home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jenggot dan Kumis Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria, Apa Penyebabnya?

Jenggot dan Kumis Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria, Apa Penyebabnya?

Apakah Anda ingin memiliki jenggot dan kumis tapi sulit terwujud? Setiap orang memiliki karakteristik wajah dan kulit yang berbeda. Sebagian pria memiliki rambut wajah yang bisa tumbuh lebat, namun sebagian lain barangkali kesulitan menumbuhkan kumis atau jenggot. Yuk, cari tahu penyebab jenggot dan kumis tidak tumbuh berikut ini.

Apa saja penyebab jenggot dan kumis tidak tumbuh?

Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi pertumbuhan jenggot dan kumis pada wajah seseorang. Beberapa penyebabnya, antara lain kadar testosteron rendah, usia, genetik, etnis, hingga kebotakan yang penjelasannya seperti berikut ini.

1. Kadar testosteron rendah

jenggot gatal

Hormon testosteron berperan penting dalam pertumbuhan rambut wajah pada pria. Pria yang kekurangan hormon testosteron lebih sulit menumbuhkan rambut di wajah. Inilah mengapa wanita yang memiliki kadar testosteron jauh lebih rendah dari pria umumnya tidak bisa menumbuhkan jenggot dan kumis.

Dr. Kenneth Beer, spesialis kulit asal Amerika Serikat seperti dikutip dari The New York Times menjelaskan bahwa kadar testosteron dalam tubuh Anda mungkin sudah cukup banyak. Akan tetapi, kepekaan dan reaksi tubuh setiap orang terhadap hormon ini ternyata berbeda-beda.

Ada tubuh yang bisa merespons testosteron dengan baik, sehingga pria tersebut mudah menumbuhkan jenggot dan kumis. Namun, ada juga orang yang kurang sensitif terhadap testosteron meskipun kadarnya sudah cukup.

2. Usia

Jika Anda baru memasuki usia 20-an awal atau remaja, sebenarnya tidak perlu khawatir apabila jenggot atau kumis tidak tubuh. Belum tumbuhnya kumis dan jenggot di usia muda bukan berarti Anda tidak bisa memilikinya. Pasalnya, dalam usia ini rambut wajah Anda akan terus bertambah tebal seiring bertambahnya usia. Bahkan, pria sering mengalami peningkatan cakupan rambut wajah hingga sekitar usia 30 tahunan.

3. Genetik

Faktor genetik sangat berpengaruh dan salah satu faktor utama kumis tidak tumbuh. Jadi, jika ayah atau kakek Anda memiliki kumis dan jenggot tebal, maka kemungkinan besar Anda juga bisa memilikinya. Seberapa tebal folikel rambut, baik pada wajah dan seluruh tubuh memang sudah ditentukan secara genetik, bahkan sebelum Anda lahir.

Selain folikel rambut, hormon androgen juga memengaruhi kemampuan tubuh Anda dalam menumbuhkan rambut wajah. Enzim dalam tubuh Anda yang bernama 5-alpha reductase akan mengubah androgen menjadi hormon lain yang disebut dihidrotestosteron (DHT).

DHT akan mengikat reseptor pada folikel rambut Anda untuk merangsang pertumbuhan rambut wajah. Namun, kekuatan efeknya sangat bergantung pada sensitivitas folikel rambut terhadap DHT. Kembali lagi, hal ini sangat bergantung pada faktor genetik Anda.

4. Etnis

kumis dan jenggot tidak tumbuh

Sama halnya dengan genetik, ras memiliki efek pada pertumbuhan jenggot dan kumis. Sebuah studi dalam International Journal Of Cosmetic Science menyimpulkan pria Tiongkok umumnya memiliki pertumbuhan rambut wajah lebih sedikit daripada pria Kaukasia. Pertumbuhan rambut wajah pada pria Tiongkok cenderung terkonsentrasi pada bagian sekitar mulut, sementara pria Kaukasia memiliki lebih banyak rambut di pipi, leher, dan dagu.

Dalam penelitian yang sama, diameter rambut manusia mungkin bervariasi, mulai dari 17 hingga 180 mikrometer. Hal inilah yang menyebabkan penampakan jenggot dan kumis yang terlihat lebih tebal dan penuh pada sebagian pria.

5. Alopecia areata

Alopecia areata merupakan salah satu jenis kebotakan yang bisa jadi penyebab jenggot dan kumis tidak tumbuh. Dikutip dari American Academy of Dermatology Association, alopecia areata adalah bentuk kerontokan dan kebotakan rambut yang tidak merata dan dapat berkembang di bagian tubuh mana pun, termasuk di sekitar jenggot dan kumis.

Anda mungkin berisiko besar untuk mengalami alopecia areata jika orang tua atau kerabat dekat memiliki kondisi yang sama. Sayangnya, tidak ada obat khusus untuk menangani alopecia areata. Dokter akan merekomendasikan beberapa pilihan pengobatan, seperti minoxidil atau krim kortikosteroid.

Bagaimana cara menumbuhkan jenggot dan kumis?

Jika kadar testosteron dalam tubuh Anda memang sangat rendah atau kurang, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk suntik hormon testosteron. Namun, suntik hormon testosteron tidak dapat menjamin jenggot dan kumis tumbuh, terlebih kalau secara genetik tidak memungkinkan. Jika tubuh Anda tidak peka terhadap testosteron, suntik hormon sebanyak apapun tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan rambut di wajah.

Anda juga perlu berhati-hati dalam menggunakan obat dan suplemen yang diklaim bisa menumbuhkan jenggot dan kumis. Pasalnya, hingga saat ini belum ada penelitian yang bisa membuktikan adanya obat penumbuh jenggot. Selain itu, obat-obatan tersebut bisa saja belum teruji klinis. Alhasil, Anda justru berpotensi mengalami efek samping, seperti luka atau bahkan kerusakan organ hati.

Sebenarnya, tidak ada perawatan atau obat khusus yang dapat direkomendasikan bagi pria yang tidak memiliki rambut wajah. Namun, jika Anda ingin melebatkan jenggot dan kumis sebaiknya perhatikan gaya hidup sehat seperti berikut ini.

  • Menjaga pola makan sehat dan bernutrisi seimbang. Makan makanan yang sehat dan seimbang membantu Anda mendapatkan nutrisi penting yang dapat membantu pertumbuhan rambut Anda.
  • Istirahat dan tidur cukup. Tidur memberikan waktu bagi tubuh untuk memperbaiki diri, termasuk dalam melepaskan hormon testosteron lebih baik. Cobalah untuk memperbaiki jam tidur Anda, misalnya dengan mengatur waktu makan dan hindari bermain ponsel sebelum tidur.
  • Berhenti merokok. Kebanyakan pria memiliki kebiasaan merokok yang bisa menyebabkan dampak negatif pada kesehatan kulit dan rambut.
  • Menjaga kesehatan kulit wajah. Kebersihan dan kelembapan kulit wajah, terutama di sekitar atas bibir dan dagu perlu Anda perhatikan. Maka, pria disarankan untuk mencuci wajah secara rutin untuk mengangkat sel kulit mati dan kotoran di sekitar folikel rambut.

Selalu konsultasikan terlebih dahulu ke dokter jika mengalami masalah pada pertumbuhan kumis dan jenggot Anda. Dokter akan melakukan diagnosis dan menentukan prosedur perawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda alami.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Oh, to Be Just Another Bearded Face. The New York Times. (2012). Retrieved 27 April 2017, from https://www.nytimes.com/2012/05/31/fashion/oh-to-be-just-another-bearded-face.html 

Why Can’t Some Men Grow Facial Hair?. Mental Floss. (2014). Retrieved 27 April 2017, from https://www.mentalfloss.com/article/54444/why-cant-some-men-grow-facial-hair 

Gardner, S. (2017). The Facts About Facial Hair and Shaving. WebMD. Retrieved 27 April 2017, from https://teens.webmd.com/boys/facial-hair-faq 

Yetman, D., & Sullivan, D. (2020). Why Can’t I Grow a Beard? 5 Reasons, Plus Beard Growth Strategies. Healthline. Retrieved 5 July 2021, from https://www.healthline.com/health/why-cant-i-grow-a-beard

Hair loss types: Alopecia areata overview. American Academy of Dermatology Association. Retrieved 5 July 2021, from https://www.aad.org/public/diseases/hair-loss/types/alopecia 

Maurer, M., Rietzler, M., Burghardt, R., & Siebenhaar, F. (2016). The male beard hair and facial skin – challenges for shaving. International Journal Of Cosmetic Science, 38, 3-9. https://doi.org/10.1111/ics.12328

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Irene Anindyaputri Diperbarui 23/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x