home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Manfaat dan Risiko Suntik Hormon Testosteron

Mengenal Manfaat dan Risiko Suntik Hormon Testosteron

Apakah Anda pernah mendengar istilah suntik hormon testosteron? Pilihan terapi ini mungkin menjadi salah satu jawaban yang menjanjikan bagi para pria penderita kondisi kekurangan testosteron. Namun sebelum memulai terapi ini, ada baiknya Anda mengetahui beberapa manfaat dan risikonya terlebih dulu berikut ini.

Apa itu testosteron?

Testosteron adalah hormon steroid pria yang umum dikenal memiliki peranan dalam mengatur gairah seksual dan produksi sperma. Pada masa pubertas, hormon ini juga akan memengaruhi perkembangan penis dan testis, hingga tumbuhnya kumis, jenggot, dan rambut kemaluan pria.

Selain itu, hormon yang dihasilkan pada testis pria ini juga berperan dalam mengatur banyak hal lain dalam tubuh yang menentukan kesehatan Anda, seperti lemak tubuh, massa otot, kepadatan tulang, jumlah sel darah merah, dan suasana hati.

Dikutip dari jurnal Reviews in Urology, kadar normal testosteron pada pria dewasa adalah sekitar 300 hingga 1.000 ng/dL. Jika hasil pemeriksaan Anda berada di bawah normal, maka dokter Anda kemungkinan akan menyarankan terapi hormon, seperti suntik testosteron alias suntik hormon pria.

Apa saja gejala pria yang kekurangan testosteron?

Kadar testosteron pada pria biasanya mulai turun sekitar 1 persen per tahun setelah menginjak usia 30 hingga 40-an. Kekurangan hormon testosteron pada pria bisa saja merupakan reaksi normal dari efek penuaan atau berupa penyakit yang dikenal dengan istilah hipogonadisme.

Hipogonadisme adalah kondisi ketika kelenjar seks menghasilkan hormon dalam jumlah yang sangat sedikit atau tidak sama sekali. Salah satu gejala hipogonadisme pada pria adalah gangguan hormon testosteron pada pria.

Beberapa gejala apabila tubuh pria kekurangan hormon testosteron, antara lain:

  • Disfungsi ereksi
  • Perubahan gairah seksual
  • Penurunan jumlah sperma
  • Depresi atau gangguan kecemasan
  • Peningkatan berat badan
  • Rasa panas yang menjalar pada tubuh (hot flashes)
  • Perubahan ukuran penis dan testis
  • Pembengkakan payudara

Jika Anda berkonsultasi pada dokter mengenai kondisi Anda, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan melakukan beberapa pemeriksaan fisik. Dokter juga akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon testosteron.

Selain itu, dokter juga merekomendasikan Anda untuk memeriksa kadar sel darah merah. Hal ini karena suntikan hormon testosteron dapat meningkatkan kadar sel darah merah dalam tubuh. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan dari peningkatan sel darah merah yang terlalu signifikan.

Manfaat suntik hormon testosteron

Tujuan penyuntikan testosteron adalah untuk membantu mengatur kadar hormon pada pria yang mengalami gejala kekurangan testosteron. Beberapa manfaat yang dapat penderita rasakan setelah menjalani terapi hormon testosteron, antara lain:

  • Peningkatan gairah seksual
  • Perbaikan gejala disfungsi ereksi
  • Kondisi tubuh lebih bertenaga
  • Perbaikan suasana hati
  • Peningkatan jumlah sperma

Selain keuntungan tersebut, injeksi testosteron juga dapat memperbaiki komposisi otot. Secara umum, pria memiliki lebih sedikit lemak dalam tubuh daripada wanita. Hal ini dipengaruhi oleh testosteron yang mengatur distribusi lemak dan menjaga otot dalam tubuh Anda.

Saat kadar testosteron berkurang, Anda mungkin menyadari bahwa lemak tubuh bertambah, sementara ukuran otot berkurang atau melemah. Injeksi testosteron dapat membantu mengatasi hal ini. Hanya saja terapi hormon pria tidak dapat memberikan hasil yang signifikan.

Jadi, sebaiknya Anda jangan hanya berharap dari terapi hormon jika menginginkan tubuh yang lebih berotot. Terapi testosteron dapat meningkatkan massa otot, namun tidak meningkatkan kekuatan otot. Konsultasikan pada dokter Anda untuk mendapatkan solusi yang sesuai.

Risiko suntik hormon testosteron

risiko terapi suntik testosteron

Suntikan testosteron dapat menolong banyak penderita kekurangan testosteron. Namun bukan berarti injeksi ini aman bagi semua pria. Anda perlu memberitahukan kondisi kesehatan secara jelas pada dokter sebelum memulai terapi testosteron untuk meminimalisir efek sampingnya.

Anda mungkin membutuhkan pengawasan yang lebih ketat jika memiliki beberapa kondisi, seperti mengalami penyakit jantung, sleep apnea, atau jumlah sel darah merah yang tinggi. Selain itu, Anda juga tidak boleh menerima suntikan testosteron jika menderita kanker payudara atau kanker prostat.

Dikutip dari Mayo Clinic, melakukan suntikan testosteron dapat meningkatkan risiko Anda terkena beberapa masalah kesehatan, seperti:

  • Memperburuk sleep apnea.
  • Menimbulkan jerawat dan gangguan kulit lainnya.
  • Menimbulkan pembengkakan ukuran payudara.
  • Membatasi produksi sel sperma atau membuat ukuran testis menyusut.
  • Memicu atau memperburuk kondisi pembesaran prostat atau benign prostatic hyperplasia (BPH).
  • Memproduksi lebih banyak sel darah merah yang dapat menimbulkan penyempitan pembuluh darah.
  • Meningkatkan risiko penyakit jantung seperti serangan jantung dan stroke.

Selain masalah kesehatan, Anda akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menjalani terapi ini. Terapi testosteron tidak akan dapat menyembuhkan penyebab dari kekurangan testosteron, namun hanya meningkatkan kadar hormon hingga kembali normal. Oleh karena itu, Anda harus melakukannya secara berkala jika mengambil pilihan terapi ini.

Kesimpulan: apakah suntik hormon testosteron aman?

Injeksi testosteron dapat berguna jika Anda memang benar-benar mengalami kekurangan testosteron. Berkonsultasilah pada dokter untuk mengetahui bahwa injeksi hormon ini memang merupakan solusi yang tepat bagi masalah kesehatan Anda.

Jika Anda memang mengalami kekurangan testosteron, dokter Anda dapat membantu memutuskan dan mengawasi apakah injeksi ini aman bagi kondisi kesehatan Anda.

Sebagian dari Anda mungkin merasa mengalami gejala kekurangan testosteron, padahal hasil pemeriksaan menunjukkan kadar yang normal. Untuk kondisi ini, Anda cukup memenuhi kebutuhan nutrisi, olahraga teratur, dan berhenti merokok agar tubuh terasa lebih baik.

Jika terdapat beberapa hal yang belum dapat membantu Anda, konsultasikan kembali pada dokter Anda untuk mendapatkan solusi terbaik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Arora, P., & Topiwala, S. (2020). Testosterone | Hormone Health Network. Hormone.org. Retrieved 24 February 2021, from https://www.hormone.org/your-health-and-hormones/glands-and-hormones-a-to-z/hormones/testosterone

Testosterone therapy: Potential benefits and risks as you age. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 24 February 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/sexual-health/in-depth/testosterone-therapy/art-20045728

Cochrane, Z., & Cherney, K. (2018). Testosterone Injections: Are They Right for You?. Healthline. Retrieved 24 February 2021, from https://www.healthline.com/health/testosterone-injections. 

Bassil, N., Alkaade, S., & Morley, J. E. (2009). The benefits and risks of testosterone replacement therapy: a review. Therapeutics and clinical risk management, 5(3), 427–448. https://doi.org/10.2147/tcrm.s3025 

Surampudi, P., Swerdloff, R. S., & Wang, C. (2014). An update on male hypogonadism therapy. Expert opinion on pharmacotherapy, 15(9), 1247–1264. https://doi.org/10.1517/14656566.2014.913022 

Carnegie C. (2004). Diagnosis of hypogonadism: clinical assessments and laboratory tests. Reviews in urology, 6 Suppl 6(Suppl 6), S3–S8.

Foto Penulis
Ditulis oleh Priscila Stevanni pada 22/01/2021
x