Ciri-ciri Autisme pada Anak Usia Balita, Mulai dari 12 Bulan ke Atas

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Autisme adalah gangguan perkembangan otak dan saraf anak yang memengaruhi caranya berinteraksi, bersosialisasi, berbahasa, berekspresi, dan berkomunikasi secara verbal dan nonverbal. Seorang anak dapat menunjukkan ciri-ciri autis (sebutan lama untuk autisme, -red) pada tiga tahun pertama kehidupannya. Namun, ada pula beberapa anak yang memperlihatkan ciri autis lebih awal, yakni kisaran usia 18 bulan. Apa saja gejala autisme yang umumnya muncul pada anak kecil? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Laporan autisme pada anak di Indonesia

Berdasarkan laporan CDC, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, 1 dari 100 anak di dunia diketahui didiagnosis dengan autisme. Bagaimana dengan di Indonesia?

Melly Budiman selaku ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI mengatakan sampai saat ini belum pernah ada survei resmi mengenai jumlah pasti dari kasus autisme pada anak di Indonesia.

Akan tetapi pada tahun 2013 lalu, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pernah menduga jumlah anak dengan autisme di Indonesia mencapai 112 orang dengan rentang usia 5 hingga 19 tahun.

Para pakar kesehatan percaya jika jumlah ini dapat meningkat dari tahun ke tahun. Anak laki-laki diketahui 5 kali lebih mungkin memiliki autisme ketimbang anak perempuan.

Ciri-ciri dan gejala autis yang umum pada anak

Anak laki-laki menunjukkan ciri-ciri autis yang lebih jelas ketimbang anak perempuan. Namun terlepas dari apa gendernya, setiap anak yang terlahir dengan autisme perlu mendapatkan diagnosis dan perawatan medis sedini mungkin agar kualitas hidup mereka lebih baik.

Di sisi lain, autisme cukup sulit didiagnosis karena ciri dan gejala pada masing-masing anak dapat bervariasi. Beberapa anak mungkin menunjukkan gejala ringan, sementara lainnya mengalami lebih banyak gejala dengan tingkat keparahan berbeda.

Secara umum Anda bisa mengamati ciri-ciri autisme pada anak dari tiga faktor utama, yaitu dari keterampilan sosial atau interaksi, komunikasi, dan perilaku:

Keterampilan sosial (interaksi)

Anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain yang ditunjukkan dengan ciri sebagai berikut:

  • Tidak dapat menanggapi saat dipanggil namanya di usia 12 bulan.
  • Tidak tertarik untuk bermain, berbicara, dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Menghindari atau menolak kontak fisik.
  • Ketika kesal biasanya anak tidak suka dihibur.
  • Anak tidak mengerti perasaannya sendiri dan orang lain.

Komunikasi

Anak dengan autisme biasanya memiliki masalah dengan komunikasi seperti:

  • Terlambat bicara dibandingkan dengan anak seusianya.
  • Berbicara dengan nada suara yang aneh dan tak jarang sulit dimengerti.
  • Sering mengulang frasa yang sama berulang kali.
  • Menanggapi  pertanyaan dengan mengulanginya, bukan justru menjawabnya.
  • Menggunakan bahasa secara salah, misalnya menggunakan kata ganti orang ketiga dalam menyebut dirinya sendiri.
  • Tidak memahami arah, pernyataan, atau pertanyaan sederhana.
  • Tidak bisa memahami lelucon yang diberikan.

Perilaku

Anak dengan autisme akan menunjukkan perilaku yang tidak biasanya seperti:

  • Melakukan gerakan yang sama berulang kali misalnya, mengepakkan tangan, bergoyang maju mundur, atau menjentikkan jari.
  • Bergerak dengan perilaku berlebih yang konstan.
  • Melakukan rutinitas khusus dan kesal ketika rutinitasnya diubah.
  • Memiliki kebiasaan makan yang lebih rewel.
  • Sering bertindak tanpa berpikir.
  • Memiliki perilaku yang agresif, baik dengan diri sendiri maupun orang lain.
  • Tidak bisa fokus pada satu hal dalam waktu yang lama.
  • Memiliki minat sensorik yang tidak biasa, misalnya mengendus mainan, benda, atau orang.
  • Memainkan sesuatu dengan cara berulang dan tidak imajinatif.

Jika Anda melihat berbagai gejala ini pada anak, maka usahakan untuk segera memeriksakannya ke dokter untuk dicari tahu akar masalahnya. Penanganan dini yang tepat dapat membantu efektivitas pengobatan.

Memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan autisme, tapi penanganan gejala lebih dini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup anak. Oleh karena itu, orangtua perlu memahami berbagai gejala dan ciri-ciri dari autisme pada anak.

Ciri-ciri autis pada anak usia di atas 12 bulan

masalah perkembangan bayi

Semakin bertambah usianya, gejala autisme yang awalnya samar-samar akan jadi semakin jelas. Gejala tersebut memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak, seperti:

Kemampuan sosial anak terganggu

  • Anak tidak tertarik dengan hal-hal yang ada di sekitar, ia bahkan tidak menyadari keberadaan orang lain
  • Tidak tahu caranya bermain, bercanda, dan membangun pertemanan dengan anak seusianya
  • Tidak ingin disentuh, dipegang, dipeluk, atau kontak fisik lainnya dengan orang lain
  • Tidak dapat meniru gerakan yang dilakukan orang lain atau terlibat dalam permainan kelompok
  • Kesulitan memahami perasaan dan mengungkapkannya pada orang lain
  • Tidak menaruh perhatian ketika seseorang berbicara kepadanya
  • Lebih senang bermain sendiri dan menyendiri

Kesulitan dalam berkomunikasi

  • Pada beberapa kasus, anak yang autis menunjukkan ciri-ciri terlambat bicara
  • Anak cenderung mengulangi kata atau frasa yang sama berulang kali
  • Memberi jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan. Alih-alih menjawab, anak lebih sering mengulang pertanyaan yang diajukan orang lain
  • Nada bicara tidak normal, bisa datar saat bertanya atau malah bernada saat membuat pernyataan
  • Sering salah dalam membuat kalimat, biasanya salah dalam menggunakan kata ganti, seperti aku dan kamu.
  • Tidak memahami perintah atau pertanyaan sederhana

Kesulitan dalam berkomunikasi nonverbal

  • Saat diajak berbicara, ia menghindari kontak mata
  • Sering menggunakan ekspresi wajah yang tidak cocok dengan apa yang ia rasakan dan katakan
  • Tidak memahami ekspresi wajah, nada suara, dan gerakan yang ditunjukkan orang lain
  • Gerakan tubuhnya terkesan kaku dan jarang memberi respons gerakan terhadap sesuatu, seperti tidak melambai atau bertepuk tangan
  • Bereaksi tidak biasa terhadap suatu pemandangan, bau, tekstur, rasa, dan suara yang dianggap orang lain adalah hal yang normal dan menarik

Perilaku anak yang kurang fleksibel

  • Anak lebih suka mengikuti rutinitas yang kaku, seperti melewati rute yang sama terus-menerus ketika ke sekolah. Jika rutinitas ini  berubah, ia bisa marah.
  • Susah beradaptasi dengan perubahan jadwal atau lingkungan
  • Tertarik pada benda yang tidak biasa, seperti kunci, sakelar lampu, atau karet gelang
  • Terobsesi untuk mengatur sesuatu dengan sangat rapi, seperti mengurutkan mainan sesuai bentuk atau warna
  • Tertarik pada angka atau simbol tertentu, seperti menghafal jadwal keberangkatan kereta atau letak geografis peta
  • Sering menghabiskan waktu untuk melihat benda yang bergerak konstan, seperti roda mobil atau baling-baling kipas di langit-langit
  • Sering melakukan gerakan atau perilaku berulang, seperti menjentikkan jari, mengayunkan tangan, mematikan dan menyalakan lampu berulang kali, dan perilaku berulang lainnya.
  • Melakukan kegiatan yang bisa melukai diri, seperti membenturkan kepala atau memukul kepala
  • Memiliki postur tubuh yang tidak normal dan cara bergerak yang kaku, seperti menjinjitkan kaki saat berjalan
  • Pada beberapa kasus, anak juga menunjukkan gejala hiperaktif

Setiap anak dapat memiliki gejala yang berbeda-beda, terutama pada anak perempuan. Laman Child Mind menyebutkan bahwa anak perempuan yang autis menunjukkan perilaku berulang tidak terlihat jelas ketimbang anak laki-laki.

Susan F. Epstein, PhD, seorang neuropsikologis juga menyebutkan bahwa anak perempuan yang autis lebih tertarik kuda mainan ketimbang menghafal jadwal keberangkatan kereta atau hal-hal yang berkaitan dengan angka.

Selain itu, anak perempuan yang didiagnosis juga tetap bisa tersenyum atau menanggapi respons tertentu, namun lebih jarang. Gejala yang samar-samar pada anak perempuan ini membuat dokter sulit untuk menegakkan diagnosis, sehingga kerap kali dialihkan pada kondisi lain, seperti ADHD, depresi, dan kecemasan.

Cara orangtua mengamati ciri-ciri autis pada anak

orangtua bohong pada anak

Sebagai orangtua, Anda berada dalam posisi terbaik untuk menemukan berbagai gejala awal dari autisme pada anak. Anda bisa mengamati perkembangan, perilaku, serta kebiasaan aneh yang dilakukan anak ketimbang dokter yang hanya bertemu Anda dalam waktu yang terbatas.

Dokter memiliki peran besar untuk menegakkan diagnosis lewat laporan pengamatan Anda dan mengarahkan perawatan terbaik sesuai dengan keparahan gejalanya.

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengetahui adanya ciri-ciri autis pada anak lebih dini, seperti:

Pantau perkembangan anak

Autisme yang menyerang anak memengaruhi keterlambatan perkembangan fungsi tubuhnya. Oleh karena itu, mengetahui perkembangan anak yang normal dan membandingkannya perkembangan tersebut pada si kecil bisa dijadikan salah satu cara untuk mendeteksi autisme lebih dini.

Meskipun tidak semua keterlambatan perkembangan mengarah pada autisme, ini bisa membantu mendeteksi masalah kesehatan lain yang dihadapi anak.

Jika merasa khawatir, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter

Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Anda tidak perlu panik, jika si kecil lebih lambat dalam berjalan atau berbicara. Namun, Anda juga tidak boleh memandang hal ini sebelah mata. Jika keterlambatan si kecil menimbulkan kekhawatiran, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.

Menunggu lebih lama, bisa membuat kondisi anak menjadi lebih buruk. Bahkan, mengurangi peluang bagi anak untuk sembuh dari beberapa masalah kesehatan selain autisme. Jadi, sigap dalam mengambil tindakan ini adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan.

Percayai naluri

Sebagai orangtua, ikatan Anda dengan si kecil jauh lebih dekat. Ini menyebabkan naluri Anda jadi lebih peka sehingga Anda bisa mengetahui adanya kesalahan yang terjadi pada anak secara terus-menerus. Dengan memercayai naluri, Anda akan terdorong membawa si kecil ke dokter untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut.

Kapan harus membawa anak ke dokter?

gejala asma pada anak ke dokter

Mendeteksi autisme lebih dini pada anak bisa mengurangi keparahan gejala. Selain itu, tindakan ini akan mempermudah proses perawatan sekaligus membantu meningkatkan kualitas hidup anak di masa depan.

Selain mengamati ciri-ciri autis pada anak, sesegera mungkin membawanya ke dokter adalah tindakan yang paling tepat. Berikut ini ada beberapa tanda yang bisa Anda jadikan pertimbangan untuk membawa si kecil ke dokter, seperti:

  • Lebih dari usia 5 bulan si kecil tidak menunjukkan tanda ketertarikan pada sekitar, seperti bola matanya tidak mengikuti arah gerak benda yang ada di depannya.
  • Memasuki usia 6 bulan, si kecil tidak menunjukkan senyum atau ekspresi lainnya, meskipun Anda sudah mencoba menarik perhatiannya
  • Si kecil tidak mengoceh dan mengeluarkan suara-suara tanpa makna memasuki usia 9 bulan
  • Menjelang usia 1 tahun, si kecil tidak memberi respons menolehkan kepalanya ketika namanya dipanggil
  • Pada usia 1 tahun, bayi tidak menunjukkan keaktifan seperti menunjuk, menggapai, atau melambai
  • Memasuki usia 16 bulan, bayi sama sekali tidak mengucapkan kata satu pun atau sangat jarang berceloteh
  • Pada usia 2 tahun, bayi tidak mencoba mengulang kata-kata tertentu yang Anda ucapkan atau meniru gerak tubuh yang Anda lakukan

Bila Anda melihat ciri-ciri tersebut pada anak, Anda bisa mencurigainya sebagai autisme. Namun, Anda tidak bisa mendiagnosis kelainan ini berdasarkan persepsi pribadi. Si kecil harus menjalani beberapa tes kesehatan yang direkomendasikan dokter, hingga dokter betul-betul menetapkan diagnosisnya.

Walaupun tidak ada tes laboratorium khusus yang bisa mendeteksi autisme pada anak, dokter akan melakukan berbagai tes pendekatan. Anda perlu memberikan laporan riwayat kesehatan, gejala, serta perilaku tertentu untuk dijadikan rujukan.

Menjelaskan riwayat kesehatan bisa membantu dokter untuk menegakkan diagnosis, terutama pada bayi yang lahir prematur (lahir sebelum memasuki usia 26 minggu) atau sang ibu menggunakan obat valproic acid (Depakene) atau thalidomide selama kehamilan.

Dokter mungkin akan melibatkan dokter spesialis untuk mengetahui seberapa parah kondisi anak. Kemudian, merekomendasikan pengobatan yang tepat, seperti terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, dan pengobatan tambahan untuk mengurangi gejala.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 11, 2017 | Terakhir Diedit: Februari 3, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca