6 Komplikasi Preeklampsia yang Harus Diwaspadai Ibu Hamil

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, meski ibu hamil tersebut tidak pernah memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada plasenta yang menghambat aliran darah ke bayi maupun ibu. Preeklampsia termasuk jarang, tapi bisa berbahaya. Apa saja komplikasi preeklampsia yang paling umum terjadi? Simak ulasannya dalam artikel ini.

Berbagai komplikasi preeklampsia yang harus diwaspadai

Komplikasi preeklampsia yang umum terjadi meliputi:

1. Kejang-kejang (eklampsia)

Eklampsia merupakan jenis kejang otot yang dapat dialami wanita hamil, biasanya dari minggu 20 kehamilan atau beberapa waktu setelah melahirkan.

Selama kejang eklampsia, lengan, kaki, leher atau rahang Anda tanpa sadar akan berkedut berulang kali. Bahkan dalam beberapa kasus, Anda juga dapat kehilangan kesadaran dan mengompol. Kejang biasanya berlangsung kurang dari satu menit.

Meski kebanyakan wanita dapat pulih setelah eklampsia, namun ada risiko kecil terjadinya cacat permanen atau kerusakan otak jika mengalami kejang parah. Sekitar 1 dari 50 wanita yang mengalami eklampsia meninggal dalam kondisi tersebut. Tidak hanya itu, bayi yang belum lahir bisa mati lemas selama kejang terjadi, dan diketahui 1 dari 14 bayi meninggal.

Penelitian telah menemukan bahwa obat yang disebut magnesium sulfat dapat mengurangi separuh risiko eklampsia dan risiko ibu sekarat. Obat ini sekarang banyak digunakan untuk pengobatan setelah terjadinya eklampsia, dan untuk mengobati wanita yang mungkin berisiko.

2. Sindrom HELPP

Sindrom HELPP adalah gangguan hati dan pembekuan darah langka yang dapat terjadi pada wanita hamil. Kemungkinan besar terjadi setelah bayi dilahirkan, tetapi dapat muncul kapan saja setelah 20 minggu kehamilan dan sebelum 20 minggu dalam kasus yang jarang terjadi. Sindrom HELPP sendiri merupakan kepanjangan dari Hemolysis, Elevated Liver Enzimes and Low Platelet Count atau hemolisis, peningkatan enzim hati, dan jumlah trombosit yang rendah.

Sindrom HELPP berbahaya seperti eklampsia, tetapi sedikit lebih umum. Satu-satunya cara untuk mengatasi komplikasi preeklampsia ini adalah dengan melahirkan bayi sesegera mungkin.

3. Stroke

Suplai darah ke otak dapat terganggu sebagai akibat dari tekanan darah tinggi. Hal ini dikenal sebagai perdarahan otak atau stroke. Jika otak tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi dari darah, sel-sel otak akan mati sehingga menyebabkan kerusakan otak bahkan kematian.

4. Masalah organ

  • Edema paru. Kondisi di mana cairan menumpuk di dalam dan di sekitar paru-paru, membuat paru-paru berhenti bekerja dengan baik yaitu menghalangi paru-paru menyerap oksigen.
  • Gagal ginjal. Kodisi di mana ginjal sudah tidak dapat lagi menyaring produk limbah dari darah. Hal ini menyebabkan racun dan cairan tertumpuk di dalam tubuh.
  • Gagal hati. Hati memiliki banyak fungsi termasuk mencerna protein dan lemak, memproduksi empedu dan mengeluarkan racun. Setiap kerusakan yang mengganggu fungsi-fungsi ini bisa berakibat fatal.

5. Gangguan pembekuan darah

Preeklampsia yang tidak ditangani dengan tepat dapat membuat sistem pembekuan darah Anda rusak, dikenal secara medis sebagai “disseminated intravascular coagulation”. Hal ini bisa mengakibatkan perdarahan karena tidak ada cukup protein dalam darah untuk membuat darah menggumpal. Gumpalan darah ini dapat mengurangi atau memblokir aliran darah melalui pembuluh darah dan kemungkinan merusak organ.

6. Masalah yang mempengaruhi bayi

Tidak hanya pada ibu, komplikasi preeklampsia juga bisa terjadi pada bayi. Bayi dengan ibu penderita preeklampsia dapat tumbuh lebih lambat di dalam rahim dari seharusnya. Ini terjadi karena preeklampsia dapat mengurangi jumlah nutrisi dan oksigen dari ibu untuk bayi.

Bayi dari ibu yang mengalami preeklampsia seringkali lahir berukuran lebih kecil dari umumnya, terutama jika preeklampsia terjadi sebelum 37 minggu. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kesulitan bernapas karena paru-paru bayi tidak berkembang secara sempurna (neonatal respiratory distress syndrome). Dalam kasus ini, bayi biasanya perlu tinggal di unit perawatan intensif neonatal sehingga dapat dipantau dan diobati.

Beberapa bayi dengan ibu yang mengalami preeklampsia bahkan bisa mati dalam kandungan atau bayi lahir mati (still birth). Diperkirakan sekitar 1.000 bayi meninggal setiap tahun karena preeklampsia. Sebagian besar bayi ini meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kelahiran prematur.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca