home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Makanan yang Terlalu Pedas Bisa Bikin Tuli Sementara?

Kenapa Makanan yang Terlalu Pedas Bisa Bikin Tuli Sementara?

Masih ingat tantangan makan mie super pedas asal Korea yang sempat booming belum lama ini? Bagi para pecinta makanan pedas, mungkin tantangan makan mie ini terkesan nikmat. Tapi, lain cerita bagi yang memang tidak menyukai pedas. Pasalnya, makan secuil mienya saja mungkin akan membuat keringat mengalir deras di dahi.

Kemudian belum lama ini juga ada seorang vlogger asal Indonesia yang bernama Ben Sumadiwiria mengaku tuli sementara setelah mengonsumsi makanan super pedas. Peristiwa ini sontak menghebohkan dunia maya.

Lantas, apa kata para ahli terkait peristiwa ini? Apa benar makanan yang terlalu pedas bisa membuat tuli? Ketahui jawabannya dalam artikel ini.

Tuli akibat mengonsumsi makanan super pedas, bukan mitos belaka

Efek tuli, atau “budeg” sementara yang ditimbulkan akibat mengonsumsi makanan yang super pedas ini pada dasarnya terjadi karena pengaruh zat kimia dalam cabai yang disebut dengan capsaicin.

Capsaicin adalah senyawa komponen bioaktif yang memiliki banyak manfaat untuk ketahanan tubuh terhadap infeksi. Tapi di sisi lain, capcaisin ini merupakan senyawa pemicu sensasi panas yang bisa memicu iritasi pada sel manusia, terutama yang terletak di membran mulut, tenggorokan, lambung, dan mata.

Dalam jumlah sedikit, capsaicin umumnya hanya akan memicu sensasi panas yang memberikan sedikit rasa hangat seperti menimbulkan efek “kegerahan” saat Anda kepedasan. Namun, ketika Anda mengonsumsi makanan yang super pedas semakin banyak, tubuh secara otomatis akan memproduksi ingus dan air mata sebagai bentuk pertahanan tubuh untuk melawan capsaicin. Hasilnya, Anda akan mengalami hidung meler, mulut berair karena terjadi peningkatan air liur dalam mulut, dan tentunya mengeluarkan keringat.

Nah, tuli sementara yang diakibatkan makan makanan pedas ini bisa dipicu karena adanya sumbatan lendir atau ingus di saluran eustachius, yaitu saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan telinga.

Penyebab tuli setelah mengonsumsi makanan pedas

Michael Goldrich, seorang ahli otolaringologi dari Robert Wood Johnson University Hospital di New Jersey mengatakan, sensasi tuli sementara itu sebenarnya mirip dengan “bindeng” saat flu. Hanya saja, sumbatan ingus lebih banyak sehingga tak hanya “bindeng” tetapi sampai menyebabkan tuli.

Kemungkinan lain seseorang mengalami tuli sementara setelah mengonsumsi makanan pedas adalah kerena mendapatkan stimulus yang berlebihan pada saraf trigeminal, yaitu saraf pada bagian mulut dan wajah yang berhubungan dengan saraf koklea di telinga.

Akibatnya, akan terjadi perubahan aliran darah di bagian koklea sehingga menyebabkan hilangnya pendengaran sementara, ungkap Sam Marzo, kepala Department of Otolaryngology di Loyola Medicine, seperti dikutip dari laman Livescience.

Tak hanya memicu tuli sementara, capsaicin ternyata juga memicu sekresi endorphin, hormon yang meredakan stress dan memicu rasa bahagia. Maka, tak mengerankan jika setelah makan makanan pedas, manusia bisa lebih rileks. Hilang pendengaran akibat makanan pedas biasanya hanya berlangsung sebentar. Jika bertahan berhari-hari, maka penderita harus segera ke dokter.

Mengonsumsi makanan pedas boleh saja, asalkan….

Pada dasarnya seberapa besar sensasi panas yang Anda rasakan bergantung pada tingkat sensitivitas tubuh Anda terhadap rasa pedas itu sendiri. Dalam beberapa kasus, makanan pedas dapat mempengaruhi atau memperburuk sebuah kondisi medis.

Namun, efek dari makanan pedas ini hanya meningkatkan intensitas gejala kondisi medis tertentu, bukan sebagai faktor risiko penyebab penyakit. Itu sebabnya, bagi Anda yang mengalami perut yang sensitif, entah itu karena penyakit tertentu atau gangguan pencernaan lainnya, Anda sebisa mungkin harus membatasi makanan pedas dalam jumlah yang berlebihan.

Selain itu, hindari mengonsumsi makanan pedas pada malam hari menjelang tidur. Pasalnya, mengonsumsi makanan pedas menjelang tidur bisa menyebabkan gangguan pencernaan yang membuat Anda kesulitan untuk tidur nyenyak. Bahkan, ini juga berlaku bagi orang yang memang sudah terbiasa mengonsumsi makanan pedas.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Spicy Food Made Man Go Temporarily Deaf – https://www.livescience.com/60115-spicy-food-made-man-go-temporarily-deaf.html diakses pada 29 Agustus 2017

Why Is It That Eating Spicy, “Hot” Food Causes the Same Physical Rreactions As Does Physical Heat (Burning and Sweating, for Instance)? https://www.scientificamerican.com/article/why-is-it-that-eating-spi/ diakses pada 29 Agustus 2017

Can Eating The World’s Hottest Pepper Kill You? How Spicy Foods Affect The Body http://www.medicaldaily.com/can-eating-worlds-hottest-pepper-kill-you-how-spicy-foods-affect-body-330042

Personality Factors Predict Spicy Food Liking and Intake – https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3607321/ diakses pada 29 Agustus 2017

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal diperbarui 17/09/2017
x