Berbagai Masalah Kesehatan yang Mungkin Dihadapi Orang Bertubuh Tinggi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Punya badan tinggi bak supermodel adalah impian banyak orang. Tapi sayang, di balik semua “kemewahan” menjadi orang bertubuh tinggi, ada beragam masalah kesehatan yang mengintai. Misalnya saja, pria yang badannya tinggi ternyata lebih berisiko untuk meninggal akibat kanker prostat ganas daripada pria yang bertubuh pendek. Masih banyak lagi kaitan antara tinggi badan seseorang dengan risiko kesehatan yang mungkin dimilikinya. Yuk, cari tahu lebih lanjut!

Apa yang menentukan tinggi badan seseorang?

Tinggi badan dipengaruhi oleh genetik warisan orangtua. Meski begitu, gen bukan satu-satunya penentu takdir tinggi-pendeknya tubuh Anda. Genetik hanya membantu menentukan sekitar 60-80 persen dari tinggi badan Anda, sedangkan sisanya tergantung pada faktor lingkungan luar.

Aktivitas fisik dan asupan nutrisi dari kebiasaan makan sehat (tinggi protein dan kalsium) adalah dua faktor eksternal yang berperan paling penting untuk menentukan tinggi badan.

Tahukah Anda, kalau punya badan tinggi itu ternyata…

1. Berisiko lebih rendah terkena penyakit jantung

Studi yang dimuat dalam European Heart Journal menyebutkan bahwa orang yang badannya pendek (di bawah 160 cm) lebih rentan mengalami penyakit jantung dibandingkan orang yang bertubuh tinggi. Mereka melaporkan bahwa setiap penurunan 6 cm dari “patokan” tersebut, risiko penyakit jantung meningkat hingga 13,5 persen.

Sebuah studi lain bahkan juga menunjukkan bahwa orang yang punya badan tinggi memiliki risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah.

Alasannya karena orang yang lebih tinggi cenderung memiliki ukuran paru-paru yang lebih besar dan otot jantung yang lebih kuat. Semakin besar kapasitas paru untuk menyimpan udara dan semakin kuat kerja jantung Anda, semakin lancar aliran darah ke seluruh bagian tubuh. Akhirnya, tubuh pun lebih bugar dan sehat secara keseluruhan.

2. Berisiko lebih rendah terserang Alzheimer

Sebuah studi dari Journal of Alzheimer’s Disease menemukan pria dengan tubuh tinggi lebih dari rata-rata berisiko lebih rendah untuk mengembangkan Alzheimer di usia senja. Hal serupa juga berlaku bagi wanita. Menurut penelitian awal dari University of Edinburgh’s College of Medicine, wanita yang memiliki tinggi badan rata-rata 170 cm dilaporkan mengalami penurunan risiko kematian akibat demensia hingga 50 persen daripada wanita yang tinggi badannya hanya sekitar 150 centimeter.

Meski begitu, ini bukan berarti jaminan bagi orang pendek pasti akan mengalami Alzheimer atau demensia. Masih belum jelas apa yang menjadi hubungan sebab-akibat antara tinggi badan dan pengaruhnya terhadap penurunan fungsi kognitif otak. Penyebab pasti dari kedua penyakit ini pun belum diketahui benar, namun zat sisa plak beta-amyloid yang menempel di otak diketahui dapat memicu demensia.

3. Lebih rentan mengalami fibrilasi atrial

Fibrilasi atrial adalah kondisi denyut jantung yang tidak beraturan (aritmia). Fibrilasi atrial dapat menyebabkan komplikasi seperti stroke, serangan jantung, atau gagal jantung.

Sebuah studi menemukan bahwa wanita yang memiliki postur tubuh tinggi berisiko hingga hampir tiga kali lipat untuk mengalami hal ini. Peneliti menduga, peningkatan risiko ini dipengaruhi oleh kerja otot jantung yang lebih giat untuk memompa darah agar bisa mencapai seluruh tubuh.

Semakin otot jantung dipaksa untuk bekerja, semakin memperbesar ukuran otot jantung sehingga memicu kondisi yang dinamai kardiomegali. Seiring ukuran jantung mengembang, otot menjadi kaku yang memungkinkan untuk terkena fibrilasi atrial.

Meski begitu, tinggi badan bukanlah faktor penentu dari risiko seseorang untuk mengalami gangguan jantung. Pola makan buruk, merokok, dan jarang olahraga tetap menjadi faktor risiko terbesar yang lebih perlu Anda waspadai.

4. Lebih rentan mengalami pembekuan darah

Risiko penggumpalan darah alias trombosis vena dalam (DVT) ditemukan paling rendah pada wanita dan pria yang bertubuh pendek. Semakin tinggi postur badan Anda, risiko DVT ikut meningkat.

Perbedaan risiko tersebut bisa terjadi karena individu yang lebih tinggi memiliki pembuluh darah di kaki yang lebih panjang, sehingga terdapat area permukaan pembuluh darah yang lebih luas.

Gravitasi juga ikut berperan dalam pembekuan darah ini. Pembuluh darah kaki orang yang tinggi menerima lebih banyak tekanan gravitasi sehingga meningkatkan risiko aliran darah melambat atau berhenti sementara. Aliran darah yang lambat akan meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah, terutama di kaki.

5. Risiko kanker lebih tinggi

Postur badan tinggi besar telah lama dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah melewati proses pertumbuhan yang pesat — terkait dengan pemenuhan nutrisi di awal masa pertumbuhan dan pubertas dini. Hormon dan makanan tertentu yang mendorong pertumbuhan di masa kanak-kanak ikut meningkatkan risiko seseorang terhadap perkembangan kanker.

Di samping itu, peneliti percaya bahwa seseorang yang berbadan tinggi besar memliki lebih banyak sel dalam tubuhnya secara keseluruhan, begitu pula dengan ukuran dan volume organ yang lebih besar, sehingga lebih rentan terhadap mutasi sel penyebab kanker.

Lalu, apa yang bisa Anda lakukan?

Anda tidak dapat mengubah tinggi badan Anda, namun pelajaran yang bisa dipetik dari informasi ini adalah mengambil langkah yang tepat dalam membuat pilihan gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko berbagai penyakit kronis. Jaga pola makan yang sehat dan seimbang, lebih rajinlah beraktivitas fisik atau berolahraga, tidak merokok, dan tidak minum alkohol.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit