Apakah Obat Penumbuh Jenggot Efektif?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Zaman sekarang menumbuhkan jenggot semakin menjadi tren di kalangan para pria. Yang tadinya tidak punya, rela untuk membeli obat penumbuh jenggot agar bisa tumbuh lebat dan terlihat seperti seorang gentleman.

Tapi tidak jarang, meski sudah memakai obat penumbuh jenggot selama berbulan-bulan, ternyata tetap tidak ada hasilnya. Apa yang salah? Apakah Anda salah pilih obat atau mereknya, atau mungkin ada hal lain yang membuat rambut-rambut di wajah tersebut tetap tidak tumbuh?

Jumlah dan karakteristik jenggot setiap pria berbeda-beda

Pada dasarnya, setiap orang baik pria maupun wanita akan memiliki bulu-bulu halus di wajah saat memasuki usia remaja. Rata-rata bulu-bulu halus remaja pria akan mulai tumbuh di wajah sekitar usia 15-16 tahun.

Namun, tergantung pada individu masing-masing, ada yang tumbuh bulu lebih cepat dan ada pula yang lambat. Malah ada remaja yang sudah punya jenggot saat usianya masih cenderung muda, meskipun remaja lainnya biasanya baru akan memiliki jenggot di usia yang lebih dewasa nantinya.

Seperti dikutip WebMD, jumlah bulu halus yang nantinya akan menjadi jenggot atau brewok, pada setiap jumlahnya tidak sama. Jumlah bulu atau rambut halus, di area mana saja ia akan tumbuh, seberapa gelap atau terang warnanya, semuanya dikendalikan dan dipengaruhi oleh gen dalam tubuh Anda.

Jadi, jenggot dan brewok Anda mungkin akan tebal, mungkin juga tipis, dan mungkin juga tidak merata. Meski jenggot milik ayah Anda tebal, bukan berarti milik Anda akan seperti ayah Anda. Dalam keluarga Anda mungkin akan ada pria (bisa jadi anak Anda atau anggota keluarga lainnya yang sedarah) memiliki jenggot yang kurang lebih sama dengan Anda. Namun, pada umumnya jenggot yang dimiliki seseorang akan sudah terlihat bentuk dan polanya di usia 20-an awal.

Jadi, bagaimana cara efektif menumbuhkan jenggot?

Testosteron adalah salah satu hormon seks pada pria yang menjadi “biang” tumbuhnya jenggot. Dan karena tumbuh atau tidaknya bulu-bulu di wajah ditentukan oleh faktor genetik di dalam tubuh seseorang, maka tak heran jika metode menumbuhkan jenggot yang dianggap paling efektif saat ini adalah terapi testosteron yang biasanya diberikan melalui suntikan. 

Namun menurut Dr. Joel M. Gelfand, profesor dermatologi dan epidemiologi di University of Pennsylvania, sebaiknya kita berhati-hati agar menjalani suntik testosteron dengan kadar yang normal dan tidak berlebihan.

“Karena ia bisa membuat rambut rontok dari kulit kepala, jerawat parah yang bisa meninggalkan luka permanen, dan gangguan liver yang bisa fatal,” tutur Dr. Joel.

Terkait dengan banyaknya pria yang mencoba melebatkan bulu di wajah mereka dengan cara rajin mencukurnya, Dr. Joel mengatakan bahwa sebaiknya dibiarkan saja tumbuh secara alami.

“Meskipun Anda mencukurnya terus menerus, ini tidak akan berpengaruh. Seiring bertumbuhnya rambut pada tubuh Anda, semuanya akan tumbuh menurut siklus pertumbuhannya sendiri. Mungkin jumlahnya tidak bertambah, tapi setiap tumbuh bisa semakin tebal,” papar Dr. Joel.

Bagaimana dengan krim dan minyak penumbuh jenggot?

Di tengah populernya menumbuhkan jenggot dan brewok di kalangan pria masa kini, memang banyak obat penumbuh jenggot di pasaran, baik dalam bentuk suplemen ataupun obat oles yang diklaim kaya akan vitamin, biotin, dan lain sebagainya. Sayangnya, kebanyakan produk tersebut kurang dalam kredibilitas ilmiahnya. Terutama untuk obat oles seperti krim atau minyak yang hanya dipakai di luar, sementara pertumbuhan jenggot sendiri diatur oleh genetika dan hormon dalam tubuh Anda.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Tips Melakukan Waxing di Rumah Dengan Bahan-bahan Alami

Selain lebih murah, waxing di rumah dengan bahan alami ternyata lebih aman karena memiliki kemungkinan infeksi lebih kecil daripada waxing di salon.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Urat menonjol pada permukaan kulit memang kerap ditemui pada orang berusia lanjut. Lalu apa artinya kalau masih muda sudah mengalami kondisi ini?

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Informasi Kesehatan 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

2 Cara Mudah Hilangkan Kumis dan Jenggot, Sekali untuk Selamanya

Ada pria yang enggan memiliki brewok agar awet muda. Lantas, apakah ada cara menghilangkan kumis dan jenggot secara permanen? Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
hypertrichosis, hipertrikosi, werewolf syndrom

Hipertrikosis, Kelainan Langka yang Membuat Sekujur Tubuh Ditumbuhi Bulu Lebat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit