Daftar Komposisi Dalam Produk Kecantikan yang Perlu Dihindari Pemilik Kulit Sensitif

    Daftar Komposisi Dalam Produk Kecantikan yang Perlu Dihindari Pemilik Kulit Sensitif

    Apabila Anda jadi mengalami gatal-gatal atau ruam kemerahan setelah pakai produk kosmetik kulit tertentu, tandanya kulit Anda sensitif. Beberapa pemilik kulit sensitif bahkan sampai mengeluhkan kulitnya jadi terasa perih karena kering bersisik dan mengelupas. Masalah kulit ini kemungkinan besar diakibatkan dari bahan-bahan yang terkandung dalam produk tersebut.

    Itu kenapa Anda harus selalu mencermati label komposisi dari setiap produk kosmetika dan skincare sebelum membelinya.

    Pemilik kulit sensitif wajib hindari bahan-bahan kosmetik ini

    1. Methylisothiazone

    Methylisothiazolinone (MI) adalah bahan pengawet yang umum ditemukan dalam produk perawatan kulit, termasuk tisu basah, shampoo, kondisioner, sabun mandi, pelembap, tabir surya (sunscreen), deodoran, dan sejumlah produk kosmetik.

    MI adalah penyebab paling umum dari alergi dermatitis kontak. Menurut St John’s Institute of Dermatology di London, sebanyak 10% orang yang punya kulit sensitif juga memiliki alergi terhadap methylisothiazone.

    Methylisothiazolinone punya banyak nama alias. Hindari produk-produk yang mencantumkan nama-nama ini dalam label komposisinya:

    • 2-Methyl-3(2H)-isothiazolone
    • 3(2H)-Isothiazolone
    • 2-methyl-
    • Caswell No. 572A
    • 2-Methyl-4-isothiazoline-3-one
    • Neolone; Neolone 950; NeoloneCapG; Neolone M 10; Neolone M 50; Neolone PE
    • Optiphen MIT
    • OriStar MIT
    • ProClin 150; ProClin 950
    • SPX
    • Zonen MT

    2. Minyak esensial

    Tidak semua produk kecantikan yang berlabel organik atau alami karena mengandung minyak esensial itu aman buat si kulit sensitif.

    Anda justru sebaiknya menghindari produk-produk tersebut karena bahan alami sulit diuji keamanannya secara medis. Kadar pH asam dari beberapa ekstrak tanaman seperti jeruk dan mint (termasuk peppermint) cenderung menyebabkan iritasi kemerasan pada kulit yang sensitif

    3 Sodium lauryl sulphate (SLS) dan sodium laureth sulphate (SLES)

    SLS dan SLES adalah bahan kimia pembuat busa dalam sabun, sampo, kondisioner, dan deterjen.

    Sulfat terbuat dari garam mineral yang mengandung sulfur. Ini dapat menyebabkan kulit menjadi kering kronis dan gatal-gatal di sekujur tubuh. Pemilik kulit sensitif sebaiknya gunakan kosmetik, sampo, dan kondisoner yang bebas sulfat.

    4. Oxychloride bismuth

    Oxychloride bismuth sering digunakan dalam produk makeup berbasis mineral untuk memberikan penampilan akhir yang matte atau shimmery.

    Bagi orang yang punya kulit sensitif, komponen kosmetik ini dapat menyebabkan ruam kemerahan, gatal, dan terasa panas.

    5. Parfum atau wewangian

    Hindari produk kosmetik atau skincare yang mengandung pewangi atau parfum jenis apa pun. Bahan-bahan kimiawi maupun alami yang dijadikan sebagai pewangi dapat menyebabkan kulit iritasi pada orang yang sensitif.

    6. Petrochemicals dan emollien sintetis

    Pengental kimiawi seperti parafin cair dan minyak mineral dalam produk losion, shampo, sabun, pelembap, dan krim kulit tertentu dapat menyebabkan produksi minyak kulit berlebih. Alhasil, kulit sensitif makin mudah teriritasi dan membuat kulit jadi kusam karena pori-pori tersumbat.

    Jika kulit Anda sensitif, pakai produk yang mengandung minyak nabati, seperti minyak jojoba dan minyak almond.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    6 Ingredients to Watch Out for If You Have Sensitive Skin https://www.self.com/story/sensitive-skin-tips diakses 31 Oktober 2018.

    Ingredients to Avoid If you Have Sensitive Skin https://www.getthegloss.com/article/sense-and-sensitivity-ingredients-to-avoid-in-make-up-and-skincare diakses 31 Oktober 2018. 

    6 Products You Should Never Use If You Have Skin Issue https://www.womenshealthmag.com/beauty/a19967000/sensitive-skin-products/ diakses 31 Oktober 2018.

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Andisa Shabrina Diperbarui Nov 30, 2020
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita