Tes Dermatitis Kontak: Tujuan, Prosedur, Persiapan, Cara Baca Hasil

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Jika Anda mengalami peradangan pada kulit disertai rasa gatal pada kulit dan tak kunjung hilang, mungkin Anda terkena dermatitis kontak. Namun, bagaimana caranya memastikan Anda benar-benar terkena penyakit tersebut? Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menyarankan Anda menjalani prosedur bernama tes dermatitis kontak.

Untuk apa tes dermatitis kontak?

Dermatitis kontak tak bisa didiagnosis hanya melalui pengamatan klinis dari indentifikasi gejala dan riwayat penyakit kulit semata.

Tes perlu dilakukan untuk menyempurnakan hasil diagnosis terhadap beberapa gejala mirip penyakit dermatitis. Pasalnya, dermatitis kontak merupakan kondisi peradangan kulit yang dapat dipengaruhi oleh berbagai paparan alergen yang berasal dari zat iritan atau bahan-bahan kimia.

Dokter biasanya menyarankan setiap orang yang mengalami masalah kulit seperti peradangan, kulit kering, gatal-gatal yang menerus, dan kulit bersisik untuk menjalani tes dermatitis kontak. Terlebih pada beberapa orang yang telah menjalani pengobatan dermatitis dengan kortikosteroid, tapi kondisi kulitnya tidak kunjung membaik.

Jenis tes yang biasanya dilakukan adalah tes tempel atau skin patch test untuk mengetahui secara spesifik jenis alergen atau iritan mana yang memicu reaksi abnormal pada kulit. Setelah mengetahui pasti apa pemicu gejala dermatitis kontak Anda, dokter bisa menentukan langkah pengobatan yang tepat untuk mengatasi masalah kulit yang Anda alami.

Prosedur pelaksanaan patch test

Skin patch test dapat digunakan untuk mendiagnosis dermatitis kontak alergi dengan menentukan alergen yang menyebabkan reaksi. Biasanya diperlukan waktu 5 sampai 7 hari untuk skin patch test.

Prosedur tes dermatitis kontak ini relatif aman dilakukan dan minim menimbukan efek samping yang berarti. Tes yang dilakukan juga tidak menggunakan jarum suntik sehingga tidak menimbulkan rasa sakit.

Akan tapi, apabila anak-anak ingin melakukan tes ini, skin patch test sebaiknya dilakukan ketika mereka sudah cukup memahami langkah-langkah prosedurnya.

Pada tes ini, dokter akan mengaplikasikan sedikit kadar alergen yang berbeda pada punggung pasien dan menutupi dengan balutan yang kedap udara, atau menggunakan aluminium yang ditempel pada punggung.

Pada kedua metode, tempelan akan dilepas setelah 2 hari, kemudian dipasang dan dilepas kembali setelah 5 sampai 7 hari. Dokter akan menguji alergi kulit melalui pemantauan reaksi tes yang akan mengindikasikan alergen. Reaksi dapat meliputi ruam kulit, benjolan, atau lepuhan.

Persiapan skin patch test

Sebelum melaksanakan patch test, biasanya Anda akan diminta untuk mempersiapkan beberapa hal termasuk menjalankan beberapa pantangan.

Umumnya beberapa hal berikut ini harus Anda persiapkan sebelum melakukan tes tempel alias skin patch test:

  • Hindari paparan sinar matahari selama 1-2 minggu sebelum tes dermatitis kontak., terutama di bagian punggung.
  • Menghentikan pemakaian obat-obatan topikal (krim atau salep) di bagian punggung dan area lain di mana patch akan ditempelkan, setidaknya 1 minggu sebelum pengujian. Namun, Anda dapat terus menggunakan obat salep di area lain di mana patch tidak akan ditempatkan.
  • Anda bisa menggunakan pelembab pada kulit sehari sebelum skin patch test.
  • Hindari aktivitas yang membuat Anda merasa panas dan berkeringat.
  • Hindari mandi atau sauna sebelum tes dermatitis kontak.
  • Hindari gerakan badan memutar yang berlebihan. Ini dapat melepas patch dari kulit punggung ketika tes dermatitis kontak.
  • Jangan mengoleskan minyak atau krim pelembab apapun di punggung pada pagi hari sebelum melakukan testes dermatitis kontak.
  • Jaga agar area kulit tetap kering sampai hari dokter mendiagnosis kondisi alergi Anda.
  • Hindari paparan sinar matahari langsung ke punggung beberapa hari sebelumnya dan selama tes dermatitis kontak. Ini karena radiasi ultraviolet dapat mengurangi respons kekebalan pada kulit.
  • Tidak boleh mengonsumsi obat kortison, prednisolone, atau imunosupresif, karena efek obatnya dapat mempengaruhi hasil tes dermatitis kontak.

Tujuan tes ini adalah untuk melihat reaksi alergi. Maka ketika hasil tes positif, maka Anda akan mengalami sejumlah gejala dermatitis pada area yang dilakukannya tes. Kulit Anda akan berubah kemerahan, dengan sedikit ruam, dan bengkak. Beberapa reaksi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman sekaligus rasa gatal yang mengganggu.

Tak perlu khawatir ketika reaksi ini muncul, petugas medis atau dokter akan memberikan obat atau krim steroid untuk mengatasinya.

Cara membaca hasil tes dermatitis kontak dari skin patch test

Alergi pada dermatitis kontak bukan merupakan alergi sebebagaimana mestinya yang melibatkan pengaruh antibodi tertentu, melainkan reaksi hipersensitif dari paparan benda eksternal yang dapat memicu rangsangan pada kulit sehingga mengakibatkan peradangan kulit.

Maka dari itu, jenis alergen yang bisa diidentifikasi pada tes dermatitis kontak  ini adalah poison ivy, nikel, bahan kosmetik, zat pewangi, dan lateks.

Jika reaksi hilang setelah alergen dilepas, kemungkinan hasil tes adalah positif dermatitis kontak. Sebaliknya jika tidak terjadi reaksi maka hasil diagnosis terhadap dermatitis kontak adalah negatif.

Dilansir dari DermNet NZ, kulit juga dapat menunjukkan reaksi berupa gejala alergi seperti kemunculan ruam berwarna merah muda yang menunjukkan hasil tes weak positive.  Sementara itu, hasil tes dermatitis kontak strong positive diindikasikan dengan kulit yang melepuh atau bernanah.

Meski demikian, terdapat juga hasil tes yang tidak bisa ditentukan biasanya ditandai dengan munculnya bercak-bercak berwarna merah muda.

Biopsi pelengkap untuk diagnosis dermatitis kontak

Biopsi kulit bukanlah tes dermatitis kontak, namun bisa digunakan untuk mengeliminasi kemungkinan lain yang diduga oleh dokter, seperti infeksi jamur. Kasus yang parah dan terus berulang dapat membuat dokter tidak hanya melakukan tes tempel, namun juga biopsi kulit di mana sampel kulit akan diambil dan dites pada laboratorium.

Jika Anda memiliki luka, dokter dapat menggunakan sampel dari area kulit yang sakit. Sampel biasanya diambil dengan cara-cara berikut.

Biopsi shave

Jenis biopsi ini paling tidak invasif. Dokter akan mengambil kulit dari lapisan terluar. Tidak diperlukan jahitan.

Biopsi punch

Dokter akan mengambil sampel sebesar penghapus pensil menggunakan alat yang tajam dan berongga. Jahitan dapat diperlukan, tergantung dari ukuran sampel.

Biopsi excisional

Jenis ini paling jarang dilakukan. Dalam prosedur ini, dokter mengangkat seluruh bagian luka dengan operasi dan menutup dengan jahitan. Untuk bagian yang besar, pengangkatan kulit dapat diperlukan.

Biasanya, Anda tidak memerlukan tes untuk mendiagnosis dermatitis kontak. Dokter dapat mengidentifikasi dengan riwayat medis dan pemeriksaan pada ruam dan area sekitarnya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 1, 1970 | Terakhir Diedit: Maret 6, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca