Ciri-ciri Autisme pada Anak Mulai dari Bayi Sampai Usia Balita

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Autisme adalah gangguan perkembangan otak dan saraf anak yang memengaruhi caranya berinteraksi, bersosialisasi, berbahasa, berekspresi, dan berkomunikasi secara verbal dan nonverbal. Ciri-ciri autisme pada bayi dan anak bisa terlihat pada tiga tahun pertama kehidupannya. Berikut penjelasan seputar ciri-ciri autis pada bayi dan anak.

Ciri-ciri autis pada anak bayi

bayi autis

Autisme mencakup segala gangguan dalam cara anak berinteraksi, bersosialiasi, berbahasa, berpikir, berekspresi, dan berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Autisme juga dapat membuat seorang anak mengalami gangguan dalam berperilaku.

Pada bayi, kelainan ini cukup sulit didiagnosis karena gejalanya yang samar dan rentan disalahpahami sebagai masalah kesehatan lain.

Namun melansir Help Guide, ada beberapa ciri-ciri dan gejala autis yang dapat terlihat pada bayi sejak dini. Beragam gejala tersebut adalah:

1. Bermasalah dengan kontak mata

Jarak pandang bayi yang baru lahir umumnya masih pendek dan terbatas (tidak lebih dari 25 cm) sehingga pandangan matanya belum jelas.

Selain itu, koordinasi matanya juga belum optimal sehingga ia belum mampu mengikuti gerak suatu benda.

Selama dua bulan pertama, mata bayi akan sering terlihat tidak fokus dalam dua bulan pertama kehidupannya. Anda mungkin akan sering memergokinya seperti bengong menatap langit-langit rumah.

Namun menginjak sekitar usia 4 bulan, bayi dapat mulai melihat dengan lebih jelas dan luas, serta bisa memfokuskan pandangannya. Mulai usia ini, mata bayi juga sudah bisa mengikuti gerak suatu objek.

Namun, waspadai ciri-ciri bayi autis jika lewat dari usia tersebut matanya kerap kali tidak mengikuti gerak benda di hadapannya.

Tatapan mata kosong dan tidak fokus seperti sedang melamun merupakan gejala autisme pada bayi yang paling umum dan bisa Anda amati setiap hari.

Ciri bayi autis juga dapat dilihat dari matanya yang tidak pernah menatap mata Anda saat disuapi makanan atau tersenyum balik saat Anda tersenyum.

2. Tidak merespons saat namanya dipanggil

Bayi yang baru lahir memang belum bisa mengenali berbagai suara di sekitarnya, termasuk suara orangtuanya. Oleh karena itu, si kecil mungkin saja tidak akan merespon panggilan sayang di awal kehidupannya.

Minimnya respon bayi pada beberapa bulan pertamanya masih terhitung wajar.

Ini karena baik indera penglihatan dan indera pendengarannya belum terkoordinasi dengan baik. Otot di sekitar lehernya juga belum berkembang dengan sempurna.

Namun menginjak usia 7 bulan, anak bayi sudah akan bisa mengenali suara orangtua dan merespon suara lain.

Ia juga sudah bisa menengok ke kanan, kiri, atas, dan bawah ketika mendengar suara yang menarik baginya.

Semakin sering mengajaknya berbicara, semakin besar peluang si kecil untuk menguasai kemampuan ini lebih cepat.

Namun, bila anak bayi mungkin tidak menunjukkan respons ketika Anda memanggil namanya, ini bisa menjadi gejala dan ciri-ciri awal autis yang perlu diwaspadai.

Akan tetapi, perlu dipahami bahwa tidak semua bayi mengalami perkembangan di usia yang sama, ia bisa jadi lebih cepat atau lebih lambat dari rata-rata usia.

3. Tidak mengoceh seperti bayi lainnya

Bayi yang baru lahir memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa. Bayi sering menangis karena satu-satunya cara untuk berkomunikasi.

Ia sangat mungkin menangis ketika lapar, merasa sakit, buang air kecil, dan berbagai kondisi lainnya.

Dilansir dari laman Kids Health, ketika memasuki usia 2 bulan, bayi sudah mulai mengoceh.

Ia mengeluarkan suara-suara yang tidak memiliki arti. Suara ini mereka buat karena refleks otot di sekitar mulut bayi atau dilakukan untuk mendapatkan perhatian orang di sekitarnya.

Akan tetapi, bayi yang mengalami autis kemungkinan besar tidak menunjukkan ciri-ciri ini pada perkembangan mereka.

Si kecil cenderung tidak berceloteh atau mengikuti bunyi-bunyian yang dibuat. Bila bayi mengalami hal ini disertai gejala dan penyebab autisme yang disebutkan, boleh mencurigai terjadinya autis pada bayi.

4. Koordinasi mata dengan anggota gerak buruk

Kemampuan tubuh yang dikuasai bayi adalah koordinasi antara mata dengan anggota gerak, baik itu tangan maupun kaki.

Kemampuan ini membuat si bayi bisa menanggapi pelukan, mengulurkan tangan untuk dipeluk, atau menyentuh benda yang ada di depannya.

Namun pada anak bayi yang mengidap autis, mereka memiliki ciri-ciri kurang responsif. Mereka mungkin tidak akan melambaikan tangan ketika orang lain mengucapkan selamat tinggal.

5. Ciri-ciri anak bayi autis dari gejala lain

Ciri-ciri autis pada bayi ini tidak hanya itu saja. Semakin bertambah umur, gejalanya akan semakin jelas dan bisa dibedakan dengan bayi lainnya.

Beberapa gejala autis pada bayi yang lebih tua usianya, antara lain:

  • Menghindari kontak mata saat orang lain menatap atau mengajak bicara
  • Sering melakukan perilaku berulang, seperti menepuk tangan, mengayunkan tangan, atau memainkan jari tidak mengenal situasi.
  • Tidak menjawab pertanyaan dengan benar, cenderung mengulang pertanyaan
  • Bayi lebih suka bermain sendiri dan tidak suka dengan kontak fisik, seperti dipeluk atau disentuh
  • Pada beberapa kasus, autisme menunjukkan ciri-ciri anak terlambat bicara
  • Anak cenderung mengulangi kata atau frasa yang sama berulang kali
  • Nada bicara tidak normal, bisa datar saat bertanya atau malah bernada saat membuat pernyataan
  • Tidak memahami perintah atau pertanyaan sederhana
  • Pada beberapa kasus, anak juga menunjukkan gejala anak hiperaktif

Setiap anak dapat memiliki gejala yang berbeda-beda, terutama pada anak perempuan.

Mengutip dari Child Mind, anak perempuan yang autis menunjukkan ciri-ciri perilaku berulang secara tidak terlihat jelas ketimbang anak laki-laki.

Susan F. Epstein, PhD, seorang neuropsikologis juga menyebutkan bahwa anak perempuan yang autis lebih tertarik kuda mainan ketimbang menghafal jadwal keberangkatan kereta atau hal-hal yang berkaitan dengan angka.

Selain itu, anak perempuan yang didiagnosis juga tetap bisa tersenyum atau menanggapi respons tertentu, namun lebih jarang.

Gejala yang samar-samar pada anak perempuan ini membuat dokter sulit untuk menegakkan diagnosis, sehingga kerap kali dialihkan pada kondisi lain, seperti ADHD, depresi, dan kecemasan.

Ciri-ciri autis yang umum pada anak

perkembangan bayi 47 minggu perkembangan bayi 11 bulan 3 minggu

Secara umum orangtua bisa mengamati ciri-ciri autisme pada anak dari tiga faktor utama, yaitu dari keterampilan sosial atau interaksi, komunikasi, dan perilaku:

1. Memiliki masalah dengan keterampilan sosial (interaksi)

Anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain yang ditunjukkan dengan ciri sebagai berikut:

  • Tidak dapat menanggapi saat dipanggil namanya di usia 12 bulan.
  • Tidak tertarik untuk bermain, berbicara, dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Lebih suka menyendiri.
  • Menghindari atau menolak kontak fisik.
  • Ketika kesal biasanya anak tidak suka dihibur.
  • Anak tidak mengerti perasaannya sendiri dan orang lain.

Perhatikan bila anak memiliki kondisi di atas.

2. Masalah dalam komunikasi

Anak dengan autisme (autis) biasanya memiliki masalah komunikasi dengan ciri-ciri seperti:

  • Terlambat bicara dibandingkan dengan anak seusianya.
  • Berbicara dengan nada suara yang aneh dan tak jarang sulit dimengerti.
  • Sering mengulang frasa yang sama berulang kali.
  • Menanggapi  pertanyaan dengan mengulanginya, bukan justru menjawabnya.
  • Tidak memahami arah, pernyataan, atau pertanyaan sederhana.
  • Tidak bisa memahami lelucon yang diberikan.

Anak yang sering menggunakan bahasa secara salah, misalnya menggunakan kata ganti orang ketiga dalam menyebut dirinya sendiri, juga menjadi tanda autisme.

3. Ciri-ciri anak autis dari aspek perilaku yang tidak biasa

Anak dengan autisme akan menunjukkan perilaku yang tidak biasanya seperti:

  • Melakukan gerakan yang sama berulang kali misalnya, mengepakkan tangan, bergoyang maju mundur, atau menjentikkan jari.
  • Bergerak dengan perilaku berlebih yang konstan.
  • Melakukan rutinitas khusus dan kesal ketika rutinitasnya diubah.
  • Memiliki kebiasaan makan yang lebih rewel.
  • Sering bertindak tanpa berpikir.
  • Memiliki perilaku yang agresif, baik dengan diri sendiri maupun orang lain.
  • Tidak bisa fokus pada satu hal dalam waktu yang lama.
  • Memiliki minat sensorik yang tidak biasa, misalnya mengendus mainan, benda, atau orang.
  • Memainkan sesuatu dengan cara berulang dan tidak imajinatif.

Jika melihat berbagai gejala ini pada anak, maka usahakan untuk segera memeriksakannya ke dokter untuk dicari tahu akar masalahnya. Penanganan dini yang tepat dapat membantu efektivitas pengobatan.

Apakah autisme bisa disembuhkan? Memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan autisme, tapi penanganan gejala lebih dini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup anak.

Cara orangtua mengamati ciri-ciri autis pada anak

ciri-ciri anak manja

Sebagai orangtua, Anda berada dalam posisi terbaik untuk menemukan berbagai gejala awal dari autisme pada anak.

Anda bisa mengamati perkembangan, perilaku, serta kebiasaan aneh yang dilakukan anak ketimbang dokter yang hanya bertemu orangtua dalam waktu yang terbatas.

Dokter memiliki peran besar untuk menegakkan diagnosis lewat laporan pengamatan Anda dan mengarahkan perawatan terbaik sesuai dengan keparahan gejalanya.

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengetahui adanya ciri-ciri autis pada anak lebih dini, seperti:

Pantau perkembangan anak

Autisme (autis) yang menyerang anak memiliki ciri-ciri keterlambatan perkembangan fungsi tubuh.

Oleh karena itu, mengetahui perkembangan anak yang normal dan membandingkannya perkembangan tersebut pada si kecil bisa dijadikan salah satu cara untuk mendeteksi autisme lebih dini.

Meskipun tidak semua keterlambatan perkembangan mengarah pada autisme, ini bisa membantu mendeteksi masalah kesehatan lain yang dihadapi anak.

Jika merasa khawatir, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter

Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Anda tidak perlu panik, jika si kecil lebih lambat dalam berjalan atau berbicara.

Namun, orangtua juga tidak boleh memandang hal ini sebelah mata. Jika keterlambatan si kecil menimbulkan kekhawatiran, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.

Menunggu lebih lama, bisa membuat kondisi anak menjadi lebih buruk. Bahkan, mengurangi peluang bagi anak untuk sembuh dari beberapa masalah kesehatan selain autisme.

Jadi, sigap dalam mengambil tindakan ini adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan.

Percayai naluri

Sebagai orangtua, ikatan Anda dengan si kecil jauh lebih dekat. Ini menyebabkan naluri jadi lebih peka sehingga orangtua bisa mengetahui adanya kesalahan yang terjadi pada anak secara terus-menerus.

Lewat memercayai naluri, Anda akan terdorong membawa si kecil ke dokter untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut.

Kapan harus membawa anak ke dokter?

ciri-ciri dan gejala autis pada bayi

Berikut ini ada beberapa ciri-ciri anak autis yang perlu dibawa ke dokter, seperti:

  • Lebih dari usia 5 bulan si kecil tidak menunjukkan tanda ketertarikan pada sekitar
  • Bola matanya tidak mengikuti arah gerak benda yang ada di depannya.
  • Memasuki usia 6 bulan, anak tidak menunjukkan senyum atau ekspresi lainnya, meski sudah mencoba menarik perhatiannya
  • Perkembangan bahasa bayi tidak berjalan dengan baik (tidak mengoceh dan mengeluarkan suara-suara di usia 9 bulan).
  • Menjelang usia 1 tahun, si kecil tidak memberi respons menolehkan kepalanya ketika namanya dipanggil
  • Pada usia 1 tahun, bayi tidak menunjukkan keaktifan seperti menunjuk, menggapai, atau melambai
  • Memasuki usia 16 bulan, bayi sama sekali tidak mengucapkan kata satu pun atau sangat jarang berceloteh
  • Pada usia 2 tahun, bayi tidak mencoba mengulang kata-kata tertentu yang diucapkan atau meniru gerak tubuh yang dilakukan.

Bila melihat ciri-ciri tersebut pada anak, Anda bisa mencurigainya sebagai autisme (autis).

Namun, orangtua tidak bisa mendiagnosis kelainan ini berdasarkan persepsi pribadi. Si kecil harus menjalani beberapa tes kesehatan yang direkomendasikan dokter, hingga dokter betul-betul menetapkan diagnosisnya.

Walaupun tidak ada tes laboratorium khusus yang bisa mendeteksi autisme pada anak, dokter akan melakukan berbagai tes pendekatan.

Anda perlu memberikan laporan riwayat kesehatan, gejala, serta perilaku tertentu untuk dijadikan rujukan.

Menjelaskan riwayat kesehatan bisa membantu dokter untuk menegakkan diagnosis.

Terutama pada bayi yang lahir prematur (lahir sebelum memasuki usia 26 minggu) atau sang ibu menggunakan obat valproic acid (Depakene) atau thalidomide selama kehamilan.

Dokter mungkin akan melibatkan dokter spesialis untuk mengetahui seberapa parah kondisi anak.

Kemudian, merekomendasikan pengobatan yang tepat, seperti terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, dan pengobatan tambahan untuk mengurangi ciri-ciri autis pada anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Banyak hal yang menyebabkan kulit bayi sensitif. Ketahui bagaimana cara penanganan agar kulit bayi Anda terjaga. Seperti apa tips perawatan yang tepat?

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Mengetahui anak Anda melakukan masturbasi mungkin akan menimbulkan rasa kaget pada orang tua. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi hal tersebut?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Parenting, Tips Parenting 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Membersihkan Badan Bayi dari Kepala, Tali Pusat, Sampai Organ Intim

Kebanyakan orangtua baru bingung bagaimana cara membersihkan badan bayi. Berikut panduannya, mulai dari kepala, tali pusat, sampai organ intim si kecil.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 5 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Bedong Bayi: Ketahui Manfaat dan Cara Memakaikan yang Tepat

Salah membedong bayi bisa menyebabkan Sudden Infant Death Syndrome alias kematian bayi mendadak saat tidur. Bagaimana cara bedong bayi yang benar?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 3 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

waktu bermain video game

Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
komunikasi dengan anak

Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya gurita bayi

Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Moluskum Kontagiosum atau molluscum contagiosum

Moluskum Kontagiosum (Molluscum Contagiosum)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 9 November 2020 . Waktu baca 6 menit