Cara Menyesuaikan Diri dengan Tegang Otot (Spastik) Pasca Stroke

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Tegang otot alias spastik adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah serangan stroke. Biasanya, tegang otot muncul berbulan-bulan bahkan setahun pasca stroke, dan akan semakin tampak seiring pemulihan. Tegang otot memang cukup menyulitkan dan merupakan masalah yang tidak menyenangkan bagi pada penderita stroke, namun ada beberapa solusi untuk mengontrolnya.

Apa yang dimaksud dengan tegang otot atau spastisitas?

Otot yang terasa kaku, tegang, tidak dapat digerakkan serta tidak fleksibel dikenal sebagai tegang otot atau spastisitas.

Pasca serangan stroke, lengan, kaki atau bahkan wajah akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan ini terjadi akibat penderita stroke tidak mampu mengendalikan gerakan otot mereka. Namun, sering kali setelah serangan stroke, kelemahan pada otot justru terjadi dalam posisi yang kaku atau tegang dan membuat penderita menjadi tidak nyaman.

Ada kalanya penderita masih dapat menggerakkan otot-ototnya jika tingkat spastisitas ringan, tetapi gerakan yang dihasilkan malah tidak karuan dan tidak natural. Apabila diperhatikan, tampak bahwa otot berada pada posisi yang tidak biasa atau justru bengkok pada saat istirahat.

Spastisitas itu seperti apa?

Sering kali, rasa kaku serta lemah pada otot membuat penderita merasa sedang bergerak sangat lambat atau seperti sedang membawa beban berat pada ototnya. Kadang, otot akan terasa sakit saat sedang istirahat maupun bila digerakkan. Misalnya, jika seseorang mengalami spastisitas pada lengannya, kemungkinan ia akan merasakan ketegangan otot di lengan atau area sekitarnya, termasuk leher atau punggung. Biasanya, penderita tidak akan dapat segera merasakan sakit akibat tegang otot setelah serangan stroke, namun otot-otot yang berada di area sekitarnya akan terasa sakit setelah berbulan-bulan terjadinya tegang otot.

Apa yang dapat dilakukan untuk menangani spastisitas?

Pastikan selalu rutin berolahraga untuk mencegah kambuhnya tegang otot. Kadang, kemungkinan penderita membutuhkan bantuan orang lain untuk bergerak. Terapi fisik serta latihan rutin yang dilakukan di rumah dapat membantu mengurangi tegang otot atau spastisitas.

Banyak penderita spastisitas mengeluhkan terapi fisik yang sulit dan membuat tidak nyaman pada tahap awal, namun seiring bergulirnya waktu, terapi ini telah terbukti dapat melenturkan otot-otot yang kaku.

Resep obat yang mengendurkan tegang otot dapat membantu ketika terapi dan latihan tidak cukup meringankan spastisitas. Beberapa orang tidak dapat menggunakan pengendur otot akibat munculnya efek samping, seperti kelelahan dan pusing.

Pilihan pengobatan lain untuk meredakan spastisitas yakni suntikan pengendur otot atau toksin botulinum. Obat suntikan ini dapat bekerja pada beberapa orang, namun tidak semua, dan sering kali pengobatan jenis ini harus diulangi dalam interval yang telah diatur karena efek yang dihasilkan obat akan hilang setelah beberapa saat.

Adakah studi terkini seputar pemulihan spastisitas atau tegang otot?

Studi penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa pada kenyataannya spastisitas dapat disembuhkan. Secara keseluruhan tampak bahwa seiring dengan pulihnya spastisitas, terdapat bukti yang menunjukkan aktivitas di bagian otak yang terserang stroke juga mulai pulih. Dengan demikian, melatih otot-otot yang terserang spastisitas merupakan salah satu dari sekian banyak cara untuk membantu jaringan otak pulih pasca serangan stroke.

Bagaimana cara bertahan jika saya mengalami spastisitas?

Spastisitas memang membuat penderita menjadi tidak nyaman dan kadang menyakitkan. Apabila Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah kepada spastisitas, perlu diketahui bahwa ada solusi dan Anda tak perlu khawatir.

Bahkan yang lebih penting, apabila Anda membiarkan spastisitas tidak diobati untuk waktu yang lama, otot yang kaku akan semakin kaku. Seiring waktu, hal ini akan membuat Anda lebih sulit bergerak, menyebabkan kecacatan serta sebuah siklus yang mempersulit pemulihan stroke.

Apa yang perlu diingat?

Jika Anda merasa mengalami tegang otot atau spastisitas, bicaralah dengan dokter atau terapis fisik untuk mendapatkan pengobatan yang tepat bagi gejala spastisitas Anda. Biasanya, pengobatan medis atau terapi fisik tidak cukup memberikan hasil yang maksimal, sehingga memerlukan terapi berkelanjutan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Abses Hati

Abses hati adalah kantung nanah yang terbentuk di hati karena infeksi dan dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani segera.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 6 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Uretrotomi

Uretrotomi adalah sebuah prosedur untuk memperlancar aliran urine. Pelajari lebih lanjut tentang definisi, proses, dan risikonya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Urologi, Kandung Kemih 5 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Azoospermia (Air Mani Tidak Mengandung Sperma)

Sekiranya 15% pria yang tidak subur disebabkan oleh azoospermia. Jika Anda belum juga punya momongan setelah tahunan berusaha, bisa jadi ini penyebabnya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Masalah Kesuburan, Kesuburan, Kehamilan 4 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Aldosteron

Tes kadar aldosteron dalam darah dapat dilakukan saat kesulitan mengontrol tekanan darah. Simak definisi, proses, dan penjelasan hasil testnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit degeneratif

Mengenali Jenis-jenis Penyakit Degeneratif yang Umum Terjadi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

5 Gangguan Kesehatan Akibat Duduk Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alfa-Amilase

Alfa-Amilase

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Anion Gap

Anion Gap

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit