Penyebab Autisme dan Berbagai Faktor yang Bisa Meningkatkan Risikonya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Autisme merupakan gangguan perkembangan yang membuat seseorang sulit berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku seperti umumnya. Gejala autisme umumnya didiagnosis pertama kali pada tahun pertama kanak-kanak, atau mungkin lebih awal pada usia bayi. Lantas, apa penyebab anak autis? Yuk, cari tahu penyebab autisme pada ulasan berikut ini.

Penyebab jumlah anak autis di dunia meningkat

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, satu dari 160 anak di dunia memiliki autisme. Sementara itu, rangkuman beberapa penelitian besar bahkan melaporkan angka yang jauh lebih tinggi.

Simpulan di atas bukan mengartikan bahwa tren kasus autisme baru terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Belum tentu. Ada beberapa faktor gabungan yang mungkin dapat menjelaskannya.

Kenaikan dan perbedaan persentase antar satu laporan dengan yang lain bisa jadi karena makna dari autisme itu sendiri yang sudah diperbarui. Kini, definisi autisme diperluas menjadi gangguan spektrum autisme (GSA) yang mencakup beberapa gangguan perkembangan otak lainnya, seperti sindrom Asperger. Beberapa dekade lalu, gangguan-gangguan ini tidak dianggap sebagai karakteristik autisme.

Penyebab perbedaan angka laporan prevalensi autisme dari berbagai sumber dalam beberapa tahun terakhir juga dapat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan ilmu medis. Kini, kedokteran modern dapat mendiagnosis kasus-kasus bergejala ringan yang dulunya mungkin tidak terdiagnosis sama sekali. Bahkan autisme kini juga dapat terdiagnosis pada anak remaja dan dewasa.

Ternyata kasus-kasus inilah yang paling mungkin menjadi penyebab peningkatan prevalensi autisme sejak tahun 2000.

Penyebab autisme pada anak

Penyebab pasti dari autisme itu sendiri hingga kini belum dapat dipastikan.

Melansir National Institute of Health, bukti sejauh ini menemukan bahwa hasil tes pencitraan otak dari anak pengidap autisme sedikit berbeda dari anak-anak lain sepantaran yang tidak memiliki gangguan tersebut.

Gambar pencitraan otak anak autis (sebutan lama bagi pengidap autis, –red) menunjukkan perbedaan pada beberapa area otak yang mungkin terjadi selama masa perkembangan awal dalam kandungan.

Beberapa ahli menyimpulkan bahwa gangguan tersebut dapat terjadi akibat adanya cacat gen (mutasi) yang mengatur perkembangan otak sekaligus mengatur bagaimana sel-sel otak saling berhubungan satu sama lain.

Faktor yang dapat meningkatkan risiko autisme pada anak

Di luar itu, periset berpendapat bahwa ada beberapa faktor lain yang memiliki kemungkinan besar berperan sebagai penyebab autis atau bisa meningkatkan risikonya. Di antaranya:

1. Faktor keturunan atau genetik

Autisme cenderung terjadi dalam keluarga dan mungkin merupakan sesuatu yang diwariskan dari orangtua ke anaknya. Misalnya, jika salah satu orang tua punya autisme, anaknya akan cenderung mengalami autisme juga.

Bila seorang anak didiagnosis dengan autisme, adiknya juga punya peluang lebih besar mengidap autisme. Jadi, ada kemungkinan anak kembar akan sama-sama mengidap autisme.

Para ahli yakin bahwa gen yang diwariskan orangtua adalah salah satu faktor utama yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami gangguan ini.

Namun, ada beberapa gen dalam tubuh yang dipercaya menyebabkan autisme. Karena itu, para ilmuwan masih bekerja keras untuk menemukan dengan pasti gen apa yang bertanggung jawab menjadi penyebab autis pada anak.

Dalam beberapa kasus, autisme bisa berkaitan dengan gangguan genetik seperti sindrom fragile X atau sklerosis tuberous.

Sindrom fragile X adalah kondisi genetik yang dapat menyebabkan masalah perkembangan, terutama gangguan kognitif. Anak yang mewariskan gen ini umumnya mengalami keterlambatan perkembangan bicara, kecemasan, perilaku hiperaktif dan impulsif.

Sementara tuberous sclerosis adalah kondisi genetik langka yang menyebabkan adanya tumor non kanker yang berkembang di berbagai bagian tubuh, seperti otak, kulit, ginjal, jantung, mata, dan paru-paru.

2. Faktor lingkungan

Obat-obatan stroke ringan

Faktor lingkungan telah diketahui berkontribusi terhadap perkembangan autisme. Masalah yang terjadi atau obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan bisa jadi salah satu pemicunya

Obat yang disebut-sebut jadi penyebab autis (autisme), yakni obat thalidomide dan asam valproat. Obat thalidomide umumnya digunakan untuk mencegah pembengkakan dan peradangan karena penyakit Hanses dan mencegah perkembangan jenis kanker tertentu. 

Sementara asam valproat atau dikenal dengan valproic acid adalah obat yang digunakan untuk mengatasi kejang, gangguan mental, dan migrain. Obat yang bekerja dengan menyeimbangkan substansi alami di dalam otak ini kemungkinan bisa mengganggu perkembangan otak janin.

Untuk menurunkan risiko autisme pada anak, ibu hamil harus berhati-hati dalam menggunakan obat-obatan. Selalu konsultasikan pada dokter sebelum menggunakan obat-obatan tertentu. Pasalnya, beberapa obat dalam mengalir ke dalam darah dan menghambat hormon tertentu yang berkaitan erat dengan perkembangan janin.

Selain penggunaan obat tertentu saat hamil, Mayo Clinic menyebutkan bahwa polutan di udara juga bisa memicu terjadinya autisme. Kemungkinan besar ini meliputi bahan kimia di udara yang terhirup selama masa kehamilan.

3. Penyakit atau kondisi kesehatan tertentu

masalah paru-paru bayi prematur

Menurut pengamatan para ahli, kondisi kesehatan tertentu juga bisa berkaitan dengan penyebab autis. Kondisi yang dimaksud, meliputi:

Down syndrome

Suatu gangguan genetik yang menyebabkan tertundanya perkembangan, ketidakmampuan belajar dan fitur fisik yang tidak normal. Anak yang memiliki kondisi ini biasanya memiliki ciri hidung pesek, mulut kecil, atau tangan pendek.

Distrofi otot

Sekelompok kondisi genetik yang menyebabkan kelemahan otot progresif dan hilangnya massa otot. Dalam distrofi otot, gen yang tidak normal mengganggu produksi protein sehingga menyebabkan masalah pada otot yang sehat.

Cerebral palsy

Suatu gangguan kronis pada otak dan sistem saraf, menyebabkan masalah pergerakan dan koordinasi. Anak yang lahir dengan kondisi ini umumnya bertubuh kaku, sulit mengunyah, sulit berdiri dan duduk dengan tegap.

Kondisi yang menimpa bayi yang baru lahir ini memang sulit dicegah. Namun, Anda tidak boleh berkecil hati dengan hal ini.

Selama Anda mencukupi nutrisi dari makanan, istirahat cukup, berhenti merokok dan minum alkohol selama kehamilan, dan menerapkan gaya hidup sehat, risiko masalah kesehatan pada bayi dapat menurun. Paling penting, Anda harus selalu mengecek kesehatan Anda dan janin ke dokter secara berkala.

4. Bayi lahir prematur

Meski penyebab autis pada anak belum diketahui secara pasti, bayi yang lahir prematur sangat rentan mengalami kelainan ini. Autisme kemungkinan besar terjadi pada bayi yang lahir sebelum memasuki usia 26 minggu kehamilan.

Ada banyak kondisi yang berkaitan dengan kelahiran bayi prematur. Ini bisa terjadi akibat adanya infeksi atau komplikasi yang terjadi pada sang ibu selama kehamilan.

5. Bayi lahir dari kehamilan saat usia tua

terlalu tua untuk hamil

Studi melaporkan bahwa usia ibu hamil berdampak pada peningkatan risiko autisme. Ibu yang hamil di atas usia 40 tahun berisiko 51% memiliki anak dengan autisme – 2 kali lebih besar dibanding ibu yang hamil di usia sekitar 25 tahun.

Kemungkinan besar usia sang ibu berpengaruh pada gen yang diwariskan maupun perkembangan otak bayi selama di kandungan. Bila Anda atau sanak saudara mengalami kehamilan di usia tua, selalu lakukan konsultasi dengan dokter untuk memantau perkembangan dan kesehatan janin.

Penyebab autisme yang ternyata cuma mitos

Jadwal imunisasi bayi

Meningkatkan pengetahuan seputar autisme dapat membantu orangtua dalam merawat dan mengasuh si kecil dengan kelainan ini. Dengan begitu, mitos-mitos yang beredar tidak akan Anda telan mentah-mentah yang ujungnya bisa berdampak buruk bagi kesehatannya.

Berikut ini adalah beberapa anggapan mengenai penyebab autis pada anak yang tidak terbukti kebenarannya:

Imunisasi bukan penyebab autisme

Tidak ada kaitan antara pemberian vaksin (imunisasi) dan autisme, terutama imunisasi MMR (digunakan untuk mencegah gondok, campak, dan rubella).

Melakukan imunisasi adalah cara yang sangat penting dan efektif untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang mengancam jiwa. 

Pasalnya, bayi dan balita memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga mudah terinfeksi virus, bakteri, maupun parasit. Bila terinfeksi, gejala yang muncul dapat lebih parah dibanding orang dewasa dan perawatannya pun lebih rumit dilakukan karena tidak semua bayi boleh mengikuti berbagai prosedur kesehatan.

Meskipun bisa memberikan efek samping ringan, imunisasi lebih memberikan keuntungan daripada kerugian. Menghindari imunisasi bisa membuat anak berisiko kena infeksi serius.

Pola asuh yang salah bukan penyebab anak autis

Beredar kabar bahwa pola asuh orangtua yang salah disebut-sebut sebagai penyebab autis pada anak. Namun, periset telah membuktikan bahwa hal ini tidak benar. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa kemungkinan besar kelainan ini terjadi akibat adanya gangguan pada perkembangan otak anak.

Pola asuh yang buruk tidak mengarah pada autisme, namun bisa menimbulkan kecemasan, frustasi, rendah diri, atau membentuk kepribadian yang buruk pada anak. Jadi, meskipun tidak memicu autisme, pola asuh yang buruk harus dihindari orangtua dalam mendidik buah hatinya.

Meskipun sampai saat ini para ahli tidak bisa menentukan satu penyebab autisme pada masing-masing orang, baik faktor genetik maupun faktor lingkungan bisa sama-sama berperan dalam perkembangan autisme. Jadi, penyebab autisme pada satu orang bisa saja berakar dari kombinasi berbagai faktor.

Segera ke dokter jika curiga anak Anda mengidap autisme

Bila Anda curiga Anda atau anak Anda mengidap autisme, segera periksa ke dokter. Terutama jika si kecil menunjukkan gejala autisme, seperti kesulitan dalam berkomunikasi, lebih suka menyendiri, dan melakukan perilaku berulang

Selain itu, anak dengan kondisi ini cenderung menyukai rutinitas yang padat yang sama. Bila rutinitas berubah, ia akan merasa marah dan kecewa. Mereka juga tertarik pada suatu hal yang tidak biasa, misalnya menyukai pedal dan roda sepeda, kunci, atau sakelar lampu.

Dokter bisa mengulas informasi ini lebih jauh untuk menentukan penyebab autis pada anak dan mencari tahu perawatan yang tepat. Melakukan pengobatan lebih cepat membantu mengurangi keparahan gejala, sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Mau coba hal-hal baru di ranjang, tapi pasangan Anda malu berhubungan intim? Tenang, Anda bisa membangkitkan kehidupan seks Anda dengan beragam cara ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Cara Menggunakan Tongkat Kruk yang Benar Saat Sedang Cedera Kaki

Ketika Ada mengalami cedera kaki, mungkin Anda akan diminta untuk menggunakan tongkat penyangga (kruk) untuk berjalan. Lalu bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Psoriasis pada Kulit Kepala

Selain menyebabkan kepala terasa sangat gatal, psoriasis kulit kepala juga bisa bikin rambut Anda jadi cepat rontok dari biasanya. Kenapa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Seks dengan Lampu Menyala

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
teh tanpa kafein

3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Waktu Efektif Minum Kopi

Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
perut panas setelah makan; perut perih setelah makan; perut mulas

Perut Panas dan Ulu Hati Sakit Setelah Makan? Begini Mengatasinya

Ditulis oleh: Priscila Stevanni
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit