Apa Itu Malaria?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Definisi

Apa itu malaria?

Malaria adalah salah satu jenis penyakit serius dan berbahaya yang disebabkan oleh infeksi parasit. Umumnya, parasit tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama oleh nyamuk Anopheles. Salah satu jenis parasit yang paling umum menyebabkan penyakit ini adalah Plasmodium falciparum.

Apabila nyamuk Anopheles terinfeksi oleh Plasmodium dan menggigit Anda, parasit tersebut dapat ditularkan dan dilepaskan ke dalam aliran darah Anda. Parasit akan berkembang di dalam hati, dan dalam beberapa hari akan mulai menyerang sel darah merah Anda.

Ketika Anda mulai terinfeksi, tanda-tanda dan gejala penyakit ini akan mulai tampak setelah 10 hari hingga 4 minggu. Namun, terkadang gejala juga dapat muncul 7 hari setelah Anda terinfeksi. Gejala yang paling umum meliputi demam, sakit kepala, dan muntah.

Apabila tidak segera ditangani, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi seperti anemia dan gula darah rendah (hipoglikemia). Pada kasus yang lebih serius, penderita dapat mengalami malaria serebral, di mana pembuluh darah menuju otak tersumbat dan berisiko mengakibatkan kematian.

Seberapa umumkah malaria terjadi?

Malaria adalah penyakit yang lebih umum ditemukan di negara beriklim tropis dan subtropis. Berdasarkan data dari World Health Foundation, diperkirakan terdapat 219 juta kasus yang terjadi di 87 negara pada tahun 2017.

Pada tahun yang sama, angka kematian akibat penyakit ini pun cukup tinggi, yakni sekitar 435.000 jiwa. Daerah dengan kasus kejadian terbanyak adalah negara-negara di Afrika, Asia Tenggara, Mediterania Timur, dan Pasifik Barat.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, ada sekitar 10,7 juta penduduk Indonesia yang tinggal di daerah rentan terhadap malaria, seperti Papua, Papua Barat, dan NTT. Namun, angka ini terus mengalami penurunan seiring dengan berjalannya program Indonesia bebas malaria pada tahun 2030.

Anak-anak di bawah 5 tahun adalah kelompok usia yang paling rentan terkena penyakit ini. Pada tahun 2017, sebanyak 61% (266.000) dari seluruh kasus kematian akibat penyakit ini adalah anak-anak.

Meskipun malaria adalah penyakit yang cukup fatal, Anda dapat mengatasinya dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Jenis

Apa saja jenis-jenis dari malaria?

Secara garis besar, malaria dapat dibagi menjadi 2, yaitu malaria biasa dan berat. Malaria berat biasanya merupakan komplikasi dari jenis yang biasa. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai masing-masing jenis penyakit ini:

1. Malaria biasa

Kondisi ini biasanya tidak menyebabkan komplikasi yang parah dan hanya menimbulkan gejala-gejala utama karena tidak ada organ vital yang terdampak.

Gejala-gejala yang muncul umumnya bertahan selama 6-10 jam, kemudian akan berulang setiap 2 hari sekali.

Berikut adalah 5 jenis parasit Plasmodium yang mengakibatkan kondisi ini:

  • Plasmodium falciparum

Infeksi oleh parasit P. falciparum merupakan yang paling berbahaya. Diperkirakan sebanyak hampir 98% kasus penyakit ini merupakan infeksi dari parasit jenis ini.

Apabila infeksi P. falciparum tidak segera ditangani dalam 24 jam, besar kemungkinan penderita dapat mengalami komplikasi yang lebih berat, bahkan berpotensi terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh tertentu.

  • Plasmodium vivax

Infeksi P. vivax dinilai lebih sulit untuk diobati apabila dibandingkan dengan infeksi P. falciparum. Hal ini disebabkan karena perbedaan pada karakteristik parasit.

P. vivax memiliki sifat hipnozoit, di mana parasit dapat “tertidur” selama beberapa minggu atau bulan setelah penderita terinfeksi. Maka itu, kebanyakan penderita sama sekali tidak menunjukkan gejala apapun dan penyakit pun sulit untuk didiagnosis.

  • Plasmodium ovale

Jenis infeksi yang disebabkan oleh parasit P. ovale menunjukkan gejala yang cenderung lebih ringan apabila dibandingkan dengan parasit Plasmodium lainnya. Kondisi ini juga jarang mengakibatkan komplikasi atau kematian.

  • Plasmodium malariae

Serupa dengan infeksi P. ovale, parasit jenis P. malariae tergolong dalam jenis malaria yang ringan. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini juga dapat berakibat fatal seperti yang terjadi pada infeksi P. falciparum dan P. vivax.

  • Plasmodium knowlesi

Parasit P. knowlesi dikenal sebagai penyebab kelima dari malaria. Parasit ini memiliki bentuk yang cukup sulit dibedakan dengan P. malariae apabila dilihat dengan mikroskop. Selain itu, P. knowlesi membutuhkan waktu perkembangan yang paling singkat jika dibandingkan dengan Plasmodium jenis lainnya.

Hingga saat ini, hanya terdapat 4 kasus infeksi fatal yang pernah terjadi akibat parasit P. knowlesi di dunia.

2. Malaria berat

Jenis ini merupakan komplikasi dari malaria biasa yang tidak segera ditangani. Umumnya, penyebab dari kondisi ini adalah parasit P. falciparum, meskipun tidak menutup kemungkinan Plasmodium jenis lainnya juga dapat menimbulkan komplikasi.

Pada jenis ini, terjadi proses yang disebut dengan sekuestrasi, yaitu kondisi ketika darah menggumpal dan membuat sumbatan di pembuluh darah.

Apabila pembuluh darah otak tersumbat oleh gumpalan darah tersebut, kemungkinan akan ada efek berupa stroke, kejang, asidosis (peningkatan kadar asam di dalam tubuh), serta anemia berat.

Pada kondisi yang lebih parah, penderita berpotensi mengalami malaria serebral, yaitu ketika infeksi P. falciparum telah memengaruhi otak. Kondisi ini dapat terjadi kurang dari 2 minggu setelah pertama kali digigit nyamuk, serta diawali dengan demam selama 2-7 hari.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala malaria?

Pada kebanyakan orang, tanda-tanda dan gejala malaria muncul sekitar 10 hari hingga 4 minggu setelah pertama kali terinfeksi. Namun, terdapat pula kasus di mana penderita mulai merasakan gejala 7 hari setelah tergigit nyamuk, atau bahkan 1 tahun kemudian.

Tanda-tanda dan gejala umum dari penyakit ini meliputi:

  • Menggigil sedang sampai berat
  • Demam tinggi
  • Tubuh kelelahan
  • Banyak berkeringat
  • Sakit kepala
  • Mual disertai muntah
  • Diare
  • Nyeri otot

Pada kondisi yang lebih parah, seperti terjadinya komplikasi, kemungkinan penderita akan mengalami gejala berikut:

  • Kejang
  • Kebingungan
  • Buang air besar berdarah
  • Anemia
  • Koma

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter Anda.

Kapan harus pergi ke dokter?

Hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Demam tinggi setelah mengunjungi daerah dengan risiko malaria yang tinggi
  • Demam tinggi beberapa minggu, bulan, atau setahun telah berlalu setelah Anda pulang dari daerah dengan risiko malaria tinggi

Jika Anda memiliki tanda atau gejala di atas atau ingin bertanya, konsultasikanlah dengan dokter.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang Anda alami ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab malaria?

Kebanyakan penderita terinfeksi oleh parasit malaria akibat gigitan nyamuk betina Anopheles. Hanya nyamuk jenis Anopheles yang dapat menularkan parasit Plasmodium.

Biasanya, parasit terbawa ketika nyamuk mengisap darah penderita penyakit ini. Kemudian, ketika nyamuk mengisap darah orang lain, parasit dapat masuk ke dalam tubuh orang tersebut.

Karena umumnya parasit ini ditemukan di sel darah merah, maka penyakit ini juga dapat ditularkan melalui transfusi darah, prosedur transplantasi organ, atau jarum suntik dan infus yang tidak steril.

Selain itu, penyakit ini juga kemungkinan dapat ditularkan dari ibu ke bayi yang sedang berada di dalam kandungannya (malaria kongenital).

Saat parasit Plasmodium masuk ke dalam aliran darah Anda, parasit akan bergerak menuju hati. Di dalam hati, parasit akan tumbuh dan berkembang selama beberapa hari. Namun, biasanya parasit jenis P. vivax dan P. ovale akan “tertidur” selama beberapa bulan atau tahun di dalam tubuh manusia.

Ketika sudah bertumbuh dewasa, parasit mulai menginfeksi sel darah merah penderita. Pada saat inilah tanda-tanda dan gejala malaria akan timbul.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko saya terkena malaria?

Malaria adalah penyakit yang dapat terjadi pada hampir setiap orang, terlepas dari berapa usia dan apa kelompok ras penderitanya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau kondisi kesehatan. Faktor risiko hanyalah kondisi yang dapat memperbesar peluang untuk terkena penyakit.

Dalam kasus yang jarang terjadi, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat menderita penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu Anda untuk terkena malaria:

1. Usia

Meskipun penyakit ini dapat terjadi pada semua golongan usia, kasus kejadiannya banyak ditemukan pada anak-anak, terutama yang berusia di bawah 5 tahun.

2. Tinggal atau mengunjungi daerah beriklim tropis

Penyakit ini masih sangat umum di beberapa daerah beriklim tropis, seperti negara-negara di Afrika dan Asia Tenggara. Apabila Anda bepergian atau tinggal di daerah-daerah tersebut, risiko Anda untuk tertular cukup tinggi.

3. Berada di daerah dengan fasilitas kesehatan yang minim

Tinggal di negara-negara berkembang dengan fasilitas kesehatan yang minim juga dapat memperbesar peluang Anda untuk tertular parasit Plasmodium.

Selain itu, kemiskinan yang tinggi serta minimnya akses pendidikan juga berpengaruh pada kualitas kesehatan suatu negara, sehingga hal-hal tersebut memengaruhi angka kematian akibat penyakit ini.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana mendiagnosis malaria?

Dalam proses diagnosis, dokter mungkin akan meninjau ulang riwayat kesehatan Anda, serta menanyakan apakah Anda baru-baru ini mengunjungi daerah endemik malaria.

Selain itu, dokter akan memeriksa apakah ada keluhan seperti demam, menggigil, muntah, diare, dan gejala-gejala lainnya. Pemeriksaan akan dilanjutkan dengan mengecek adanya pembengkakan limpa (splenomegali) atau hati (hepatomegali).

Kemudian, dokter akan meminta Anda menjalani tes-tes tambahan, seperti pemeriksaan laboratorium. Pada tes ini, dokter akan mengambil sampel darah Anda untuk mengetahui adanya parasit, serta jenis parasit Plasmodium yang menginfeksi sel darah merah Anda.

Untuk hasil diagnosis yang lebih akurat, dokter akan merekomendasikan uji diagnostik cepat (rapid diagnostic test) agar jenis parasit yang terdapat di tubuh Anda dapat teridentifikasi, serta mengetahui apakah ada organ vital yang terpengaruh.

Selain uji diagnostik cepat, tes lain yang sering dilakukan untuk menguji adanya penyakit ini adalah pembacaan darah tepi (blood smear).

Tes tersebut dilakukan dengan cara meneteskan sampel darah Anda pada kaca objek, yang kemudian akan diperiksa dengan menggunakan mikroskop.

Tes darah tepi biasanya dilakukan sebagai tes lanjutan atau follow-up setelah tes pemeriksaan darah lengkap (complete blood count). Apabila hasil tes pemeriksaan darah lengkap menunjukkan adanya kelainan, Anda mungkin diminta untuk melakukan tes ini.

Ada beberapa tes yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya, sementara tes lainnya hanya kurang dari 15 menit.

Bagaimana cara mengobati malaria?

Pengobatan malaria yang disarankan oleh Ikatan Dokter Indonesia dan WHO adalah pemberian terapi berbasis artemisinin (ACT). Infeksi Plasmodium biasa (tanpa komplikasi) dan berat (dengan komplikasi) ditangani dengan dosis dan kombinasi obat yang berbeda.

1. Malaria biasa (tanpa komplikasi)

Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh P. falciparum dan P. vivax, dokter akan memberikan ACT yang digabung dengan primakuin.

Dosis primakuin untuk infeksi P. falciparum adalah 0,25 mg/kgBB, dan hanya diberikan pada hari pertama saja. Sementara itu, infeksi P. vivax diberikan dosis 0,25 mg/kgBB selama 14 hari.

Pada kasus malaria vivax yang kambuh, dokter akan memberikan ACT dengan dosis yang sama, namun dikombinasikan dengan primakuin 0,5 mg/kgBB/hari.

Pada infeksi P. ovale, obat ACT yang diberikan ditambah dengan primakuin selama 14 hari. Sedangkan untuk infeksi P. malariae, pasien diberikan ACT dengan dosis 1 kali sehari selama 3 hari. Pasien dengan infeksi P. malariae tidak diberikan primakuin.

Pengobatan malaria pada ibu hamil tidak berbeda jauh dengan pengobatan pada orang dewasa biasa. Namun, ibu hamil tidak boleh diberikan primakuin.

2. Malaria berat (dengan komplikasi)

Penderita kondisi ini harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit atau puskesmas terdekat.

Pasien akan diberikan artesunat intravena melalui infus. Apabila tidak tersedia, tim medis akan memberikan kina drip.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat mengatasi malaria?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mengatasi malaria:

  • Menyemprot dinding rumah dengan insektisida dapat membunuh nyamuk dewasa yang masuk ke dalam rumah.
  • Menjaga rumah tetap bersih, kering, dan higienis.
  • Tidur di bawah kelambu.
  • Menutupi kulit dengan mengenakan celana panjang dan baju berlengan panjang, atau pakaian tertutup, terlebih ketika wabah menyebar di daerah Anda.
  • Jika Anda terkena penyakit ini, Anda harus mengonsumsi makanan cair, baru kemudian dalam masa pemulihan, Anda bisa makan sayuran hijau dan buah-buahan.
  • Tidak membiarkan air tergenang dekat rumah Anda.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikan ke dokter Anda untuk dapat lebih mengerti solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat kesehatan, diagnosis atau pengobatan.

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 29, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca