home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Minyak Belacak untuk Membesarkan Penis, Apakah Efektif?

Minyak Belacak untuk Membesarkan Penis, Apakah Efektif?

Berbagai penawaran menarik soal produk pembesar penis sering kita jumpai di pelosok dunia maya, mulai dari perangkat pemanjang penis, suplemen minum, sampai minyak pijat. Minyak belacak kini menjadi salah satu suplemen pembesar penis alternatif yang banyak dicari oleh kaum pria guna membuktikan kebenarannya.

Apa itu minyak belacak?

Minyak belacak adalah konsentrat minyak yang berasal dari ikan belacak — juga dikenal sebagai ikan tembakul atau gabus laut. Ikan belacak adalah jenis ikan amfibi yang hidup unik di lumpur sekitar muara perairan pasang surut.

Tak jelas bagaimana prosedur yang harus dilakukan demi mendapatkan produk akhir minyak belacak. Namun pada umumnya, produsen minyak ikan komersil haruslah terlebih dulu memanaskan ikan dalam alat pengukus khusus sebelum melalui proses pemisahan rumit untuk memisahkan minyak ikan murni dari protein dan komponen ikan lainnya. Minyak belacak umumnya dijual dalam bentuk botolan kecil, meski juga ada beberapa produsen yang menawarkan minyak bulus dalam bentuk suplemen kapsul.

Apa saja manfaat minyak belacak?

Minyak belacak memiliki berbagai klaim manfaat kesehatan, sebagian besar terkait dengan vitalitas seksual. Manfaat minyak belacak yang paling populer di Indonesia adalah khasiatnya untuk memperbesar alat vital laki-laki, meningkatkan gairah seks, serta mengatasi ejakulasi dini dan/atau impotensi.

Apa kata dunia medis soal manfaat ikan belacak untuk vitalitas seks pria?

Sampai saat ini informasi medis yang menguak soal kandungan gizi dari ikan ini masih sangat terbatas. Pengiklan menawarkan berbagai jenis pil dan suplemen pembesar penis dengan menampilkan iklan yang tampak canggih mengutip berbagai studi “ilmiah” dari penelitian mancanegara. Tapi sebenarnya, sangat sedikit bukti ilmiah nyata yang dapat mendukung klaim-klaim menggiurkan tersebut. Belum lagi aksesnya yang sangat terbatas.

Para dokter dan ahli kesehatan mewanti-wanti masyarakat untuk lebih bijak dan berpikir seribu kali tentang suplemen perangsang seksual yang ramai beredar di pasaran. Ada satu hal yang luput diumbar oleh para produsen obat kuat nonresep ini. Banyak produsen nakal yang tidak mencantumkan daftar lengkap bahan yang digunakan dan/atau membuktikan keamanan atau efektivitas produk mereka.

Padahal, untuk bisa beredar di Indonesia, suplemen makanan dan obat-obatan herbal harus mendapatkan persetujuan resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) guna dibuktikan keefektivitasan dan keamanannya. Ini membuat penggunaan obat-obatan tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Tidak ada satupun obat herbal dapat seefektif VIAGRA® (sildenafil citrate) dan obat farmasi resep lainnya yang setara untuk mengembalikan ereksi, kata Steven Lamm, MD, asisten profesor kedokteran di New York University sekaligus penulis The Hardness Factor, dilansir dari WebMD.

Ketakutan bahwa penis Anda terlihat terlalu kecil atau terlalu kecil untuk bisa memuaskan pasangan Anda saat berhubungan seks adalah kekhawatiran umum. Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa kebanyakan pria yang berpikir penis mereka terlalu kecil sebenarnya memiliki penis berukuran normal. Kebanyakan pria memiliki gambaran berlebihan dari ukuran besar penis “normal”.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

How Is Fish Oil Produced? http://www.livestrong.com/article/402640-how-is-fish-oil-produced/ accessed Feb 2 2017

The Truth About Penis Enlargement: What Works And What Doesn’t http://www.medicaldaily.com/truth-about-penis-enlargement-what-works-and-what-doesnt-349488 accessed Feb 2 2017

Male Enhancement: Is It Worth a Try? http://www.webmd.com/men/features/male-enhancement-is-it-worth-try#1 accessed Dec 23 2014 accessed Feb 2 2017

Tembakul https://id.wikipedia.org/wiki/Tembakul accessed Feb 2 2017

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ajeng Quamila Diperbarui 30/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Satya Setiadi