Banyak mitos dan fakta rambut kemaluan yang masih simpang siur. Ada yang bilang sebaiknya bulu kemaluan dicukur rutin. Namun, ada juga yang menyebutkan membiarkan bulu kemaluan tumbuh panjang justru baik untuk kesehatan. Lantas, mana yang benar?
Banyak mitos dan fakta rambut kemaluan yang masih simpang siur. Ada yang bilang sebaiknya bulu kemaluan dicukur rutin. Namun, ada juga yang menyebutkan membiarkan bulu kemaluan tumbuh panjang justru baik untuk kesehatan. Lantas, mana yang benar?

Rambut kemaluan merupakan jenis rambut terminal yang mulai tumbuh di sekitar organ intim saat memasuki masa pubertas.
Fungsi bulu kemaluan ini pun tak kalah penting dengan fungsi rambut pada umumnya, yaitu melindungi bagian tubuh tempatnya tumbuh.
Anda mungkin sering mendengar beberapa mitos tentang rambut kemaluan, mulai dari bulu kemaluan menandakan kebersihan hingga seputar mencukur rambut di area genital.
Berikut adalah fakta sebenarnya dari mitos-mitos rambut kemaluan yang beredar selama ini.

Banyak yang menganggap bahwa rambut kemaluan bisa berperan sebagai media pertumbuhan bakteri di organ intim Anda.
Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ada fakta menakjubkan dari fungsi rambut kemaluan sebagai bagian dari rambut terminal.
Rambut kemaluan atau bulu pubis dapat mencegah timbulnya beberapa penyakit seperti infeksi bakteri dan penyakit kutil kelamin.
Bulu pubis menjaga kelembapan area genital Anda sehingga bakteri dan mikroba lainnya tidak mudah berkembang.
Namun, bukan berarti Anda tak perlu merawat dan memperhatikan kebersihan area intim. Anda sebaiknya memahami cara membersihkan organ intim dengan benar dan mengeringkannya setelah dibersihkan.
Fakta rambut kemaluan berikutnya berkaitan dengan hubungan intim. Gesekan yang terjadi di organ intim karena pakaian maupun aktivitas seksual dapat mengiritasi kulit di bagian tersebut.
Pasalnya, kulit di area organ intim sangat sensitif terhadap sentuhan. Itulah mengapa hubungan intim bisa terasa menyakitkan dan tidak nyaman, terutama pada wanita yang mengalami penetrasi.
Kabar baiknya, bulu pubis hadir untuk mengurangi efek gesekan yang mungkin terjadi.
Tak heran, bila rambut kemaluan ini sering disebut-sebut sebagai “pelumas kering” karena memudahkan gesekan saat penetrasi.
Selain itu, rambut kemaluan dapat memerangkap feromon yang dapat meningkatkan gairah seks. Feromon merupakan aroma khusus yang dimiliki seseorang saat kulit mengeluarkan minyak atau sebum.
Meskipun sama-sama termasuk rambut terminal, warna rambut kemaluan tidak bergantung pada warna rambut di kepala Anda.
Warnanya ditentukan oleh jumlah melanin (zat pigmen) dalam struktur kulit dan folikel Anda, yang bisa berbeda karena jumlah melanin berbeda di berbagai bagian tubuh.
Umumnya, warna rambut kemaluan Anda paling dekat dengan warna alami alis Anda, dan cenderung lebih gelap dengan tekstur lebih tebal.
Selain itu, seiring bertambahnya usia, melanin dalam folikel rambut Anda berkurang. Hal ini membuat rambut menjadi lebih terang dan akhirnya tumbuh uban, baik di kepala maupun di area kemaluan.
Fakta rambut kemaluan lainnya yang tidak diketahui banyak orang adalah bulu kemaluan akan berhenti tumbuh pada saat tertentu, terutama ketika Anda memasuki usia lebih lanjut.
Tak jauh berbeda dengan rambut uban di kepala, folikel rambut kemaluan juga bisa menghasilkan uban seiring berkurangnya melanin.
Rambut kemaluan tetap bisa tumbuh, sekitar 1 sampai 5 cm, selama folikel rambut masih berfungsi dengan normal.
Panjang rambut kemaluan juga bergantung pada genetik seseorang. Nah, rambut kemaluan ini akan berhenti pada batas usia tertentu. Proses pertumbuhan rambut di area genital biasanya berhenti setelah menopause.
Rambut kemaluan akan semakin halus teksturnya dan lama-kelamaan tidak tumbuh rambut baru lagi.

Mengutip The American College of Obstetricians and Gynecologists, mencukur atau tidak mencukur rambut kemaluan sebenarnya tergantung kenyamanan masing-masing.
Apabila bulu kemaluan membuat Anda merasa tidak nyaman, Anda boleh saja mecukurnya.
Namun, Anda harus mencukur rambut di area genital yang tepat agar prosesnya tidak menyakitkan dan terhindar dari berbagai efek samping.
Berikut ini efek samping bisa muncul dari mencukur bulu kemaluan.
Nah, dari semua fakta rambut kemaluan di atas, mana yang baru Anda ketahui atau ternyata selama ini Anda salah memahami?
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Butler, S., Smith, N., Collazo, E., Caltabiano, L. and Herbenick, D. (2015). Pubic Hair Preferences, Reasons for Removal, and Associated Genital Symptoms: Comparisons Between Men and Women. The Journal of Sexual Medicine, 12(1), pp.48-58.
Terminal Hair: Function & Examples. (2022). Retrieved 18 March 2025, from https://my.clevelandclinic.org/health/body/23140-terminal-hair
Rowen, T., Gaither, T., Awad, M., Osterberg, E., Shindel, A., & Breyer, B. (2016). Pubic Hair Grooming Prevalence and Motivation Among Women in the United States. JAMA Dermatology, 152(10), 1106.
DeMaria, A., Rivera, S., Meier, S., Wakefield, A., Long, L., & Miller, A. (2020). “You have to be clean:” a qualitative study of pubic hair grooming behaviours among women living in Italy. Culture, Health & Sexuality, 23(5), 593-607.
To Shave or Not to Shave: An Ob-Gyn’s Guide to Pubic Hair Care. (n.d.). The American College of Obstetricians and Gynecologists. Retrieved 18 March 2025, from https://www.acog.org/womens-health/experts-and-stories/the-latest/to-shave-or-not-to-shave-an-ob-gyns-guide-to-pubic-hair-care
Versi Terbaru
03/04/2025
Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala