Setiap tahunnya tercatat sekitar 845.000 kasus TB dengan 98.000 kematian, yang berarti ada 11 kematian akibat TB setiap jamnya di Indonesia. Berdasarkan laporan Global TB, angka tersebut adalah 2/3 dari keseluruhan kasus TB global dan membuat Indonesia berada di urutan kedua sebagai negara dengan kasus TB terbanyak.
Karena itu pekerjaan rumah Indonesia sangat berat untuk menyukseskan komitmen global yang menargetkan berhasil eliminasi TB 2035 dan bebas TB 2050. Tapi pandemi COVID-19 melemahkan upaya-upaya ini.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Siti Nadia Tarmizi, M. Epi mengungkapkan kendala yang dialami tim penanganan tuberkulosis selama pandemi COVID-19 setahun terakhir.
Pertama, melemahnya pelacakan kasus. Selama periode 2018-2019 temuan kasus TB sudah mencapai 64% yang bisa dilaporkan, sedangkan di periode 2020 hanya 30% kasus yang berhasil temukan. Padahal angka minimal untuk terjadi penurunan kasus TB itu tidak boleh kurang dari 80% penemuan kasus setiap tahunnya.
“Ini menjadi alarm kita untuk bekerja lebih keras di 2021 karena PR 70% yang tidak ditemukan ini bisa menjadi bom waktu dalam beberapa tahun ke depan. Akan ada tambahan kasus TB baru yang merupakan cashback dari tidak ditemukannya kasus di masa sekarang,” ujar Siti.
Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan gangguan pandemi COVID-19 diperkirakan dapat membuat indikator kemajuan program TB dunia mundur ke situasi seperti di tahun 2013-2016. Perkiraan ini mengacu pada studi pemodelan yang dilakukan Stop TB partnership, Imperial College, Avenir Health, Johns Hopkins University, dan USAID.