Gejala dan Tanda Anak Anda Alergi Susu Sapi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Jika Anda memberikan susu sapi pada bayi Anda dan kemudian ia mengalami kemerahan atau gatal-gatal, mungkin saja ia memiliki alergi terhadap susu sapi. Bagaimana tanda-tanda dan gejala alergi susu sapi?

Alergi yang muncul setelah mengonsumsi susu sapi memang merupakan hal yang jarang, hanya terjadi 2 hingga 7 persen bayi. Hal ini terjadi akibat sistem kekebalan tubuh bayi yang bereaksi dengan protein yang ada di dalam susu sapi. Sebagian besar bayi yang mengalami gejala alergi susu sapi, biasanya bisa mengatasi hal tersebut setelah mereka melewati usia 4 tahun, dan hanya sedikit yang alerginya bertahan hingga dewasa.

Apakah alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa?

Tidak seperti intoleransi laktosa yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh, gejala alergi susu sapi justru terjadi akibat adanya reaksi sistem kekebalan tubuh anak dengan protein yang terkandung di dalam susu sapi. Jenis protein yang paling sering menyebabkan alergi adalah whey dan kasein. Bayi yang mengalami alergi bisa saja alergi terhadap salah satu atau kedua protein tersebut.  Reaksi yang muncul biasanya terjadi dalam hitungan menit atau jam setelah mengonsumsi susu. Anak bisa saja alergi terhadap susu apapun, karena dalam berbagai susu terdapat protein di dalamnya, namun yang paling sering terjadi adalah alergi yang disebabkan oleh susu sapi.

Bagaimaan gejala alergi susu sapi?

Gejala dan tanda yang muncul bisa terjadi dalam beberapa tingkat keparahan, tergantung dengan masing-masing anak. Namun biasanya gejala yang langsung muncul sesaat setelah anak meminum susu adalah muntah, mengeluarkan suara ‘ngik’, timbul rasa gatal disertai bengkak dan kemerahan. Sedangkan berikut adalah gejala dan tanda yang mungkin muncul beberapa jam setelah anak mengonsumsi susu, yaitu:

  • Mencret dan mungkin mengandung darah
  • Diare
  • Kram pada perut
  • Batuk
  • Flu
  • Mata berair
  • Kulit menjadi ruam dan gatal, sering terjadi di daerah sekitar mulut
  • Kolik atau nyeri pada perut

Bila gejala yang muncul sangat parah, maka anak dapat mengalami anafilaksis, yaitu keadaaan di mana anak susah untuk bernapas akibat respon alergi yang terjadi menyumbat dan menghalangi saluran pernapasan. Anafilaksis adalah kejadian yang sangat gawat dan dibutuhkan penanganan khusus seperti menyuntikkan obat epinefrin ke anak.

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala alergi susu sapi terbagi menjadi dua, yakni: anak yang sedang menerima ASI eksklusif dan anak yang mengonsumsi susu formula. Masing-masing memiliki gejala ringan dan berat sama.

Untuk anak ASI eksklusif dan formula, bisa dicurigai mengalami gejala alergi susu sapi bila mengalami salah satu atau lebih hal berikut:

Gejala Ringan

  •  Regurgitasi berulang, muntah, diare, konstipasi, darah pada tinja
  • Anemia defisiensi besi
  • Pilek, batuk, kronik
  • Kolik persisten (Lebih dari 3 jam per hari per minggu selama 3 minggu)

Gejala Berat

  • Gagal tumbuh karena diare atau regurgitasi, anak tidak mau makan.
  • Anemia defisiensi besi karena darah di tinja

Bila mengalami gejala berat, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak. Bila Anda ragu dengan gejala alergi susu sapi tersebut, maka konsultasi ke dokter adalah jalan terbaik.

Umumnya, alergi akan terjadi hanya sampai anak berusia 4 tahun. Namun jika gejala masih muncul ketika anak sudah lebih dari 4 tahun, mungkin alergi tersebut akan terjadi hingga dia beranjak remaja. Namun setelah itu biasanya gejala alergi akan hilang dengan sendirinya. Sangat jarang ditemukan gejala alergi susu sapi pada orang dewasa. Walaupun begitu, anak yang dulunya pernah mengalami gejala alergi susu, memiliki risiko mengalami alergi terhadap hal lain, bahkan bisa menyebabkan asma ketika dewasa nanti.

Mengapa seorang anak bisa alergi susu?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, alergi terjadi akibat reaksi terhadap sistem kekebalan tubuh. Ketika bayi mengonsumsi susu yang menyebabkan alergi, maka sistem kekebalan tubuhnya akan menandai atau menanggapi protein yang masuk ke dalam tubuh sebagai zat yang berbahaya. Tubuh akan langsung menghasilkan imunoglobulin E (IgE), yaitu antibodi yang berfungsi untuk menangani alergi yang terjadi di dalam tubuh. Saat bayi mengonsumsi susu beberapa kali, maka IgE sudah mengenali protein yang dianggap berbahaya tersebut sehingga memberikan sinyal ada tubuh untuk mengeluarkan histamin dan berbagai zat kimia lain yang dapat menimbulkan gatal-gatal, kemerahan pada kulit, dan berbagai gejala yang telah disebutkan sebelumnya.

Apakah anak saya berisiko memiliki alergi susu sapi?

Beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko kejadian gejala alergi susu sapi pada anak, yaitu:

Alergi terhadap hal lain. Banyak anak-anak yang alergi terhadap susu juga alergi dengan zat atau benda lain. Namun, biasanya alergi susulah yang menyebabkan alergi terhadap zat lain muncul.

Eksim atopik, yaitu kelainan kulit yang kronis atau menahun, berupa gatal-gatal dan kemerahan pada berbagai bagian tubuh. Anak yang memiliki atopic dermatitis, berpeluang lebih besar untuk mempunyai alergi terhadap makanan, termasuk susu.

Riwayat keluarga. Anak yang memiliki anggota keluarga yang mempunyai riwayat alergi terhadap suatu jenis makanan, berpeluang lebih besar untuk alergi terhadap susu

Usia. Alergi terhadap susu sering terjadi pada anak-anak. Seiring dengan pertumbuhannya, sistem pencernaan anak akan berkembang dan menjadi matang, sehingga pada akhirnya mereka dapat beradaptasi terhadap protein yang ada di dalam susu.

Apakah alergi terhadap susu akan menimbulkan komplikasi pada kesehatan anak?

Anak yang memiliki alergi terhadap susu, berpeluang untuk mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti:

  • Alergi terhadap jenis makanan lain, seperti telur, kedelai, kacang-kacangan, atau bahkan daging.
  • Hay fever atau alergi terhadap serbuk bunga dan debu, sama seperti alergi-alergi lainnya, alergi ini terjadi akibat adanya gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh anak.

BACA JUGA

Share now :

Direview tanggal: April 24, 2018 | Terakhir Diedit: Januari 3, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca