backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

Kenali Perbedaan Sakit Kepala Cluster dan Migrain

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui kemarin

Kenali Perbedaan Sakit Kepala Cluster dan Migrain

Anda mungkin sudah familiar dengan rasa sakit kepala yang muncul di satu sisi saja. Tak heran jika Anda kemudian menyebutnya migrain, karena migrain identik dengan sakit kepala sebelah. Padahal, bisa saja kondisi yang Anda rasakan itu adalah sakit kepala cluster yang juga memang terpusat hanya pada satu bagian kepala. Lalu, apa perbedaan sakit kepala cluster dan migrain?

Perbedaan sakit kepala cluster dan migrain

Sakit kepala cluster dan migrain adalah dua jenis sakit kepala yang sangat menyakitkan, tetapi keduanya memiliki perbedaan masing-masing.

Berikut penjelasan mengenai beda antara sakit kepala cluster dan migrain dari berbagai sisi.

1. Lokasi nyeri

benarah migrain penyakit keturunan

Sakit kepala cluster,  alias cluster headache, biasanya terasa di sekitar satu sisi kepala, terutama di sekitar mata atau pelipis.

Rasa sakitnya sangat intens dan sering digambarkan sebagai nyeri yang menusuk atau terbakar.

Sementara itu, migrain adalah serangan sakit kepala berulang yang diikuti rasa nyeri yang biasanya parah dan sering membuat penderitanya merasa tidak berdaya.

Rasa sakitnya dapat terasa seperti berdenyut intens atau berupa rasa sakit ekstrem seperti dihantam oleh benda keras.

Rasa sakit berdenyut ini juga yang membedakan antara migrain dan vertigo, yaitu pusing yang menyebabkan penderitanya merasa sensasi seolah-olah lingkungan di sekitarnya berputar.

Sebagai perbedaan lainnya dengan sakit kepala cluster, migrain biasanya terasa di satu sisi kepala, tetapi bisa berpindah sisi atau terjadi di kedua sisi kepala.

2. Durasi dan frekuensi

Seperti namanya, sakit kepala cluster terjadi dalam serangan (cluster) yang bisa muncul beberapa kali dalam sehari, selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan.

Setelah periode ini, mungkin ada remisi di mana sakit kepala tidak terjadi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Pada sakit kepala cluster, nyeri bisa berlangsung antara 30—90 menit, seperti yang dilansir dari Mayo Clinic.

Berbeda dari sakit kepala cluster, nyeri di kepala bisa berlangsung antara 4—72 jam saat mengalami migrain.

Sakit kepala migrain bisa terjadi beberapa kali sebulan, tetapi frekuensinya bervariasi antar individu.

Jika migrain tidak segera diobati, rasa nyeri di sekitar area mata dan pelipis juga akan menjalar hingga sistem saraf pusat. Pada titik ini, rasa sakit akan sangat sulit untuk diatasi.

Migrain juga dikatakan parah jika penderita memiliki riwayat serangan setidaknya 2—5 kali serangan dengan pola yang sama.

Artikel terkait

3. Gejala tambahan

perbedaan migrain dan vertigo

Selain nyeri di kepala, sakit kepala cluster juga bisa disertai gejala tambahan.

Gejala tersebut meliputi mata merah dan berair di sisi yang terkena, kelopak mata bengkak, hidung tersumbat atau berair, berkeringat di wajah, dan gelisah atau tidak bisa duduk diam selama serangan.

Penderita sakit kepala cluster juga sering menggambarkan rasa gelisah atau tidak mampu tetap diam selama mengalami serangan.

Kondisi ini berbeda dengan migrain di mana pasien cenderung mencari tempat yang tenang dan gelap.

Pada kondisi migrain, gejala tambahan selain nyeri kepala juga bisa terjadi, di antaranya mual dan muntah; sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia), suara (fonofobia), atau bau; gangguan visual seperti aura (kilatan cahaya, bintik buta, atau pola zigzag); serta pusing atau vertigo.

Aura yang terjadi saat migrain adalah fenomena sensorik yang bisa terjadi sebelum atau selama sakit kepala dan bisa melibatkan penglihatan kabur, kilatan cahaya, atau gangguan lainnya.

4. Pemicu

Serangan sakit kepala cluster bisa dipicu oleh alkohol atau merokok, dan sering terjadi pada waktu yang sama setiap hari, terutama di malam hari.

Sementara itu, migrain bisa dipicu oleh berbagai faktor seperti stres, perubahan hormon (misalnya menstruasi), makanan tertentu (seperti cokelat atau keju), kafein, perubahan cuaca, kurang tidur atau tidur berlebihan, serta paparan lampu terang atau suara keras.

Selama bertahun-tahun, dokter dan ilmuwan memercayai bahwa migrain terkait dengan pembengkakan dan penyempitan pembuluh darah di permukaan otak.

Namun, saat ini para peneliti telah mampu menentukan bahwa pembuluh darah yang membengkak adalah satu dari sekian banyak rantai sebab-akibat serangan migrain, tetapi ini bukanlah penyebab utamanya.

Itu adalah beberapa perbedaan sakit kepala cluster vs migrain. Mengetahui perbedaan ini penting untuk diagnosis yang tepat dan pengobatan yang efektif.

Kesimpulan

  • Meski sama-sama bisa terjadi di satu sisi kepala, sakit kepala cluster dan migrain merupakan dua kondisi yang berbeda.
  • Perbedaan tersebut meliputi lokasi, durasi, dan tingkat keparahan nyeri, serta gejala tambahan dan pemicunya.
  • Dengan mengenali perbedaan dari kedua kondisi tersebut, pengobatan bisa dilakukan dengan lebih tepat dan efektif.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui kemarin

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan