home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Upaya Eliminasi Tuberkulosis Selama Pandemi COVID-19 dengan Aplikasi Kesehatan

Upaya Eliminasi Tuberkulosis Selama Pandemi COVID-19 dengan Aplikasi Kesehatan

Hantaman pandemi COVID-19 turut berakibat pada upaya eliminasi tuberkulosis (TB)yang ditargetkan berhasil di tahun 2030. Selama tahun 2020, penemuan kasus tuberkulosis menurun drastis dengan hanya 30% kasus yang bisa dilaporkan. Selain itu angka keberhasilan pengobatan pasien TB juga menurun drastis karena akses ke pelayanan kesehatan terganggu.

Upaya eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia terhambat pandemi COVID-19

Upaya Eliminasi TB Selama Pandemi COVID-19 dan Pendekatan Aplikasi Digital Kesehatan

Setiap tahunnya tercatat sekitar 845.000 kasus TB dengan 98.000 kematian, yang berarti ada 11 kematian akibat TB setiap jamnya di Indonesia. Berdasarkan laporan Global TB, angka tersebut adalah 2/3 dari keseluruhan kasus TB global dan membuat Indonesia berada di urutan kedua sebagai negara dengan kasus TB terbanyak.

Karena itu pekerjaan rumah Indonesia sangat berat untuk menyukseskan komitmen global yang menargetkan berhasil eliminasi TB 2035 dan bebas TB 2050. Tapi pandemi COVID-19 melemahkan upaya-upaya ini.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Siti Nadia Tarmizi, M. Epi mengungkapkan kendala yang dialami tim penanganan tuberkulosis selama pandemi COVID-19 setahun terakhir.

Pertama, melemahnya pelacakan kasus. Selama periode 2018-2019 temuan kasus TB sudah mencapai 64% yang bisa dilaporkan, sedangkan di periode 2020 hanya 30% kasus yang berhasil temukan. Padahal angka minimal untuk terjadi penurunan kasus TB itu tidak boleh kurang dari 80% penemuan kasus setiap tahunnya.

“Ini menjadi alarm kita untuk bekerja lebih keras di 2021 karena PR 70% yang tidak ditemukan ini bisa menjadi bom waktu dalam beberapa tahun ke depan. Akan ada tambahan kasus TB baru yang merupakan cashback dari tidak ditemukannya kasus di masa sekarang,” ujar Siti.

Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan gangguan pandemi COVID-19 diperkirakan dapat membuat indikator kemajuan program TB dunia mundur ke situasi seperti di tahun 2013-2016. Perkiraan ini mengacu pada studi pemodelan yang dilakukan Stop TB partnership, Imperial College, Avenir Health, Johns Hopkins University, dan USAID.

Pendekatan aplikasi digital kesehatan untuk membantu penanganan TB

Upaya Eliminasi Tuberkulosis Selama Pandemi dan Pendekatan Aplikasi Digital Kesehatan

Selain penelusuran kasus, masalah yang dihadapi penanganan TB semasa pandemi COVID-19 adalah terputusnya pengawasan pengobatan, pasien TB berhenti minum obat, dan terhambatnya manajemen efek samping.

Penerapan pembatasan mobilitas berdampak pada menurunnya pemantauan pengobatan pasien TB, terutama pasien TB Resistan Obat. Perlu diketahui, tuberkulosis adalah penyakit yang memerlukan ketekunan dalam meminum obat. Biasanya pengidap TB diharuskan mengonsumsi obat TB selama 6-12 bulan. Karena itu kader TB biasanya bertugas melakukan pendampingan dan pengawasan pasien TB agar ia menyelesaikan pengobatannya sampai tuntas. Namun, kondisi pandemi memutus upaya pengawasan pada pasien-pasien TB yang sedang menjalani pengobatan.

Putus pengobatan bagi pasien TB bisa membuatnya resistan terhadap pengobatan (TB RO), memperparah gejala dan mempersulit pengobatannya. Siti mengungkapkan, di Indonesia diperkirakan sudah ada 24.000 orang yang sudah dikategorikan sebagai pasien resistan obat.

Kondisi ini mendorong perlunya pemanfaatan teknologi digital dan telemedicine dalam mendukung layanan kesehatan bagi masyarakat di situasi pandemi karena mampu meminimalisir kontak fisik dalam memberikan layanan dan menjangkau setiap wilayah.

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) merespons hal ini dengan mengembangkan dua produk digital dalam mendukung layanan TB yakni SOBAT TB dan EMPATI Client.

SOBAT TB adalah aplikasi yang berisi seputar informasi TB dan penilaian mandiri untuk skrining TB. Sedangkan EMPATI Client adalah aplikasi yang menyambungkan petugas fasilitas kesehatan dan pasien TB untuk pemantauan minum obat dan pemantauan terjadinya efek samping pasien TB RO secara virtual.

Keduanya dikembangkan dalam rangka berkontribusi terhadap capaian program penanggulangan TB termasuk menjawab masalah yang dihadapi selama masa pandemi COVID-19.

“Pemanfaatan teknologi digital yang dilakukan oleh YKI merupakan salah satu cara organisasi non-Pemerintah dapat berkontribusi secara inovatif untuk program kesehatan di Indonesia terlebih di tengah situasi pandemi COVID-19. Pengembangan kedua aplikasi ini merupakan wujud konkret yang dapat dilakukan dalam mencapai target Eliminasi Tuberkulosis (TBC) di tahun 2030,” ujar dr. Jhon Sugiharto, Direktur Eksekutif Yayasan KNCV Indonesia.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Pernyataan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Siti Nadia Tarmizi, M. Epi dalam peringatan hari TB yang diselenggarakan KNCV Indonesia. 24 Maret 2021.
  • WHO. Global TB Report 2020. Retrieved 5 April 2021 from: https://www.who.int/publications/i/item/9789240013131
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui seminggu yang lalu
x