backup og meta

Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Cara Lindungi Diri

PengertianBahayaPencegahan

Letusan gunung berapi kerap membuat daerah sekitarnya mengalami hujan abu. Seperti yang terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, debu Krakatau yang terbawa angin dapat menyebar ke wilayah di sekitarnya dan berdampak pada kesehatan. Apa saja bahaya abu vulkanik dan bagaimana cara melindungi diri dari paparannya? Berikut pembahasannya.

Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Cara Lindungi Diri

Apa itu abu vulkanik?

Indonesia termasuk dalam kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Karena letaknya berada pada pertemuan lempeng bumi, Indonesia rawan mengalami bencana alam, seperti gunung meletus.

Abu vulkanik disemburkan ke udara saat erupsi atau letusan gunung berapi. Material abu dapat menyebar hingga jarak yang jauh dari letusan karena kondisi iklim daerah tersebut.

Hal ini membuat dampak abu vulkanik dari letusan gunung, termasuk Gunung Krakatau, dapat dirasakan hingga ke wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.

Partikel debu vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter (mm). Partikel ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan gelas vulkanik yang terasa mirip butiran pasir hingga bubuk halus.

Beberapa gas berbahaya juga bisa terbawa dalam abu vulkanik Krakatau maupun gunung berapi sejenisnya, seperti karbon dioksida (CO2) dan sulfur dioksida (SO2) yang bahkan dapat menyebabkan hujan asam.

Apa bahaya abu vulkanik bagi kesehatan?

Abu vulkanik bersifat keras, abrasif (mengikis), dan tidak larut dalam air. Hal inilah yang menyebabkan abu dari letusan gunung berapi ini berdampak buruk bila terhirup atau masuk ke dalam tubuh.

Bahaya abu vulkanik dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada jumlah dan lamanya paparan serta kondisi kesehatan masing-masing.

Jika Anda berada di wilayah yang terdampak debu vulkanik Anak Krakatau, berikut ini beberapa bahayanya yang perlu Anda waspadai.

1. Gangguan pernapasan akut

gejala asma

Bahaya abu vulkanik yang utama adalah meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, orang dewasa yang lebih tua, serta orang dengan penyakit paru-paru, seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Paparan abu vulkanik juga dapat memperburuk gejala asma dan menyebabkan gangguan pernapasan akut, terutama pada orang yang memiliki saluran pernapasan sensitif.

Beberapa gejala akut atau jangka pendek yang umumnya muncul yakni:

  • pilek,
  • hidung berair,
  • batuk kering atau berdahak,
  • sakit tenggorokan,
  • sesak napas, dan
  • napas berbunyi nyaring (mengi).

Kondisi ini juga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan atas dan bawah. Fungsi paru-paru yang terganggu juga bisa membuat proses bernapas menjadi tidak nyaman.

2. Masalah penglihatan

Bahaya abu vulkanik pada kesehatan mata disebabkan karena bentuk partikelnya yang tajam dan runcing. Sifat abrasif dari abu juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

Konjungtivitis terjadi saat lapisan transparan pada mata (konjungtiva) mengalami peradangan sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman dan mengganggu penglihatan.

Beberapa tanda mata yang terkena konjungtivitis akibat abu vulkanik antara lain:

  • rasa mengganjal seperti ada benda asing dalam mata,
  • mata merah,
  • mata terasa nyeri dan gatal, dan
  • mata berair hingga mengeluarkan kotoran.

Paparan abu vulkanik juga bisa menyebabkan abrasi kornea, yakni kondisi tergoresnya kornea. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan ini bisa menyebabkan kerusakan kornea permanen.

3. Iritasi kulit

Selain karena sifat abrasifnya, abu vulkanik dari gunung berapi seperti Gunung Anak Krakatau juga dapat menyebabkan iritasi kulit karena bersifat asam.

Saat erupsi, gunung berapi dapat melepaskan abu sekaligus gas vulkanik seperti sulfur dioksida (SO₂) yang dapat berkontribusi terhadap sifat asam pada abu.

Konsentrasi dan jenis senyawa kimia yang meningkatkan derajat keasaman (pH) abu vulkanik bervariasi, tergantung pada lokasi, sumber, dan jenis gunung berapinya.

Beberapa ciri iritasi kulit akibat paparan abu vulkanik yakni kulit terasa gatal, bengkak, kemerahan, dan munculnya bercak ruam yang panas atau perih.

4. Silikosis

Silikosis adalah bahaya jangka panjang akibat abu vulkanik. Masalah paru-paru ini disebabkan oleh paparan debu silika pada saluran pernapasan dalam waktu yang lama.

Silika merupakan zat kimia yang terdapat dalam abu vulkanik. Zat ini utamanya tersedia dalam bentuk kristal silika bebas dan silikon dioksida (SiO2).

Gejala penyakit silikosis yang perlu Anda waspadai antara lain:

  • batuk berdahak atau kering,
  • napas berbunyi nyaring (mengi),
  • sesak napas,
  • nyeri dada,
  • demam, dan
  • penurunan berat badan.

Paparan silika jangka panjang bisa menimbulkan luka dan jaringan parut dalam paru-paru. Jika tidak segera ditangani, hal ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian.

Bagaimana cara melindungi diri dari abu vulkanik?

masker n95

Terdapat banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk melindungi diri dari bahaya abu vulkanik. Cara mengatasi abu vulkanik dapat dilakukan dengan mengurangi paparan dan membersihkan abu dengan langkah yang tepat.

Berikut ini beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan.

  • Tetap berada di dalam ruangan yang tidak terkena abu dan tutup semua celah, seperti pintu, jendela, dan ventilasi.
  • Gunakan masker N95 atau masker medis. Pastikan masker berukuran pas sehingga bisa menutupi hidung dan mulut dengan rapat.
  • Pakailah kacamata pelindung, kacamata renang, atau kacamata biasa untuk melindungi mata dari dampak abu vulkanik. 
  • Lepaskan lensa kontak bila Anda sedang menggunakannya ketika letusan gunung terjadi.
  • Bersihkan abu vulkanik dengan cara membasahinya terlebih dahulu. Jangan menyapu dengan cara kering karena bisa membuat debu beterbangan kembali.

Memperhatikan panduan keselamatan gunung meletus seperti di atas dapat membantu Anda dan orang terdekat selamat saat menghadapi bencana alam.

Tetap tenang dan selalu perhatikan instruksi darurat yang ada. Perhatikan apakah Anda harus tetap di berada rumah atau segera pergi ke lokasi pengungsian.

Jika Anda mengalami gangguan pernapasan, iritasi mata, atau masalah kulit akibat paparan abu vulkanik, segera hubungi dokter atau petugas medis terdekat.

Kesimpulan

  • Abu vulkanik adalah material yang disemburkan ke udara saat letusan gunung berapi.
  • Beberapa bahaya abu vulkanik bagi kesehatan yakni gangguan pernapasan seperti ISPA, masalah penglihatan, iritasi kulit, hingga penyakit silikosis.
  • Ikuti panduan keselamatan saat gunung meletus untuk melindungi dan mencegah diri Anda terdampak abu vulkanik dan bahaya lainnya.
  • Konsultasikan dengan dokter bila Anda mengalami masalah kesehatan akibat abu vulkanik.

Kalkulator BMI (IMT)

health-tool-icon

tahun

Apakah Anda berminat program manajemen berat badan?

Tahukah Anda perawatan dengan GIP dan GLP-1?

*Jenis pengobatan dan perawatan terbaru yang membantu manajemen berat badan dan Diabetes Tipe 2

Ikuti terus infonya agar berat badan terjaga: Dapatkan update dari pakar mengenai dukungan dan perawatan berat badan langsung ke inbox Anda.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Key Facts About Volcanic Eruptions. (2009). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved September 6, 2026, from https://stacks.cdc.gov/view/cdc/48458

Health impacts of volcanic ash. (n.d.). International Volcanic Health Hazard Network. Retrieved September 6, 2026, from https://www.ivhhn.org/node/8

Williams, G. (2012). Volcanic Ash: More Than Just A Science Project. Geology and Human Health. Retrieved September 6, 2026, from https://serc.carleton.edu/NAGTWorkshops/health/case_studies/volcanic_ash.html

Volcanic Eruptions. (n.d.). American Lung Association. Retrieved September 6, 2026, from https://www.lung.org/clean-air/emergencies-and-natural-disasters/volcanic-ash

Learn About Silicosis. (2022). American Lung Association. Retrieved September 6, 2026, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/silicosis/learn-about-silicosis

Pink eye (conjunctivitis). (2020). Mayo Clinic. Retrieved September 6, 2026, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pink-eye/symptoms-causes/syc-20376355

Corneal abrasion (scratch): First aid. (2022). Mayo Clinic. Retrieved September 6, 2026, from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-corneal-abrasion/basics/art-20056659

Murniasih, S., Darsono, D., Sukirno, S., & Saefurrochman, S. (2019). Distribution pattern of volcanic ash essential elements on the top layer of agricultural land post Merapi eruption in Sleman. Indonesian Journal of Chemistry, 19(4), 944–950. https://doi.org/10.22146/ijc.38348

Versi Terbaru

06/09/2026

Ditulis oleh Satria Aji Purwoko

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari


Artikel Terkait

Penanggulangan Gempa Bumi yang Wajib Anda Ketahui

Hal yang Perlu Anda Lakukan Saat Menghadapi Bencana Tsunami


Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 2 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan