Apa Itu Tetanus?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu tetanus?

Tetanus atau lockjaw adalah salah satu penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri berbahaya. Bakteri tersebut bernama Clostridium tetani. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf.

Seseorang dapat terinfeksi bakteri C. tetani melalui luka terbuka, dan gejala biasanya akan muncul sekitar 3-21 hari setelah terinfeksi. Penyakit ini umumnya tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain.

Penderita penyakit ini akan menunjukkan tanda-tanda seperti kejang otot hingga kesulitan bernapas. Hal ini menyebabkan penyakit ini sangat mematikan dan dapat mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani lebih lanjut.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat atau penanganan medis yang dapat menyembuhkan tetanus. Pengobatan yang ada berfokus pada pencegahan komplikasi.

Seberapa umumkah tetanus?

Tetanus adalah penyakit yang cukup langka. Namun, angka kejadiannya di negara-negara berkembang masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kurang tersedianya program vaksinasi di negara-negara tersebut.

Bakteri C. tetani sangat mudah berkembang biak di daerah beriklim hangat, terutama di bulan-bulan musim panas. Namun, berkat ditemukannya vaksinasi, angka kejadian penyakit ini mengalami penurunan yang signifikan.

Pada tahun 2015, sekitar 34.000 bayi yang baru lahir meninggal akibat penyakit ini. Angka ini menurun sebanyak 96% apabila dibandingkan dengan tahun 1988, di mana terdapat 787.000 kematian pada bayi baru lahir.

Insiden penyakit ini cukup banyak terjadi pada bayi baru lahir dan ibu yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi sebelumnya. Namun, angka kejadian pada orang-orang berusia lanjut pun relatif tinggi apabila dibandingkan dengan pasien berusia 20 tahun ke bawah.

Tetanus adalah penyakit yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dokter.

Jenis

Apa saja jenis-jenis dari tetanus?

Tetanus adalah penyakit yang dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing jenisnya:

1. Tetanus umum

Jenis ini adalah termasuk yang paling umum terjadi, dengan angka kejadian sekitar 85-90% dari seluruh kasus infeksi C. tetani yang ada. Baik luka kecil maupun luka berat dapat memicu terjadinya penyakit ini.

Periode inkubasi atau waktu yang dibutuhkan untuk munculnya gejala-gejala adalah 7-21 hari setelah terinfeksi pertama kali. Hal ini tergantung pada seberapa jauh lokasi luka dengan sistem saraf pusat.

Gejala yang paling umum terlihat pada jenis ini adalah rasa kaku pada rahang (lockjaw). Sekitar 75% penderita merasakan gejala tersebut.

2. Tetanus lokal

Infeksi jenis lokal cukup jarang terjadi. Tanda-tanda dan gejala yang muncul biasanya berupa kejang otot pada bagian tubuh yang terluka.

Tingkat keparahannya pada masing-masing penderita umumnya bervariasi. Selain itu, kesempatan untuk bertahan hidup dari infeksi jenis lokal relatif besar.

3. Tetanus sefalik

Tetanus jenis ini merupakan yang paling jarang ditemukan. Biasanya, kondisi ini terjadi setelah seseorang mengalami cedera kepala atau infeksi telinga bagian tengah (otitis media).

Masa inkubasi dari jenis sefalik relatif singkat, yaitu hanya memakan waktu sekitar 1-2 hari.

4. Tetanus neonatal

Jenis ini merupakan bagian dari tetanus umum. Infeksi neonatal lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang dan menyebabkan hampir setengah dari seluruh kasus kematian bayi baru lahir.

Penyebab utamanya adalah proses bersalin yang kurang bersih, serta terlahir dari ibu yang belum pernah menerima imunisasi. Proses inkubasi tetanus neonatal terjadi selama kurang lebih 3-10 hari. Kemungkinan penyakit ini berujung pada kematian cukup besar, yaitu sekitar 70%.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala tetanus?

Tanda-tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh penderita penyakit ini bervariasi. Namun, salah satu gejala yang paling umum dari tetanus adalah kejang otot dan kaku pada rahang.

Beberapa kasus yang dilaporkan menunjukkan pula gejala-gejala seperti sakit tenggorokan, kesulitan menelan (disfagia), leher kaku, serta rasa lemah pada salah satu sisi tubuh.

Gejala lain yang umum ditemukan adalah kaku otot. Kondisi kaku otot ini biasanya menyebar dari rahang dan wajah hingga ke bagian tubuh lain. Proses penyebaran memakan waktu 24 hingga 48 jam. Beberapa orang dengan kaku otot yang hebat merasakan nyeri pada seluruh bagian tubuh.

Selain itu, kejang otot juga umum ditemukan pada pasien penyakit ini. Kejang biasanya dapat dipicu oleh hal-hal kecil, seperti suara, sentuhan, bahkan cahaya. Kejang dapat berlangsung selama beberapa detik atau menit, dan intensitasnya semakin bertambah seiring dengan perkembangan penyakit.

Kejang yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan gangguan tidur (sleep apnea), dislokasi, dan rhabdomyolisis. Kejang juga dapat terjadi di saluran pernapasan dan menyebabkan terjadinya pengurangan pasokan oksigen ke dalam tubuh (asfiksia).

1. Tetanus umum

Gejala-gejala yang biasanya muncul pada penderita kondisi jenis ini adalah kesulitan membuka mulut (trismus). Hal ini berkaitan dengan gejala kaku pada rahang atau lockjaw.

Selain itu tanda-tanda lain yang muncul adalah:

  • Kelelahan di sekujur tubuh
  • Berkeringat dingin
  • Kesulitan menelan
  • Sensitif, bahkan takut akan air (hidrofobia)
  • Produksi air liur berlebihan
  • Kejang otot bagian punggung
  • Sering merasa ingin buang air kecil (retensi urin)
  • Suhu tubuh meningkat (hipertermia)
  • Detak jantung tidak beraturan (aritmia)
  • Nyeri di hampir seluruh bagian tubuh

2. Tetanus lokal

Pada jenis lokal, penderita akan menunjukkan tanda-tanda dan gejala sebagai berikut:

  • Demam tinggi
  • Luka mengeluarkan nanah
  • Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh
  • Peningkatan kadar neutrofil, salah satu jenis sel darah putih
  • Kejang otot
  • Kesemutan
  • Kejang otot yang terasa lebih sakit dan berlangsung selama beberapa minggu

3. Tetanus sefalik

Infeksi jenis sefalik sedikit berbeda dengan jenis lainnya karena gejala utama yang ditunjukkan adalah kelumpuhan pada sistem saraf kranial. Hal ini menyebabkan penderita mengalami gejala-gejala sebagai berikut:

  • Sakit kepala
  • Penglihatan terganggu
  • Kejang otot
  • Rasa sakit di sekitar mata

4. Tetanus neonatal

Bayi baru lahir yang menderita kondisi ini akan menunjukkan tanda-tanda dan gejala sebagai berikut:

  • Kesulitan menyusui 3-10 hari setelah lahir
  • Lebih sering menangis
  • Sering menunjukkan ekspresi mengernyit atau meringis
  • Kaku pada seluruh bagian tubuh
  • Tubuh kaku dan melengkung ke belakang (opistotonus)

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Ketika Anda terluka dan luka tersebut terkena tanah atau kotoran binatang, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk tindakan pencegahan, ada baiknya Anda meminta vaksinasi tetanus secepatnya.

Apabila Anda mengalami tanda-tanda dan gejala di atas, atau Anda memiliki pertanyaan lain seputar penyakit ini, selalu konsultasikan dengan dokter Anda.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Agar Anda mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan, periksakan apapun gejala yang Anda alami ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab tetanus?

Penyebab utama dari tetanus adalah infeksi bakteri Clostridium tetani. Spora dari bakteri tersebut dapat berkembang biak hampir di mana saja, terutama di tanah, debu, dan kotoran binatang.

Apabila seseorang memiliki luka terbuka, spora bakteri berpotensi masuk ke dalam luka tersebut. Setelah masuk, spora tersebut dapat berkembang menjadi bakteri yang memproduksi racun berbahaya, yaitu tetanospasmin.

Racun tersebut dapat merusak sistem saraf yang mengontrol otot (neuron motorik). Racun inilah yang mengakibatkan terjadinya kekakuan dan kejang otot.

Spora bakteri C. tetani dapat masuk ke dalam tubuh melalui beberapa kondisi yang meliputi:

  • Luka terbuka yang terkontaminasi oleh debu, kotoran (feses), atau air liur
  • Luka terbuka yang disebabkan oleh objek tertentu, seperti paku atau jarum
  • Luka bakar
  • Cedera akibat terhimpit beban yang berat (crush injury)
  • Luka dengan jaringan-jaringan mati di sekitarnya
  • Prosedur operasi
  • Gigitan serangga
  • Infeksi gigi serta penanganannya yang kurang steril
  • Infeksi atau luka yang kronis
  • Infus yang kurang steril

Masa inkubasi dari penyakit ini biasanya memakan waktu 3 hingga 21 hari. Rata-rata waktu yang diperlukan hingga gejala pertama kali muncul adalah 10-14 hari. Hal ini tergantung pada jenis dan lokasi luka di tubuh Anda.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko saya untuk terkena tetanus?

Tetanus adalah penyakit yang dapat terjadi pada hampir semua orang, tidak terbatas pada kelompok usia atau golongan ras tertentu. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terjangkit bakteri C. tetani.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau kondisi kesehatan. Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat terkena penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan Anda terkena penyakit ini:

1. Usia

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, infeksi bakteri C. tetani lebih banyak ditemukan pada orang dewasa. Pada tahun 2009-2017, sekitar 60% dari 264 kasus tetanus yang dilaporkan terjadi pada pasien berusia 20-64 tahun.

Selain itu, risiko kematian akibat penyakit ini jauh lebih tinggi pada orang-orang berusia lanjut. Namun, angka kejadian penyakit ini juga banyak ditemukan pada bayi baru lahir dan ibu yang melahirkan.

2. Tinggal atau bepergian ke negara beriklim hangat dan kurang bersih

Penyakit ini lebih mudah berkembang di tempat-tempat bersuhu hangat, serta didukung dengan lingkungan yang tidak bersih. Karena itulah, angka kejadian penyakit ini lebih banyak ditemukan di negara-negara berkembang.

3. Tidak mendapatkan vaksinasi yang cukup

Salah satu faktor risiko utama dari penyakit ini adalah tidak melakukan imunisasi atau vaksinasi tetanus. Hal ini umumnya tidak terlepas dari faktor tinggal di negara berkembang dengan sosialisasi program imunisasi yang rendah.

Selain itu, seseorang yang pernah menerima suntik vaksinasi, tetapi tidak melanjutkan program vaksinasi hingga selesai, lebih berisiko terserang infeksi bakteri C. tetani dibanding dengan orang yang menjalani program vaksinasi secara lengkap.

4. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk

Beberapa orang terlahir dengan sistem kekebalan atau imunitas tubuh yang tidak sempurna, sehingga tubuhnya lebih rentan terserang infeksi bakteri, virus, ataupun jamur. Kondisi ini memperbesar peluang seseorang untuk terkena infeksi bakteri C. tetani.

5. Memiliki luka yang tidak dibersihkan

Luka yang tidak segera dibersihkan dapat mengakibatkan spora bakteri C. tetani masuk ke dalam tubuh Anda, terlebih lagi jika luka tersebut disebabkan oleh benda asing, seperti paku atau jarum.

Risiko Anda untuk terkena penyakit ini cukup tinggi apabila Anda tidak segera membersihkan luka tersebut.

6. Proses bersalin yang kurang higienis

Di beberapa tempat, terutama daerah-daerah dengan fasilitas kesehatan yang kurang memadai, proses bersalin dapat meningkatkan risiko ibu dan bayi terserang infeksi tetanus. Risiko tersebut akan semakin tinggi apabila ibu tidak pernah menerima  suntik vaksin sebelumnya.

7. Mempunyai luka di tubuh yang bersifat kronis

Faktor risiko lain dari penyakit ini adalah menderita luka terbuka yang bersifat kronis atau jangka panjang, seperti luka pada penderita diabetes. Hal ini juga menyebabkan penderita diabetes memiliki peluang lebih besar untuk terserang infeksi bakteri C. tetani.

8. Menjalani prosedur pembuatan tato

Pembuatan tato, terutama dengan prosedur yang kurang steril, juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena tetanus.

9. Proses penanganan mulut dan gigi yang kurang tepat

Beberapa kasus penyakit ini dikaitkan dengan prosedur penanganan mulut dan gigi, seperti pencabutan gigi serta pengobatan pada akar gigi.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh tetanus?

Tetanus yang tidak segera mendapatkan penanganan medis dapat mengakibatkan terjadinya beberapa komplikasi kesehatan:

1. Gangguan pernapasan

Kejang otot yang parah juga dapat memengaruhi otot saluran pernapasan bagian atas. Hal ini berpotensi mengganggu pernapasan penderita.

2. Retak atau patah tulang

Selain terganggunya pernapasan, kejang otot yang terjadi dalam jangka waktu lama berpotensi menyebabkan tulang retak atau patah.

3. Infeksi nosokomial

Infeksi nosokomial adalah salah satu bentuk infeksi yang terjadi ketika seseorang dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Infeksi yang mungkin terjadi adalah ulkus dekubitus (salah satu jenis luka kronis), pneumonia, emboli paru, dan infeksi akibat pemasangan alat-alat medis yang kurang steril.

4. Kematian

Kondisi gangguan pernapasan adalah penyebab utama dari tetanus yang berujung pada kematian. Sistem pernapasan yang gagal berfungsi dengan normal menyebabkan terjadinya kondisi henti jantung (cardiac arrest).

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis tetanus?

Dokter akan mendiagnosis tetanus dari pemeriksaan medis, terutama pemeriksaan pada otot dan sistem saraf Anda. Salah satu metode yang dilakukan adalah pengambilan sampel dari luka yang Anda miliki.

Sampel tersebut akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat bakteri di dalamnya. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah.

Apa saja pilihan pengobatan untuk mengatasi tetanus?

Pertolongan pertama yang dilakukan ketika Anda terluka adalah membersihkan area luka. Hal ini penting untuk mencegah pertumbuhan spora bakteri di dalam tubuh.

Namun, jika Anda tidak menyadari bahwa tubuh Anda telah terinfeksi dan Anda mulai menunjukkan gejala-gejala tertentu, dokter akan memberikan pengobatan yang berfokus pada detoksifikasi serta penanganan kejang otot. Beberapa pilihan pengobatan yang direkomendasikan adalah:

1. Antitoksin

Dokter akan memberikan Anda obat antitoksin yang bernama tetanus immune globulin (TIG). Namun, obat TIG hanya dapat menetralkan racun yang belum menyerang sistem saraf tubuh.

2. Antibiotik

Selain antitoksin, pemberian antibiotik seperti penicillin juga penting untuk melawan infeksi bakteri C. tetani. Antibiotik dapat diberikan dengan cara diminum atau disuntik.

3. Vaksinasi

Bersamaan dengan pemberian antitoksin dan antibiotik, dokter akan memberikan vaksinasi tetanus.

4. Sedatif

Untuk mengontrol dan meredakan kondisi kejang otot, dokter akan menggunakan obat sedatif atau penenang dengan dosis yang cukup tinggi.

5. Obat-obatan lainnya

Obat-obatan seperti magnesium sulfat dan beta blockers juga dapat digunakan untuk mengatasi masalah pernapasan dan detak jantung.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tetanus?

Hal terpenting yang harus Anda lakukan untuk mencegah penyakit ini adalah vaksinasi. Biasanya, anak akan diberikan suntik vaksin diphtheria and tetanus toxoids and acellular pertussis (DTaP). Vaksin ini membantu melindungi anak dari tiga penyakit, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus.

Vaksin DTaP diberikan sebanyak lima kali, yaitu ketika anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan,18 bulan, dan 5 tahun. Namun, perlu Anda ketahui bahwa vaksin tersebut tidak bertahan seumur hidup.

Anak perlu mendapatkan suntikan booster ketika berusia 12 tahun. Selain itu, orang dewasa juga memerlukan vaksinasi booster setiap 10 tahun setelahnya. Anda perlu berkonsultasi dengan dokter terkait dengan pemberian booster tersebut.

Tidak hanya memberikan vaksinasi saja, Anda juga dapat melakukan beberapa langkah mudah untuk mengatasi luka terbuka agar tetanus dapat dicegah:

1. Membersihkan luka sesegera mungkin

Apabila Anda terluka dan terjadi pendarahan, segera bersihkan dengan air mengalir yang bersih. Setelah itu, keringkan dengan handuk. Bila perlu, gunakan sabun antiseptik saat membersihkan luka.

2. Menggunakan krim antibiotik

Setelah mengeringkan area yang terluka, oleskan sedikit krim atau salep antibiotik. Hal ini penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri serta infeksi.

3. Menutup luka

Luka terbuka mungkin akan lebih cepat sembuh jika terpapar langsung dengan udara. Namun, menutup luka dengan plester atau perban dapat menjaga agar luka tetap bersih dan mencegah bakteri masuk.

4. Mengganti plester atau perban setiap hari

Jangan menggunakan plester atau perban terlalu lama, terlebih lagi jika plester sudah basah atau kotor. Pastikan Anda menggantinya setiap hari.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 28, 2019

Sumber