Cara Kerja dan Efektivitas Post Exposure Prophylaxis (PEP) Dalam Mencegah HIV

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 Januari 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Jika Anda secara tidak sengaja terpapar HIV, misalnya ketika berhubungan seks tanpa menggunakan kondom dengan seseorang yang Anda duga positif HIV atau tertusuk jarum suntik bekas orang yang positif HIV, Anda harus segera melakukan post exposure prophylaxis (PEP). Apa itu PEP dan seberapa efektif untuk mencegah HIV? Simak ulasannya dalam artikel ini.

Apa itu Post Exposure Prophylaxis (PEP)?

Post Exposure Prophylaxis atau biasa disingkat dengan PEP adalah bentuk perawatan darurat untuk mencegah HIV.

Perawatan ini biasanya dilakukan setelah terjadinya tindakan-tindakan yang berisiko menyebabkan HIV. Misalnya, seseorang yang bekerja di pelayanan kesehatan yang secara tidak sengaja tertusuk jarum suntik bekas pasien HIV, korban pemerkosaan, serta seks tanpa kondom dengan seseorang yang mungkin positif HIV atau saat Anda tidak yakin dengan status HIV pasangan Anda.

Cara kerja perawatan ini yaitu dengan memberikan obat-obatan antiretroviral (ARV) dalam kurun waktu kira-kira 28 hari untuk mencegah atau menghentikan paparan terhadap virus HIV agar tidak menjadi infeksi seumur hidup.

Yang harus dipahami, PEP adalah bentuk perawatan yang hanya bisa dilakukan saat situasi darurat medis pada orang yang berstatus HIV negatif. Jadi, apabila Anda berstatus positif HIV, Anda tidak bisa melakukan perawatan ini.

Seberapa efektif PEP untuk mencegah HIV?

PEP harus digunakan sesegera mungkin setelah seseorang tidak sengaja terkena paparan HIV. Agar efektif, obat ini harus dikonsumsi dalam kurun waktu 72 jam (3 hari) sejak paparan terakhir.

Namun, semakin cepat Anda memulai tindakan PEP akan semakin baik karena dapat mengurangi risiko terkena HIV secara berarti. Meski begitu, obat ini tidak 100 persen menjamin Anda terbebas dari infeksi HIV walau sudah dikonsumsi dengan benar dan disiplin. Pasalnya, ada berbagai hal yang mungkin menyebabkan Anda lebih rentan terinfeksi HIV.

Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter yang sudah terlatih dan mengerti tentang PEP. Biasanya sebelum memulai perawatan ini dokter akan melakukan tes status HIV. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, PEP hanya bisa dilakukan pada mereka yang berstatus HIV negatif, bukan yang berstatus positif HIV.

Jika Anda diberikan resep obat PEP oleh dokter, Anda harus minum obat tersebut secara teratur sebanyak satu atau dua kali sehari selama 28 hari. Sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan ulang status HIV sekitar 4 sampai 12 minggu setelah terjadinya paparan.

Apakah PEP aman?

PEP merupakan perawatan darurat medis yang tergolong aman untuk dilakukan. Namun, perawatan ini mungkin akan menimbulkan efek samping bagi beberapa orang. Efek samping yang paling umum ketika seseorang melakukan perawatan ini adalah mual, pusing, dan kelelahan.

Meski begitu, efek samping ini tergolong ringan dan cenderung mudah diatasi sehingga tidak mengancam jiwa. Yang terpenting, jangan berhenti melakukan perawatan ini apabila dokter tidak merekomendasikan Anda untuk berhenti. Kedisiplinan Anda dalam menjalankan perawatan ini memiliki pengaruh besar untuk mencegah infeksi HIV.

Tidak semua rumah sakit menyediakan PEP

PEP merupakan perawatan penting. Sayangnya, tidak semua rumah sakit di Indonesia menyediakan PEP. Hal ini karena PEP belum masuk dalam program pencegahan HIV dari pemerintah.

Dalam beberapa kasus, obat ARV (antiretroviral) hanya tersedia untuk mereka yang positif HIV. Artinya, jika mereka yang negatif HIV ingin mendapatkan obat-obatan PEP di dalam negeri, prosesnya tentu tidak mudah. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan persiapan fasilitas kesehatan seperti logistik dan ketersediaan obat-obat ARV itu sendiri.

Meski begitu, segera konsultasikan ke dokter Anda untuk mendapatkan penanganan yang tepat apabila Anda secara tidak sengaja terpapar HIV. Ini dilakukan agar mencegah HIV menyerang sistem kekebalan tubuh Anda terlalu jauh.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Pasti Anda sedih bila tahu anak Anda kena virus HIV. Namun, Anda harus tetap melakukan perawatan kepada anak sebaik mungkin. Apa tips merawat anak HIV/AIDS?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
HIV/AIDS 21 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit

5 Manfaat Pakai Kondom untuk Kesehatan

Kondom memiliki manfaat sebagai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Ada banyak manfaat yang perlu disadari pasutri pentingnya mengenakan kondom.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
manfaat kondom
Kontrasepsi, Hidup Sehat 18 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Obat untuk menyembuhkan pasien HIV memang belum ditemukan. Namun, untuk kedua kalinya dalam sejarah ada pasien yang dinyatakan sembuh dari HIV.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Berita Luar Negeri, Berita 14 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Benarkah Obat HIV Dapat Digunakan untuk Melawan Coronavirus?

Para tenaga kesehatan sedang berupaya mencari cara mengobati wabah coronavirus dari Wuhan, Tiongkok, menggunakan obat HIV untuk coronavirus. Efektifkah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 2 Februari 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Kapan Waktu yang Tepat untuk Periksa ke Rumah Sakit di Tengah Pandemi?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 15 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
penyakit berisiko pada ODHA

Penyakit yang Paling Berisiko Dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
nyamuk menularkan hiv

Bisakah HIV Menular Melalui Gigitan Nyamuk?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah HIV Bisa Sembuh dengan Sendirinya? Ini Jawabannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 29 April 2020 . Waktu baca 6 menit