Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Jenggot dan Kumis Tidak Tumbuh pada Pria, Apa Penyebabnya?

    Jenggot dan Kumis Tidak Tumbuh pada Pria, Apa Penyebabnya?

    Setiap pria memiliki karakteristik kulit wajah yang berbeda. Sebagian pria punya rambut wajah yang bisa tumbuh cepat, sedangkan lainnya sulit sekali untuk menumbuhkan bahkan sehelai saja. Lantas, apa yang menyebabkan kumis dan jenggot tidak tumbuh?

    Penyebab kumis dan jenggot tidak tumbuh

    Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut wajah, dalam hal ini adalah kumis dan jenggot pada pria.

    Beberapa hal yang menjadi penyebabnya, antara lain kadar testosteron rendah, usia, genetik, etnis, hingga kebotakan.

    Untuk mengetahui kondisi yang mungkin Anda alami, simak penjelasannya berikut ini.

    1. Kadar testosteron rendah

    perawatan kulit untuk pria

    Hormon testosteron berperan penting dalam pertumbuhan rambut wajah pada pria. Pria yang kekurangan hormon testosteron cenderung lebih sulit untuk menumbuhkan kumis dan jenggot.

    Para peneliti berpendapat pria sehat memiliki rata-rata 300–1.000 nanogram/desiliter (ng/dL) testosteron dalam tubuhnya.

    Akan tetapi, kumis dan jenggot terkadang tidak tumbuh meski tubuh Anda memiliki kadar hormon testosteron normal. Ini terjadi akibat perbedaan kepekaan dan reaksi tubuh setiap orang terhadap hormon.

    Tubuh sebagian pria bisa merespons testosteron dengan baik sehingga mudah saja bagi orang tersebut untuk menumbuhkan jenggot dan kumis.

    Namun, tubuh juga bisa kurang sensitif terhadap hormon testosteron. Hal ini bisa membuat jenggot atau kumis pria sulit atau bahkan tidak tumbuh, sekalipun memiliki kadar testosteron yang normal.

    2. Usia

    Jika Anda baru memasuki usia remaja atau di bawah 20 tahun, sebenarnya tidak perlu khawatir bila jenggot atau kumis tidak tumbuh selama masa pubertas.

    Hal ini bukanlah vonis pasti bahwa Anda tidak bisa punya kumis dan jenggot. Pasalnya, rambut wajah Anda masih memiliki kemungkinan untuk makin tebal seiring bertambahnya usia.

    Sebagian pria mungkin mengalami peningkatan rambut wajah hingga sekitar usia 30 tahunan.

    Namun, bila setelah melewati usia tersebut dan Anda belum mendapatkan kumis dan jenggot yang diinginkan, mungkin usia bukanlah faktor yang menyebabkannya.

    3. Keturunan

    Faktor keturunan memengaruhi kondisi kumis akan tumbuh atau tidak. Jika ayah atau kakek dari ibu Anda memiliki rambut wajah tebal, kemungkinan Anda akan memilikinya.

    Seberapa tebal folikel rambut memang sudah ditentukan sebelum lahir. Selain itu, hormon androgen juga memengaruhi kemampuan tubuh dalam menumbuhkan rambut wajah.

    Enzim dalam tubuh yang bernama 5-alpha reductase akan mengubah androgen ke hormon lain yang disebut hormon dihidrotestosteron (DHT).

    DHT mengikat reseptor pada folikel rambut untuk merangsang pertumbuhan kumis dan jenggot. Namun, sensitivitas folikel rambut terhadap hormon DHT juga memengaruhi seberapa besar efek pertumbuhan rambut wajah.

    Kembali lagi, secara keseluruhan tumbuh atau tidaknya kumis dan jenggot sangat dipengaruhi faktor genetik Anda.

    4. Ras

    kumis dan jenggot tidak tumbuh

    Sama halnya dengan keturunan, ras punya efek penting pada pertumbuhan jenggot dan kumis.

    Sebuah studi dalam International Journal Of Cosmetic Science (2016) menyimpulkan pria Tiongkok memiliki pertumbuhan rambut wajah lebih sedikit daripada pria Kaukasia.

    Pertumbuhan rambut wajah pada pria Tiongkok cenderung terkonsentrasi pada area sekitar mulut, sedangkan pria Kaukasia memiliki lebih banyak rambut pada pipi, leher, dan dagu.

    Dalam penelitian yang sama, diameter rambut manusia bervariasi mulai 17–180 mikrometer.

    Hal inilah yang menyebabkan penampakan jenggot dan kumis yang terlihat lebih tebal dan penuh pada sebagian pria.

    5. Alopesia areata

    Alopesia areata merupakan salah satu jenis kebotakan yang bisa menyebabkan jenggot dan kumis tidak tumbuh pada sebagian pria.

    Dikutip dari American Academy of Dermatology Association, alopesia areata adalah bentuk kebotakan rambut yang tidak merata.

    Kondisi ini berkembang pada bagian tubuh mana saja, termasuk sekitar jenggot dan kumis.

    Anda mungkin berisiko besar untuk mengalami alopesia areata, bila orangtua atau kerabat dekat memiliki riwayat kondisi yang sama.

    Sayangnya, tidak ada obat khusus untuk menangani alopesia areata. Dokter umumnya akan meresepkan pengobatan, seperti injeksi atau krim kortikosteroid.

    Bagaimana cara menumbuhkan kumis dan jenggot?

    Apabila kadar testosteron dalam tubuh Anda memang sangat rendah, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk menjalani suntik hormon testosteron.

    Namun, suntik hormon testosteron tidak dapat menjamin jenggot dan kumis tumbuh, terlebih jika faktor genetik tidak mendukung.

    Kalau tubuh Anda tidak peka terhadap testosteron, suntik hormon sebanyak apa pun tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan rambut di wajah.

    Anda pun juga perlu berhati-hati dalam menggunakan suplemen atau obat penumbuh jenggot karena sebagian di antaranya belum teruji secara klinis.

    Untuk Anda yang ingin melebatkan kumis dan jenggot, sebaiknya mulai lakukan gaya hidup sehat seperti berikut ini.

    • Menjaga pola makan sehat dan bernutrisi seimbang untuk membantu pertumbuhan rambut, seperti protein, lemak sehat, zat besi, zinc, dan vitamin.
    • Olahraga secara rutin untuk meningkatkan aliran darah ke wajah dan merangsang pertumbuhan folikel rambut.
    • Cukupi kebutuhan tidur 7–9 jam per malam untuk memberikan waktu bagi tubuh untuk pulih, termasuk melepaskan hormon testosteron lebih baik.
    • Menjaga kesehatan kulit wajah dengan cara mencuci wajah secara rutin untuk mengangkat sel kulit mati dan kotoran sekitar folikel rambut.
    • Berhenti merokok yang memicu dampak buruk pada kesehatan kulit dan rambut.

    Konsultasikan dengan dokter bila pertumbuhan kumis dan jenggot bermasalah. Dokter akan melakukan diagnosis dan perawatan sesuai dengan kondisi yang Anda alami.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Can’t Grow a Full Beard? There’s an Explanation for That. (2019). Cleveland Clinic. Retrieved 21 January 2022, from https://health.clevelandclinic.org/cant-grow-a-full-beard-theres-an-explanation-for-that/

    Hair loss types: Alopecia areata overview. American Academy of Dermatology Association. Retrieved 21 January 2022, from https://www.aad.org/public/diseases/hair-loss/types/alopecia 

    Omona, K. (2021). Testosterone. Reproductive Hormones. https://doi.org/10.5772/intechopen.94017

    Maurer, M., Rietzler, M., Burghardt, R., & Siebenhaar, F. (2016). The male beard hair and facial skin – challenges for shaving. International Journal Of Cosmetic Science, 38, 3-9. https://doi.org/10.1111/ics.12328

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Jan 31
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
    Next article: