Rutin Makan Buah Bermanfaat Menurunkan Risiko Penyakit Alzheimer

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Alzheimer merupakan salah satu penyakit yang penderitanya semakin meningkat di seluruh dunia setiap tahun, termasuk Indonesia. Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan RI, diperkirakan jumlah penderita Alzheimer di Indonesia akan mencapai 2 juta jiwa pada tahun 2030 mendatang, terus meningkat hingga 4 juta jiwa pada tahun 2050. Meski demikian, salah satu studi menemukan bahwa buah yang dikonsumsi secara rutin bisa menjadi cara menurunkan risiko penyakit Alzheimer.

Makan buah berpotensi mencegah Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah kelainan progresif yang menyebabkan sel-sel otak menyusut dan mati. Ini bisa menurunkan kemampuan berpikir, perilaku, dan sosial seseorang. Seiring waktu, penyakit ini bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Buah-buahan masuk dalam daftar makanan sehat yang harus Anda konsumsi setiap hari untuk menjaga kesehatan otak. Studi yang baru diterbitkan pada American Journal of Clinical Nutrition di bulan April 2020, membuktikan potensinya.

Studi tersebut mengamati kebiasaan makan buah pada 2.800 partisipan yang berusia di atas 50 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang jarang makan buah memiliki risiko 2 hingga 4 kali terkena penyakit Alzheimer dalam rentang waktu 20 tahun.

Potensi makan buah untuk menurunkan risiko Alzheimer juga didukung dengan studi lain, yakni yang diterbitkan pada jurnal Neurology. Hasil studi menunjukkan konsumsi flavonoid (senyawa polifenolik pada buah dan sayur) dapat mencegah terjadinya penyakit Alzheimer.

Ahli kesehatan berpendapat bahwa potensi buah dalam mengurangi risiko penyakit Alzheimer dikarenakan adanya flavonoid. Senyawa yang terkandung pada buah ini memiliki sifat antiradang yang bisa melindungi otak dari peradangan.

Pilihan buah untuk turunkan risiko Alzheimer

Anda bisa menurunkan risiko penyakit Alzheimer rutin makan buah yang kaya kandungan flavonoid berikut ini:

1. Kelompok buah beri

Harvard Health Publishing menyebutkan kelompok buah beri baik untuk kesehatan otak karena kaya flavonoid. Kelompok beri yang bisa Anda pilih meliputi stroberi, raspberry, dan blueberry.

Selain menjaga kesehatan otak, kelompok buah ini juga kaya antioksidan seperti asam ellagic, resveratrol, dan antosianin. Antioksidan ini dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan. Manfaat lainnya adalah menjaga kulit tetap sehat, menurunkan kolesterol, dan kaya serat.

2. Jeruk dan apel

Buah untuk menurunkan risiko Alzheimer tidak hanya stroberi atau raspberry saja. Ada pilihan buah lainnya yaitu jeruk dan apel. Buah jeruk dan apel mengandung flavonoid dan kaya vitamin C yang bisa melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat radikal bebas.

Anda bisa menikmati buah-buahan tersebut dengan dimakan langsung, dibuat jus, salad buah, atau dijadikan topping yogurt.

Sebenarnya, flavonoid tidak hanya terbatas pada buah saja. Ada jenis makanan lain yang juga kaya senyawa ini seperti bayam, kale, cokelat, dan teh. Variasi makanan ini bisa Anda kombinasikan untuk menu setiap hari.

Gaya hidup sehat untuk mencegah alzheimer

Makan buah rutin tidak menjadi satu-satunya faktor untuk menurunkan risiko penyakit Alzheimer. Mayo Clinic menyebutkan berbagai cara ampuh untuk menurunkan risiko penyakit pada sel-sel otak ini, di antaranya:

  • Menjaga berat badan tetap ideal dengan memperhatikan pola makan, baik itu pilihan makanan, porsi, dan cara mengolahnya.
  • Rajin berolahraga karena bisa membantu menyehatkan sirkulasi darah, menjaga berat badan tetap stabil, sekaligus mengurangi stres.
  • Berhenti merokok dan menghindari asap rokok di sekitar.
  • Pastikan Anda cukup tidur setiap hari.

Jika Anda termasuk golongan orang yang rentan mengalami penyakit Alzheimer, terutama pada pasien penyakit jantung, lakukan konsultasi lebih lanjut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Kurma bukan satu-satunya buah yang baik dimakan saat berbuka puasa. Lihat berbagai pilihan lainnya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Monika Nanda
Hari Raya, Ramadan 14 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

6 Makanan Kaya Gizi yang Harus Ibu Hamil Penuhi Saat Sahur

Ibu hamil yang berpuasa tidak bisa makan sembarangan. Berikut beberapa contoh makanan sahur untuk ibu hamil yang bisa menjadi referensi Anda.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hari Raya, Ramadan 13 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

Saat lapar, rasanya hanya ingin marah sampai Anda mendapat yang Anda mau. Tapi, kok bisa begitu, ya? Kenapa kita mudah marah saat kelaparan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 10 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Jenis Buah dengan Kandungan Air Tinggi untuk Buka Puasa

Di bulan puasa, mengonsumsi buah tinggi kandungan air sangat penting agar tubuh tidak dehidrasi. Berikut buah kaya air yang cocok untuk buka puasa.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Hari Raya, Ramadan 9 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

diabetes insipidus adalah

Diabetes Insipidus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 6 Agustus 2020 . Waktu baca 12 menit
manfaat virgin coconut oil minyak kelapa dara; virgin coconut oil

Manfaat Virgin Coconut Oil untuk Kesehatan

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 4 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
pasien koma masih sadar atau tidak

Ini yang Terjadi Pada Tubuh dan Pikiran Saat Kita Sedang Koma

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
minum jus saat puasa

Langsung Minum Jus Buah Saat Berbuka Puasa, Boleh atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 18 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit