Tips Pola Hidup Seimbang Setelah Operasi Kanker Usus Besar

Author: dr. Ibrahim Basir, Sp.B-KBD Spesialis Bedah Digestif

Setiap pasien pasti mengharapkan kesembuhan dari perjuangan melawan kanker usus besar yang dideritanya. Hidup dengan kanker usus besar berarti bicara bagaimana seorang pasien harus tetap gigih dalam menjalani setiap surveillance (pengawasan) dari dokternya. Setiap pasien memiliki waktu yang berbeda-beda untuk mencapai kesembuhannya masing-masing.

Sudah dioperasi, apakah pasien sudah bisa dinyatakan sembuh total?

Pengobatan kanker usus besar membutuhkan waktu yang berbeda pada setiap pasiennya. Tata pelaksanaan (perawatan dan pengobatan) pun juga berbeda, tergantung dari stadium kanker usus besar masing-masing pasien. Sebelum beranjak soal kesembuhan pasien, ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam mendiagnosis dan tata laksana pasien.

Kanker usus besar atau kanker kolorektal biasanya diketahui melalui rangkaian pemeriksaan screening. Mulai dari deteksi gejala, pemeriksaan klinis di dokter, kolonoskopi, biopsi, USG, CT Scan, hingga MRI. Dari rangkaian pemeriksaan ini, dokter mengidentifikasi apakah ada tumor yang dicurigai sebagai kanker usus besar.

Biasanya, ketika dilakukan kolonoskopi dan ditemukan polip, dokter akan melakukan pengangkatan polip dan melakukan penelitian histopatologi. Setelahnya baru bisa dikatakan apakah polip ini menjadi tanda adanya kanker usus besar.

Pemeriksaan klinis tersebut juga menentukan tingkatan stadium, penyebaran, dan metastasis. Kemudian, dokter baru dapat menentukan diagnosis pasien kanker usus besar dan tata laksananya.

Bicara soal tata laksana, ini terkait erat dengan stadiumnya. Ada pasien yang membutuhkan operasi pembedahan dan kemoterapi. Ada juga pasien yang perlu menjalani radiasi, operasi, dan kemoterapi. Pasien yang telah menjalani operasi kanker usus besardan rangkaian pengobatan kanker ini perlu melaksanakan surveillance hingga dokter menyatakannya sembuh.

Surveillance merupakan rangkaian pemeriksaan dan kontrol teratur ke dokter dari pasien kanker dengan tujuan memantau perkembangan kanker. Surveillance ini tergantung dari masing-masing dokter yang menangani. Ada yang harus menjalani surveillance selama 20 tahun, 10 tahun, 15 tahun, atau bahkan 3 tahun. Semua tergantung dari stadium kankernya masing-masing.

Apapun jenis penyakit yang diderita oleh pasien, kesembuhan adalah harapan terbesar. Pasien kanker usus besar juga memiliki ekspektasi kesembuhan yang sama. Dari semua langkah-langkah yang telah ditempuh, ini ibarat sebuah perjalanan. Inti dari perjalanan ini adalah berjuang untuk melawan kanker. 

Perawatan yang dilakukan pasca operasi kanker usus besar dan tata laksana lainnya

Pasien yang telah melewati masa operasi ataupun tata laksana sesuai saran dokter, masih perlu melakukan kontrol secara berkala untuk diketahui perkembangan kankernya. Pemeriksaan untuk perawatan kanker usus besar yang dikerjakan antara lain sebagai berikut.

  • Tumor marker, CEA (cancer embryonic antigen): Pemeriksaan tumor marker atau petanda tumor (zat protein yang dihasilkan oleh sel kanker) di laboratorium
  • Kolonoskopi berkala: Prosedur pemeriksaan usus besar dengan menggunakan teleskop
  • Endoskopi setiap tahun: Pemeriksaan yang dilakukan dengan alat endoskop yang dimasukkan dari mulut, ke kerongkongan, hingga ke saluran pencernaan untuk memantau kondisi usus besar pasien

Selain pemeriksaan secara berkala, untuk meminimalkan perkembangan kanker dan menjaga kestabilan tubuh, jangan lupa upayakan gaya hidup sehat di bawah ini.

  • Tidak merokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol
  • Tidak mengonsumsi makanan tinggi lemak
  • Konsumsi sayur dan buah
  • Olahraga teratur
  • Mengikuti aturan surveillance dari dokter

Aktivitas fisik yang dilakukan juga tak perlu berlebihan. Biasanya saya merekomendasikan pasien kanker untuk olahraga jalan kaki, boleh pada pagi, siang, atau malam hari selama satu jam. Pasien juga diperkenankan untuk melakukan aktivitas fisik seperti sedia kala.

Jangan lupa untuk tetap mengecek kondisi diri Anda sebagai bagian perawatan kanker usus besar. Bila pasien kanker usus besar kembali mengalami gangguan pola buang air besar (mencret, BAB kecil-kecil, muncul darah, lendir, BAB tidak teratur) segera konsultasikan ke dokter.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 25, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 25, 2020

dr. Ibrahim Basir, Sp.B-KBD Spesialis Bedah Digestif
dr. Ibrahim Basir, Sp.B-KBD merupakan dokter spesialis bedah digestif yang berpraktik di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi ...
Selengkapnya
dr. Ibrahim Basir, Sp.B-KBD Spesialis Bedah Digestif

dr. Ibrahim Basir, Sp.B-KBD merupakan dokter spesialis bedah digestif yang berpraktik di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Beliau menamatkan pendidikan kedokteran umum di Universitas Airlangga (1983), pendidikan spesialis bedah di Universitas Indonesia (1994) dan konsultan bedah digestif di Universitas Indonesia (1997).

Selengkapnya
Artikel Terbaru