home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Manusia Bisa Meninggal Dalam Kondisi Berdiri?

Apakah Manusia Bisa Meninggal Dalam Kondisi Berdiri?

Kematian adalah sebuah misteri. Tidak ada yang mengetahui kapan akan datangnya. Tak hanya masalah waktu, kematian juga tidak tahu akan datang saat Anda sedang melakukan apa. Mungkin Anda pernah mendengar seseorang meninggal dalam posisi duduk, tidur, atau bahkan saat sujud ketika beribadah. Penasarankah Ada, apakah manusia bisa meninggal ketika berdiri tegak? Jika dirunut secara logika, rasanya tidak mungkin karena gaya gravitasi bumi akan menarik jatuh tubuh yang tak lagi bernyawa. Namun ternyata, kondisi mati berdiri mungkin saja terjadi lho!

Mati berdiri adalah fenomena langka

Dalam dunia medis, mati berdiri adalah istilah untuk menggambarkan kondisi kaku mayat alias rigor mortis, yang juga disebut kematian kaku.

Fenomena langka ini pernah terjadi pada seorang prajurit asal Jepang. Prajuit tersebut diketahui mati berdiri kaku setelah bertempur untuk melindungi prajuit lainnya. Ironisnya, tidak ada yang mengetahui bahwa ia telah lama meninggal karena posisi berdiri tegaknya yang disangka tengah mengawasi keadaan sekitar.

Apa sebabnya seseorang bisa meninggal dalam posisi berdiri?

Meninggal dalam posisi tubuh kaku diakibatkan terhentinya asupan oksigen di sekujur tubuh pasca kematian. Tidak adanya oksigen di dalam tubuh menyebabkan produksi senyawa kimia ATP (adenosine triphosphate) ikut terhenti.

ATP adalah sumber energi yang penting dalam tubuh. ATP digunakan untuk membantu otot bekerja (berkontraksi ketika digunakan dan melemas ketika beristirahat). ATP jugalah yang membantu regenerasi sel otot yang rusak. Seiring menipisnya asupan oksigen dan kadar ATP, metabolisme tubuh juga berhenti sehingga tubuh akan kaku.

Umumnya kaku mayat mulai perlahan terjadi 3 sampai 4 jam setelah meninggal. Tubuh akan benar-benar kaku total setelah 7 sampai 12 jam. Setelah kira-kira 36 jam atau dua hari sesudahnya, otot-otot yang kaku pun akan melemas kembali. Pelemasan otot-otot ini memicu usus untuk mendorong dan membuang sisa-sisa racun dan cairan keluar dari dalam tubuh.

Namun, risiko seseorang untuk meninggal dalam keadaan berdiri kaku akan lebih tinggi bila sesaat sebelum kematian tubuhnya telah menghabiskan ATP dalam jumlah banyak. Misalnya dengan melakukan olahraga berat saat tubuh sudah kelelahan.

Tubuhnya akan lebih cepat kekurangan oksigen sehingga ATP menipis dengan cepat. Akhirnya tubuh akan lebih cepat atau langsung mengalami kekauan saat meninggal. Inilah yang menyebabkan seseorang bisa mati berdiri mendadak.

Pada kasus yang pernah terjadi oleh prajurit asal Jepang, oksigen dan ATP menipis karena berkelahi melawan ratusan tentara dan tubuhnya penuh tertancap begitu banyak anak panah dari musuh. Seseorang yang mengalami luka dalam yang menempel di badan (seperti panah-panah yang menancap menembus tubuh) dapat menjaga postur tubuh mayat tetap dalam posisi berdiri dan tidak menekuk saat meninggal.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Standing Death https://blogs.unimelb.edu.au/sciencecommunication/2012/08/28/standing-death/ diakses 19 Januari 2018.

Life after death: the science of human decomposition https://www.theguardian.com/science/neurophilosophy/2015/may/05/life-after-death diakses 19 Januari 2018.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Andisa Shabrina
Tanggal diperbarui 31/01/2018
x