home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Duduk Terlalu Lama Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kematian

Duduk Terlalu Lama Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kematian

Apakah Anda sering beraktivitas di depan komputer seharian, atau asyik menonton televisi dengan rentang waktu duduk yang berjam-jam? Jika iya, mulai sekarang Anda harus mengubah kebiasaan duduk berlama-lama jika tidak ingin terjangkit penyakit berbahaya. Apa saja dampak buruk jika Anda duduk terlalu lama?

Duduk terlalu lama bisa meningkatkan risiko kematian

Hampir empat persen (sekitar 433.000 per tahun) kematian di dunia ini ternyata disebabkan oleh kebiasaan orang-orang yang menghabiskan waktunya lebih dari tiga jam untuk duduk tanpa berpindah-pindah.

Berbagai penelitian dalam sepuluh tahun terakhir juga menjelaskan bagaimana efek dari duduk terlalu lama bagi kesehatan baik dengan atau tanpa berolahraga.

Studi baru yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine, memperkirakan kematian disebabkan efek duduk terlalu lama pada warga 54 negara menggunakan data dari 2002 hingga 2011.

Mengapa duduk terlalu lama merugikan kesehatan?

1. Terlalu banyak duduk dapat membuat tulang belakang stres

Sebanyak 30 persen beban tambahan akan dirasakan tulang punggung saat duduk ketimbang Anda berdiri.

Michael Lanning ahli terapi tulang punggung dari Gonstead Clinics Amerika Serikat, mengatakan bahwa duduk di kursi adalah bentuk kurang natural ketika seseorang ingin beristirahat. Pada dasarnya, tubuh manusia tidak didesain untuk duduk di kursi, tapi didesain untuk jongkok.

Masyarakat Asia dan Afrika masih menggunakan jongkok sebagai bentuk relaksasi ketika mereka merasa lelah. Beberapa orang di Asia lebih memilih jongkok saat menanti kereta atau bus yang akan mereka tumpangi. Uniknya, posisi jongkok ini justru mencegah stres pada tulang belakang.

Artinya, ketika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu duduk di kursi, maka tubuh akan beradaptasi dengan kebiasaan yang tidak sesuai dengan geometri tubuh, dan tentu hal ini dapat memicu gangguan kesehatan seperti, gangguan peredaran darah (penyakit kardiovaskular), penurunan kekuatan otot, penyusutan otot, mudah cedera hingga serangan kanker.

2. Pembekuan pembuluh vena dalam (DVT)

Hal yang paling diwaspadai dari dampak gaya hidup sedentari atau kurang aktif ini adalah meningkatnya kemungkinan mengalami risiko pembekuan pembuluh vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) hingga dua kali lipat.

Professor Richard Beasley dari Wellington Hospital di Selandia Baru menyatakan bahwa ancaman bahaya akan menghampiri bila Anda kerja delapan jam tiap hari dengan hanya berkutat di sekitar meja, atau menghabiskan tiga jam berturut-turut dengan sekadar duduk mengoperasikan laptop.

Kasus DVT biasanya sering terjadi pada orang dalam penerbangan jarak jauh yang memerlukan waktu berjam-jam dan mengharuskan duduk terlalu lama. Pembekuan darah terjadi di pembuluh vena dan biasanya pada bagian betis. Jika pembekuan ini tidak dicairkan dengan obat pengencer darah, biasanya akan pecah dan terbawa ke paru-paru dan berujung pada emboli paru yang mematikan.

Beasley menganjurkan pekerja kantoran untuk melakukan rutin melakukan peregangan otot untuk mempertahankan kelancaran aliran darah. Sebuah riset di Italia pun mengindikasikan peregangan dan relaksasi menurunkan kasus sakit kepala para karyawan hingga 40 persen.

3. Meningkatkan risiko penyakit berat

Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Universitas Leicester di Inggris yang dimuat pada jurnal Diabetologia tersebut mengindikasikan bahwa duduk terlalu lama dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit berat, seperti serangan jantung, diabetes, bahkan sampai kematian dini.

Penyakit jantung dan diabetes berpeluang diderita oleh orang yang sering duduk di atas 8 jam setiap harinya. Bahkan, sekalipun telah membiasakan diri dengan aktif berolahraga selama minimal 30 menit tiap hari, namun kemudian masih duduk selama berjam-jam dalam tiap harinya, risiko terjangkit penyakit-penyakit tersebut tetap tinggi.

Untuk rata-rata orang dewasa, berdiri dapat membakar lebih banyak kalori dan menyebabkan lebih banyak kontraksi otot daripada duduk. Satu studi melaporkan rata-rata aktivitas otot paha saat berdiri 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan saat duduk.

4. Meningkatkan risiko kematian

Jurnal Medicine and Science in Sport and Exercise menjelaskan hasil penelitian bahwa orang yang memiliki kebiasaan duduk selama 23 jam dalam seminggu menjadi alasan kuat seseorang terkena penyakit jantung.

Secara gamblang, hasil penelitian itu menyebutkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan duduk terlalu lama (lebih dari 23 jam seminggu) memiliki risiko kematian 63% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang duduk kurang dari 11 jam per minggunya. Penelitian penting tersebut dilakukan pada sekitar 17.000 orang di Kanada.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditulis oleh Yuliati Iswandiari Diperbarui 17/06/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x