) / Lama Pemberian Infus (jam) x 60

Faktor tetes akan memengaruhi laju pemberian infus pasien. Berikut adalah contoh cara menghitung tetesan infus untuk faktor tetes makro dan mikro.

1. Faktor tetes makro

Pasien A membutuhkan cairan saline normal atau NaCl 0,9% sebanyak 1.000 ml selama 8 jam. Infus diberikan menggunakan set makro dengan faktor tetes 15 gtt/ml.

Jadi, jumlah tetesan per menit yang dibutuhkan adalah:

TPM = 15 x 1.000 / 9 x 60 = 31,25 = 32 tetes per menit

2. Faktor tetes mikro

Pasien B membutuhkan cairan dextrose 5% sebanyak 500 ml selama 12 jam. Infus diberikan menggunakan set mikro dengan faktor tetes 60 gtt/ml.

Cara menghitung tetesan infus yang dibutuhkan yaitu:

TPM = 60 x 500 / 12 x 60 = 41,67 = 42 tetes per menit

Macam-macam cairan infus

jenis cairan infus

Dosis dan lama waktu pemberian infus bergantung pada jenis cairan infus serta kondisi pasien, meliputi berat badan, usia, maupun kesehatan secara keseluruhan.

Dikutip dari Cleveland Clinic, dua macam cairan infus yang umum digunakan terdiri dari cairan kristaloid dan cairan koloid.

1. Cairan kristaloid

Cairan kristaloid mengandung molekul kecil, seperti garam dan gula, yang dilarutkan dalam air.

Jenis cairan infus intravena yang paling umum ini digunakan untuk menggantikan elektrolit dan cairan tubuh yang hilang, misalnya akibat diare atau muntah hebat.

Beberapa contoh dari cairan infus kristaloid adalah sebagai berikut.

  • Cairan saline: mengandung natrium dan klorida untuk mengganti elektrolit dan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi.
  • Dextrose: mengandung gula sederhana atau glukosa untuk meningkatkan kadar gula darah, misalnya pada pengidap gula darah rendah (hipoglikemia).
  • Ringer laktat: mengandung natrium, kalium, klorida, kalsium, dan laktat untuk mengganti elektrolit dan cairan tubuh yang hilang pascacedera dan operasi.

2. Cairan koloid

Cairan koloid mengandung molekul yang lebih besar. Ini membuatnya tidak melewati membran sel dengan mudah dan cenderung tetap berada dalam pembuluh darah.

Tergantung pada kandungan di dalamnya, cairan infus ini biasanya diberikan kepada pasien yang mengalami sakit kritis atau menjalani operasi besar.

Beberapa contoh dari cairan infus koloid adalah sebagai berikut.

  • Albumin: mengandung protein albumin untuk pasien dengan kadar albumin rendah, misalnya pasien yang menjalani operasi atau mengidap luka bakar.
  • Hetastarch: mengandung polimer sintetis untuk meningkatkan volume plasma darah pada pasien yang kehilangan banyak darah akibat operasi atau cedera.

Dengan memahami cara menghitung tetesan cairan infus, perawat bisa memastikan pasien menerima obat dengan aman untuk mengatasi kondisi medis yang dialaminya.

Sebagai pasien, Anda pun tidak boleh mengutak-atik alat infus. Jika infus Anda tidak bekerja dengan semestinya, tanyakan pada perawat atau tenaga medis yang menangani Anda.

Kesimpulan

  • Set infus terdiri dari faktor tetes makro (macro drop) dan faktor tetes mikro (micro drop).
  • Cara hitung tetesan infus menggunakan rumus yang terdiri dari faktor tetes infus, volume cairan infus, dan lama pemberian infus.
  • Penentuan dosis dan lama pemberian infus juga tergantung dari jenis cairan infus serta kondisi pasien, seperti berat badan, usia, dan kesehatannya secara keseluruhan.
  • Hindari mengutak-atik alat infus sendiri tanpa pengawasan perawat atau tenaga medis.

Catatan

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Klinik Chika Medika


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 18/01/2024

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan