home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Yang Harus Dilakukan Sebelum dan Setelah Banjir

Yang Harus Dilakukan Sebelum dan Setelah Banjir

Banjir merupakan peristiwa meluapnya air yang menggenangi permukaan tanah, namun ketinggiannya melebihi batas normal. Banjir dapat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, badai, gelombang pasang, atau peristiwa alam lainnya. Banjir juga dapat diakibatkan oleh perilaku manusia, seperti berkurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan dan pengembangan pemukiman, buruknya penanganan sampah dan saluran air, dan sebagainya.

Banjir yang tidak dapat ditangani bisa menimbulkan kerugian dan korban jiwa. Bencana banjir sering diikuti dengan berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit kulit, diare, demam berdarah, leptospirosis, dan lain-lain. Penyakit yang timbul disebabkan oleh cara hidup yang tidak sehat, termasuk mengonsumsi air yang tidak bersih.

Ingatkah Anda pada peristiwa banjir Jakarta di tahun 2007? Pada 1 Februari 2007, hampir 60% wilayah DKI Jakarta tergenang air. Menurut data PMI DKI Jakarta terdapat 48 orang meninggal dan 337.181 orang terpaksa mengungsi di tempat penampungan, seperti di sekolah, rumah ibadah, jalan raya, dan fasilitas umum lainnya. Dengan banyaknya kerugian yang ditimbulkan oleh banjir, maka Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan berbagai informasi kepada kita semua untuk menghadapi banjir.

Persiapan untuk menghadapi banjir

Bila tempat tinggal Anda merupakan daerah rawan banjir, atau daerah yang mempunyai potensi banjir, maka Anda perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  • Buatlah denah atau peta rumah dan lingkungan sekitar Anda. Beri tanda tempat-tempat yang biasanya terendam banjir. Tempat-tempat yang aman dan yang membahayakan juga harus ditandai. Jika Anda tidak dapat melakukannya sendiri, ajaklah keluarga Anda untuk melakukannya. Carilah informasi dari orang lain di sekitar Anda. Jika peta sudah jadi, diskusikan langkah-langkah penanggulangan banjir.
  • Ketahui sistem peringatan dini di lingkungan Anda. Misalnya, imbauan dari pengeras suara rumah ibadah, lonceng, kentongan, sirine, dan lain-lain. Jika lingkungan rumah Anda tidak memilikinya, laporkan ke ketua RT/RW atau kepala desa agar disepakati.
  • Pahami tanda-tanda terjadinya banjir dan waspadai jika itu terjadi. Misalnya adanya hujan lebat terus menerus, selokan yang meluap, dan tingginya air di dam atau di pintu air yang melebihi batas normal.
  • Perhatikan kondisi sungai di sekitar rumah Anda. Apakah lebih keruh dari biasanya? Jika ya, maka Anda harus mewaspadai datangnya banjir, karena hujan di daerah yang lebih tinggi bisa menyebabkan banjir di daerah yang lebih rendah.
  • Simpanlah surat-surat penting seperti sertifikat tanah, ijazah, akte, rapor, dan lain-lain dalam plastik atau dalam kantong apapun yang kedap air.

Yang perlu dilakukan saat banjir melanda

Terkadang banjir memiliki tanda-tanda yang telah dicantumkan di atas. Namun, banjir bandang akan sangat berbahaya dan datang secara tiba-tiba tanpa tanda apapun. Jika banjir terjadi perlahan, Anda dapat melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

  • Pindahkan barang-barang atau perabotan rumah ke tempat yang lebih tinggi dan tidak terjangkau oleh genangan air.
  • Segera padamkan listrik dan gas di rumah.
  • Pantaulah informasi penting yang disampaikan melalui radio, televisi, atau apapun yang ada di sekitar Anda.
  • Bersiaplah untuk kemungkinan mengungsi.
  • Perhatikan kondisi air, apakah terus meningkat atau tidak.
  • Jika hujan tidak berhenti dan air kelihatan tidak surut atau bahkan meningkat, segeralah mengungsi ke tempat yang aman atau ke tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat.
  • Jika ada imbauan mengungsi, segera lakukan dengan tetap tenang dan tertib.
  • Jika terjebak dalam rumah, cobalah untuk tenang. Berusahalah untuk mencari pertolongan dengan menghubungi kerabat, PMI, kantor pemerintah, atau polisi.
  • Tetaplah menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Usahakan untuk tidak tidur di tempat terbuka.

Yang perlu dilakukan setelah banjir

Usai banjir, Anda mungkin terpikir untuk kembali ke rumah. Oleh karena itu, ikutilah langkah-langkah berikut ini:

  • Jika mengungsi, kembalilah ke rumah jika keadaan sudah benar-benar aman.
  • Jangan langsung masuk ke dalam rumah, lihatlah situasi dengan saksama.
  • Periksalah lingkungan sekitar rumah kalau-kalau ada bahaya yang tersembunyi, seperti bagian rumah yang roboh, kabel beraliran listrik, bocoran gas, atau binatang berbahaya.
  • Gunakan selalu alas kaki.
  • Mulailah membersihkan rumah dan lingkungan sekitar Anda.
  • Cucilah perlengkapan makan dan barang lainnya dengan sabun anti kuman.
  • Perhatikan kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan agar terhindar dari berbagai penyakit.

Selalu ingat bahwa setelah banjir surut, sampah yang hanyut, kotoran lumpur, dan genangan air masih ada di sekitar rumah. Berbagai penyakit bisa berjangkit, terutama disebabkan oleh air yang kotor, cara hidup tidak sehat, dan binatang seperti lalat, nyamuk, dan tikus. Jenis penyakit yang sering berjangkit antara lain: batuk dan pilek, Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA), flu, penyakit kulit, diare dan muntaber, demam berdarah, dan leptospirosis.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Palang Merah Indonesia (PMI) Divisi Penanggulangan Bencana. (2008). Ayo Siaga Bencana: Palang merah remaja wira. Jakarta: Markas PMI Pusat.

Foto Penulis
Ditulis oleh Adinda Rudystina pada 14/08/2016
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x