Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pilihan Pengobatan untuk Menyembuhkan Malaria Hingga Tuntas

Pilihan Pengobatan untuk Menyembuhkan Malaria Hingga Tuntas

Malaria adalah penyakit yang ditularkan dari gigitan nyamuk. Tidak semua nyamuk bisa menyebabkan malaria, melainkan hanya nyamuk Anopheles betina yang sudah terinfeksi parasit bernama Plasmodium yang bisa menginfeksi manusia. Penyakit ini sering ditemukan di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini bisa mengancam nyawa. Oleh karena itu, pengobatan malaria harus dilakukan sedini mungkin dan dengan tepat.

Bagaimana orang bisa mengalami malaria?

Orang yang mengalami malaria awalnya mendapatkan gigitan nyamuk Anopheles betina yang membawa parasit Plasmodium dari darah orang sebelumnya yang sudah digigit oleh nyamuk yang sama terlebih dulu.

Ada berbagai jenis Plasmodium yang bisa menyebabkan malaria, yakni Plasmodium vivax, falciparum, malariae, dan ovale.

Setelah manusia tergigit oleh nyamuk Anopheles tersebut, parasit akan memasuki tubuh manusia dan kemudian masuk ke bagian hati manusia untuk tumbuh dan berkembang.

Parasit yang telah tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia ini selanjutnya berjalan di aliran darah manusia. Parasit pun menyerang dan menghancurkan sel darah merah Anda.

Itulah mengapa ditemukan banyak Plasmodium pada sel darah merah pasien malaria.

Lalu bagaimana pengobatan malaria dilakukan?

minum obat kusta

Setiap negara memiliki standar pengobatan malaria masing-masing. Namun, semuanya memiliki tujuan sama, yaitu membunuh semua parasit Plasmodium yang ada di dalam tubuh manusia.

Selain untuk menyembuhkan, pengobatan malaria sangat penting untuk memutus rantai penularan selanjutnya.

Penanganan malaria yang dilakukan bagi setiap orang berbeda-beda, tergantung pada jenis parasit yang menyebabkannya, seberapa parah gejala malaria yang muncul, dan usia pasien.

Ada 3 jenis pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi malaria, yaitu dengan minum obat-obatan medis, penanganan di RS, serta memanfaatkan bahan alami sebagai obat.

Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

1. Obat-obatan medis

Usia akan menentukan dosis obat yang dibutuhkan. Ketika pertama didiagnosis positif malaria, tenaga kesehatan akan memberikan obat yang wajib diminum sampai habis untuk mencegah Plasmodium menjadi kebal terhadap obat.

Dilansir dari Buku Saku Penatalaksanaan Malaria Kementrian Kesehatan, jika penderita malaria melakukan rawat jalan di rumah, 3 hari setelah diberi obat antimalaria pasien harus check up untuk memantau perubahan yang positif atau jika tidak ada perubahan sama sekali.

Dokter akan meninjau seberapa ampuh obat yang sudah diminum.

Selanjutnya, pada hari ke-7, hari ke-14, hari ke-21, dan hari ke-28 dokter juga harus kembali memeriksa segala perubahan yang terjadi sehingga Anda benar-benar dinyatakan sembuh.

Berikut adalah obat-obatan malaria yang sering diresepkan dokter:

Obat malaria falciparum

Di Indonesia, pengobatan lini pertama malaria falsiparum adalah menggunakan kombinasi obat artesunate, amodiakuin, dan primakuin. Pengobatan lini pertama ini selanjutnya akan dilihat efektif atau tidak selama 3 hari setelah minum obat pertama kali.

Lini kedua pengobatan malaria falciparum dilakukan dengan kombinasi kina, doksisiklin atau tetrasiklin, dan primakuin. Obat-obatan ini diberikan secara oral selama 7 hari ke depan.

Obat malaria vivaks dan ovale

Lini pertama pengobatan malaria jenis ini adalah dengan kombinasi obat klorokuin dan primakuin. Sama seperti malaria falsiparum, jika setelah 3 hari mengonsumsi obat lini pertama tidak efektif maka akan dilanjutkan pengobatan ini kedua.

Pengobatan lini kedua dilanjutkan dengan peningkatan dosis primakuin.

Obat malaria malariae

Pengobatan malaria jenis ini cukup diberikan dengan klorokuin sekali sehari selama 3 hari ke depan dan diikuti dengan pemeriksaan kembali setelah 3 hari.

Klorokuin dapat membunuh Plasmodium malariae berbentuk aseksual maupun seksual di dalam tubuh.

Semua obat yang diberikan tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong karena bisa menyebabkan iritasi lambung. Oleh sebab itu, penderita malaria harus makan dulu sebelum minum obat.

2. Perawatan di rumah sakit

Pengobatan dengan rawat inap di rumah sakit harus dilakukan pada pasien malaria berat. Dengan penanganan medis di RS, pasien bisa mendapatkan obat artesunate melalui suntikan dan infus.

Pasien yang menjalani rawat inap di RS akan diperiksa setiap beberapa hari sekali untuk mengetahui keampuhan obat yang diberikan. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada hari ke-7, 14, 21, dan 28.

Tergantung pada tingkat keparahan serta organ tubuh mana yang terdampak infeksi, pasien mungkin memerlukan pengobatan intensif di ruang ICU.

Biasanya kondisi ini diberlakukan pada pasien dengan komplikasi berat, seperti malaria serebral, gagal ginjal, anemia berat, atau pernapasan terganggu.

3. Obat-obatan alami

Selain dengan obat-obatan medis dan rawat inap di RS, pengobatan penyakit malaria juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan alami alias obat herbal.

Namun, penting untuk diingat bahwa obat-obatan alami tidak bisa digunakan sebagai pengobatan utama. Malaria adalah penyakit yang masih memerlukan penanganan dari tenaga medis.

Maka itu, obat-obatan alami hanya berperan sebagai pengobatan pendamping saja.

Terdapat banyak tanaman dan obat-obatan herbal yang telah diuji secara klinis sebagai obat alami malaria. Salah satunya adalah kayu manis, yang telah diteliti dalam Journal of Tropical Medicine.

Menurut penelitian tersebut, terdapat zat antiparasit di dalam kayu manis yang bisa melawan infeksi parasit Plasmodium.

Bila Anda punya pertanyaan atau kekhawatiran soal pengobatan malaria tertentu, langsung tanyakan pada dokter yang menangani Anda.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Antimalaria – Pusat Informasi Obat Nasional. (n.d.). Retrieved December 1, 2020, from  http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/55-infeksi-protozoa/551-antimalaria 

Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Retrieved December 1, 2020, from http://www.pdpersi.co.id/kanalpersi/data/elibrary/bukusaku_malaria.pdf

Guidelines for the Treatment of Malaria: Third Edition – WHO. (2015). Retrieved December 1, 2020, from https://www.who.int/docs/default-source/documents/publications/gmp/guidelines-for-the-treatment-of-malaria-eng.pdf?sfvrsn=a0138b77_2 

Malaria: Frequently Asked Questions – CDC. (2018). Retrieved December 1, 2020, from  https://www.cdc.gov/malaria/about/faqs.html

Malaria: Diagnosis & treatment – Mayo Clinic. (2018). Retrieved December 1, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/malaria/diagnosis-treatment/drc-20351190 

Parvazi, S., Sadeghi, S., Azadi, M., Mohammadi, M., Arjmand, M., Vahabi, F., Sadeghzadeh, S., & Zamani, Z. (2016). The Effect of Aqueous Extract of Cinnamon on the Metabolome of Plasmodium falciparum Using (1)HNMR Spectroscopy. Journal of tropical medicine, 2016, https://doi.org/10.1155/2016/3174841

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji Diperbarui 05/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.