Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Napas Sering Terasa Berat? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Napas Sering Terasa Berat? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Seseorang biasanya akan bernapas lebih berat setelah melakukan aktivitas, seperti olahraga atau naik-turun tangga. Namun tak jarang, napas yang terasa berat mungkin menjadi pertanda dari masalah kesehatan yang perlu Anda waspadai. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

    Penyebab napas terasa berat

    Bernapas lebih berat merupakan respons tubuh ketika membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak.

    Kondisi ini bisa datang secara tiba-tiba maupun secara bertahap. Anda mungkin akan merasa cemas, terlebih bila tidak mengetahui pasti alasan kenapa napas terasa berat.

    Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui sejumlah kondisi umum yang menjadi penyebabnya berikut.

    1. Reaksi alergi

    cara mencegah alergi

    Alergi merupakan reaksi berlebihan dari sistsm imun saat tubuh dimasuki zat asing yang memicu alergi (alergen). Zat-zat ini dapat berupa serbuk sari, debu, maupun bulu hewan peliharaan.

    Paparan alergen bisa membuat saluran pernapasan menjadi bengkak. Itulah sebabnya, pengidapnya rentan mengalami napas berat saat reaksi alergi muncul.

    2. Asma

    Serangan asma bisa menjadi alasan kenapa napas Anda terasa lebih berat. Hal ini juga dapat memicu gejala lain, seperti batuk, mengi, rasa sesak pada dada, dan panik.

    Asma biasanya berkembang pada masa kanak-kanak. Aktivitas olahraga, stres, polusi udara, dan alergen mungkin bisa menjadi faktor pemicu serangan asma.

    3. Anemia

    Penyakit anemia ditandai dengan kurangnya jumlah sel darah merah dalam tubuh. Sel darah merah berperan penting dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

    Selain napas yang terasa berat, kondisi ini juga ditandai dengan pusing, sakit kepala, mudah lelah, kulit pucat, hingga kuku jari kaki dan tangan yang rapuh.

    4. Obesitas

    diagnosis obesitas penunjang pada anak

    Orang dengan obesitas lebih sering mengeluhkan napas yang terasa berat. Anda dikatakan mengalami obesitas jika memiliki indeks massa tubuh (IMT) sebesar 30 atau lebih.

    Kelebihan berat badan memberikan lebih banyak tekanan pada paru-paru. Pada akhirnya, obesitas membuat paru-paru harus bekerja ekstra keras untuk bernapas.

    5. Infeksi saluran pernapasan

    Napas yang berat juga menjadi salah satu gejala umum dari infeksi saluran pernapasan. Hal ini terjadi saat saluran napas terinfeksi virus atau bakteri penyebab penyakit.

    Infeksi mulai dari batuk pilek, flu, bronkitis, pneumonia, dan TBC dapat terjadi pada siapa pun.

    Akan tetapi, risikonya lebih tinggi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, memiliki gangguan paru-paru, dan merokok.

    6. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

    Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK terjadi saat saluran udara pada paru-paru tersumbat. Kondisi ini membuat pengidapnya sulit bernapas dan makin memburuk seiring waktu.

    Kerusakan paru-paru akibat PPOK sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Paparan polusi udara dalam jangka panjang juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan ini.

    7. Penyakit kardiovaskular

    Selain masalah sistem pernapasan, penyakit kardiovaskular juga merupakan salah satu penyebab utama napas terasa berat. Kondisi ini bisa terjadi tiba-tiba maupun secara bertahap.

    Orang dengan riwayat penyakit jantung juga berisiko mengalami kesulitan dalam bernapas. Hal ini bisa disebabkan oleh gagal jantung, yaitu kondisi otot jantung tidak bisa memompa darah dengan baik.

    8. Gangguan kecemasan

    Otot-otot tubuh, termasuk pada saluran napas, cenderung lebih tegang saat Anda mengalami gangguan kecemasan. Kondisi ini juga menyebabkan pernapasan yang lebih cepat dari biasanya.

    Pernapasan yang cepat dan berat terkadang memicu rasa panik. Timbulnya nyeri dada juga sering disalahartikan sebagai tanda-tanda serangan jantung.

    Cara mengatasi napas terasa berat

    obat sesak napas inhaler

    Pengobatan untuk napas yang terasa berat tergantung pada penyebabnya. Pemberian terapi oksigen bisa dilakukan karena biasanya gejala ini terjadi akibat pasokan oksigen yang berkurang.

    Penggunaan obat sesak napas, termasuk bronkodilator dan kortikosteroid pada pengidap asma, juga akan membantu dalam mengurangi peradangan dan melegakan saluran pernapasan.

    Apabila Anda didiagnosis mengidap alergi, pilihan obat yang umum digunakan yakni antihistamin dan dekongestan. Keduanya dapat mengatasi peradangan dan hidung tersumbat yang membuat napas terasa berat.

    Pengidap anemia, gangguan kecemasan, infeksi, gangguan paru-paru, dan jantung disarankan melakukan konsultasi dengan dokter untuk menentukan jenis perawatan yang tepat.

    Dokter juga menyarankan perubahan gaya hidup, termasuk mengonsumsi makanan sehat, tidur cukup, dan olahraga rutin untuk menjaga berat badan yang ideal.

    Selain itu, Anda juga bisa melakukan latihan pernapasan, meditasi, atau yoga untuk membantu mengendalikan stres dan mengurangi gejala kecemasan.

    Kapan harus periksa ke dokter?

    Segera hubungi ambulans atau kunjungi IGD rumah sakit bila gejala datang tiba-tiba dan disertai dengan nyeri dada yang menyebar, mual, hingga pingsan. Konsultasikan dengan dokter bila:
    • gejala berlangsung lebih dari sebulan dan/atau makin parah,
    • gejala memburuk saat berbaring,
    • batuk selama tiga minggu atau lebih,
    • demam tinggi, atau
    • kaki dan pergelangan kaki bengkak.


    Lawan COVID-19 bersama!

    Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Shortness of breath. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 1 August 2022, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/shortness-of-breath/basics/definition/sym-20050890

    Shortness of breath. NHS UK. (2020). Retrieved 1 August 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/shortness-of-breath/

    Respiratory tract infections (RTIs). NHS UK. (2021). Retrieved 1 August 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/respiratory-tract-infection/

    Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). American Academy of Family Physicians. (2019). Retrieved 1 August 2022, from https://familydoctor.org/condition/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd/

    Allergies Symptoms, Diagnosis, Treatment & Management. American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. (2022). Retrieved 1 August 2022, from https://www.aaaai.org/Conditions-Treatments/Allergies/Allergies-Overview

    What is Cardiovascular Disease?. American Heart Association. (2017). Retrieved 1 August 2022, from https://www.heart.org/en/health-topics/consumer-healthcare/what-is-cardiovascular-disease

    What Is Asthma?. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). Retrieved 1 August 2022, from https://www.nhlbi.nih.gov/health/asthma

    What Is Anemia?. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). Retrieved 1 August 2022, from https://www.nhlbi.nih.gov/health/anemia

    What Are Overweight and Obesity?. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). Retrieved 1 August 2022, from https://www.nhlbi.nih.gov/health/overweight-and-obesity

    Anxiety Disorders. National Institute of Mental Health. (2022). Retrieved 1 August 2022, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/anxiety-disorders

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Aug 15
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
    Next article: