Sering Headbang Saat Konser Metal? Awas Otak Rusak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kalau Anda sering datang ke gigs atau suka menonton konser dan festival musik rock, punk, atau metal, pasti tahu kan, istilah head banging atau headbang?

Ketika masih remaja atau mungkin sampai sekarang, Anda mungkin suka menikmati musik-musik cadas nan kencang itu sambil mengangguk-anggukkan kepala Anda. Tapi tahukah Anda kalau sebenarnya headbang itu ternyata berbahaya?

WebMD.com pada tahun 2008 lalu melaporkan bahwa headbang bisa berbahaya untuk otak, tepatnya bisa mencederai otak dan bahkan bisa menyebabkan stroke! Waduh…

Temuan bahwa headbang berbahaya ini diungkapkan oleh dua peneliti dari University of New South Wales di Australia. Kedua peneliti ini yaitu professor Andrew McIntosh dan asistennya, Declan Patton, menemukan bahwa menggerakkan kepala ke atas dan ke bawah dengan cepat, memutar kepala dengan kencang, atau menggerakkan kepala dan leher ke sana ke mari saat mendengarkan musik, bisa meningkatkan risiko cedera. Risiko tersebut makin tinggi ketika tempo musiknya juga tinggi.

Ada bisa mengurangi risiko cedera dengan menggunakan pelindung leher atau menggerakkan kepala Anda secara perlahan, kata dua peneliti tersebut.

Andrew dan Declan melakukan penelitiannya dengan mengunjungi berbagai konser musik metal, seperti Motorhead, Ozzy Osbourne, dan Skid Row. Mereka melihat bahwa headbang sering sekali dilakukan para penonton yang datang. Sampai akhirnya mereka membuat teori risiko hubungan antara cedera otak dan tempo musik, serta jarak pergerakan leher dan kepala. Mereka menemukan peningkatan risiko cedera leher saat musik mencapai tempo 130 beat per menit.

Mereka kemudian menemukan bahwa setiap 146 beat per menit, para penonton akan melakukan headbang. Ini disimpulkan setelah membuat daftar dari 11 lagu yang bisa membuat seseorang melakukan headbang. Headbang yang bisa menyebabkan sakit kepala dan pusing, terjadi ketika pergerakan leher dan kepala lebih besar dari 75 derajat.

Kedua peneliti ini pun memberikan saran kepada para musisi agar setiap kali merilis album untuk menyertakan juga peringatan untuk para pendengar dan penontonnya supaya melakukan headbang dengan hati-hati.

Bisa terjadi perdarahan di otak

Pada tahun 2014 lalu, The Daily Beast juga melaporkan sebuah studi kasus baru yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet, yang mengungkapkan bahwa head banging menyebabkan kerusakan otak, karena otak akan beradu dengan tengkorak kepala.

Penelitian tersebut dilakukan karena adanya kasus yang menimpa penggemar musik heavy metal di Jerman, yang otaknya mengalami perdarahan setelah melakukan headbang saat menonton konser Motorhead.

Pria berusia 50 tahun ini mengeluh sakit kepala selama dua minggu dan akhirnya dirawat di Hannover Medical School. CT scan memperlihatkan adanya perdarahan otak (subdural hematoma kronis) di bagian otak kanannya. Kepada dokter, pria tersebut mengatakan bahwa dirinya sudah sering melakukan headbang selama bertahun-tahun.

Salah satu dokter yang merawatnya, Dr. Ariya Pirayesh Islamian, mengatakan bahwa para dokter tidak menentang seseorang melakukan headbanging. Menurut Dr. Ariya, risiko headbang sendiri sangat, sangat rendah.

“Tapi saya pikir jika pasien kami pergi ke konser klasik, hal ini tidak akan terjadi,” kata Dr. Ariya.

Seorang ahli bedah saraf dan wali dari Headway (kelompok advokasi cedera otak di Inggris), Dr. Colin Shieff, mengatakan bahwa mungkin ada risiko lain yang lebih tinggi di konser musik rock selain head banging.

“Kebanyakan orang yang pergi ke festival musik dan melompat-lompat sambil menggelengkan kepala tidak berakhir di tangan seorang ahli bedah saraf,” papar Dr. Colin.

Namun, apabila Anda ingin tetap menikmati musik kencang seperti punk, rock, dan metal, sekaligus ingin menikmatinya dengan headbanging, ada baiknya mengikuti apa yang disarankan professor Andrew McIntosh dan asistennya, Declan Patton tadi, yaitu melakukannya dengan tidak berlebihan.

Bila Anda merasa ada yang salah dengan kepala Anda atau Anda merasa sakit kepala berkepanjangan setelah ber-headbang ria di konser musik, ada baiknya Anda segera pergi ke dokter untuk memeriksanya.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah kondisi pembesaran ukuran kepala bayi karena penumpukan cairan. Kenali penyebab, gejala, dan pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

5 Efek Musik Terhadap Kinerja Otak Manusia

Manfaat musik bukan hanya sebagai hiburan saja. Tahukah Anda bahwa salah satu efek musik adalah mempermudah otak belajar bahasa baru? Apa lagi?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Kesehatan Otak dan Saraf 1 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Mengenal 4 Tahapan Tidur: Dari “Tidur Ayam” Hingga Tidur Pulas

Jika Anda mengira mimpi muncul saat Anda tidur nyenyak, Anda salah. Mimpi dan fase tidur nyenyak ternyata merupakan dua tahapan tidur yang berbeda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Pola Tidur Sehat 1 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Meningkatkan Fokus, Juga Mengasah Kreativitas

Senam tak hanya untuk tubuh, senam otak yang dapat mengasah pikiran Anda dan membuat Anda lebih fokus. Bagaimana gerakan dasar senam otak dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf 29 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kanker otak glioblastoma

Glioblastoma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 10 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
meningioma adalah

Meningioma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
penyakit gondok

Gondok

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
gegar otak adalah

Gegar Otak

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit