Gejalanya Mirip, Apa Saja Perbedaan Asma dan PPOK?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Saat seseorang merasakan sesak napas, awalnya mungkin Anda menganggap hal ini biasa. Bisa jadi, Anda malah berpikir bahwa ini hanyalah asma ringan dan membiarkannya. Padahal bisa jadi sesak napas adalah tanda dari penyakit paru obstruktif kronis alias PPOK. Lantas, apa perbedaan asma dan PPOK? Bagaimana cara membedakan keduanya?

Mengapa Asma dan PPOK Sering Tertukar?

Gejala PPOK dan asma bisa tampak serupa, terutama sesak napas yang menjadi tanda dari kedua penyakit ini. Respon saluran napas yang berlebihan (saat saluran napas Anda sangat sensitif terhadap apa yang Anda hirup) adalah gejala yang umum dari asma dan PPOK.

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah istilah umum yang menggambarkan penyakit pernapasan progresif, seperti emfisema dan bronkitis kronis. PPOK ditandai dengan berkurangnya aliran udara dari waktu ke waktu, serta pembengkakan jaringan yang melapisi saluran napas.

Sementara itu, asma adalah penyakit yang berbeda sekalipun sama-sama menyerang sistem pernapasan Anda. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan (radang pada saluran napas) sehingga mengganggu suplai oksigen ke paru-paru. Meski berbeda, asma sering sebagai PPOK karena kemiripan gejalanya. Beberapa gejala asma dan PPOK yang umum muncul adalah batuk kronis, mengi, dan sesak napas.

Menurut National Institutes of Health (NIH), sekitar 24 juta warga Amerika menderita PPOK. Namun, setengahnya tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi itu. Memperhatikan gejala—terutama pada orang yang merokok—bisa membantu mereka dengan PPOK untuk didiagnosis sedini mungkin. Deteksi dini PPOK menjadi sangat penting karena dapat mempertahankan fungsi paru dengan lebih baik pada penderita PPOK.

Ketika seseorang memiliki PPOK, biasanya ia juga memiliki asma. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40 persen penderita PPOK juga memiliki asma. Asma dianggap sebagai salah satu faktor risiko untuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis ini. Anda juga lebih berisiko terkena kedua penyakit ini seiring dengan bertambahnya usia. 

Apa saja perbedaan asma dan PPOK?

Asma dan PPOK memiliki kemiripan gejala. Walapun mirip, bukan berarti Anda bisa meredakan gejalanya dengan memberikan perlakuan yang sama. Anda tetap harus mengetahui perbedaan asma dan PPOK karena terdapat beberapa perbedaan dalam pengobatan kedua kondisi ini.

Beberapa perbedaan asma dan PPOK yang mungkin dapat membantu Anda mengenali kedua penyakit itu adalah sebagai berikut.

Usia

Kedua penyakit ini sama-sama mengalami gangguan pada saluran napas, yaitu saluran pernapasan yang mengalami penyempitan. Gangguan ini akan memunculkan gejala berupa sesak napas atau mengi. Usia kemunculan gejala ini sering kali menjadi penanda perbedaan asma dan PPOK.

Umumnya, asma biasanya dapat didiagnosis sejak mereka masih kanak-kanak, mengutip Dr. Neil Schachter, direktur medis dari departemen perawatan pernapasan di Mount Sinai Hospital di New York. Sebaliknya, menurut NIH, sesak napas yang tak kunjung hilang yang muncul pada orang dewasa di atas 40 tahun bisa jadi merupakan pertanda PPOK. Apalagi jika orang tersebut adalah perokok aktif atau mantan perokok.

Faktor pemicu

Oleh karena kedua penyakit ini berbeda, faktor yang memicu kedua penyakit ini muncul dan memburuk biasanya juga lain. Kondisi asma biasanya akan memburuk ketika penderitanya terpapar faktor alerginya. Artinya, umumnya asma diperparah karena kondisi alergi pasien, misalnya debu atau udara dingin. Asma juga bisa diperparah karena olahraga berlebihan.

Sedangkan untuk PPOK, kondisinya akan semakin memburuk sehingga memunculkan gejala karena terjadinya infeksi saluran pernapasan. Pneumonia dan flu bisa menjadi salah satu infeksi saluran napas yang memperburuk kondisi PPOK seseorang. Penyakit ini juga dapat dipicu oleh paparan polutan lingkungan.

Komorbiditas

Komorbiditas adalah penyakit dan kondisi yang Anda derita selain penyakit utama. Komorbiditas untuk asma dan PPOK sering kali juga serupa, meliputi:

Satu penelitian menemukan bahwa 20 persen pasien PPOK menderita tiga atau lebih komorbiditas ini.

Respons terhadap pengobatan

Baik PPOK dan asma dapat merespons obat-obatan pelega saluran napas, seperti bronkodilator dengan baik, terlebih jika mereka yang memiliki kebiasaan merokok menghenatikan kebiasaanya itu. Namun, fungsi paru hanya bisa sepenuhnya dikembalikan pada penderita asma. Umumnya, fungsi paru penderita PPOK tidak dapat dikembalikan menjadi 100 persen normal.

Orang asma yang juga mengalami PPOK akan mengalami penurunan fungsi paru dengan cepat sejalan dengan berkembangnya PPOK yang makin buruk karena perjalanan waktu. Fungsi paru itu tak akan dapat dikembalikan dan tetap terjadi bahkan pada orang dengan PPOK stadium ringan.

Sayangnya, hingga kini tidak ada penyembuh untuk kedua penyakit ini. Namun, Anda tetap bisa hidup dengan normal dan nyaman lewat pengobatan yang tepat serta menghindari faktor pemicunya. Mengatasi asma dapat dilakukan dengan bantuan obat-obatan dan menghindari alergen dapat mencegah serangannya bahkan membuat Anda beraktivitas dengan normal. Sementara itu, rutin dan disiplin menjalani pengobatan untuk PPOK dapat membantu Anda menjadi lebih aktif dan memperlambat perkembangan penyakit ini.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca