World Menopause Day 2026: Kenali Dampak Perimenopause pada Wanita
Perimenopause adalah masa transisi menuju menopause yang ditandai dengan perubahan fungsi ovarium dan fluktuasi hormon. Perubahan ini dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, dari siklus menstruasi hingga nyeri berkepanjangan dan gangguan dasar panggul.

Memahami dampak perimenopause pada wanita dapat membantu perempuan mengenali perubahan tubuh dan mencari penanganan yang tepat.
Dalam rangka memperingati World Menopause Day pada 18 Oktober 2026, Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc., dan dr. Astrid Yunita, Sp. O.G, Subsp. Urogin.Re., dari RS Pondok Indah (RSPI), membahas perubahan yang terjadi selama masa transisi menuju menopause serta dampaknya terhadap kesehatan perempuan.
Tahun ini, International Menopause Society mengangkat tema “Chronic Pain at Midlife” untuk menyoroti nyeri pada usia paruh baya yang masih kerap kurang mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan.
Mengenal perimenopause dan kapan menopause terjadi
Perimenopause adalah masa transisi ketika fungsi ovarium mulai menurun dan produksi hormon, terutama estrogen dan progesteron, mengalami fluktuasi. Pada fase ini, siklus menstruasi dapat menjadi tidak teratur, jarak antarmenstruasi berubah, atau perdarahan menjadi lebih banyak.
Sementara itu, menopause ditetapkan setelah seorang perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut akibat berhentinya fungsi ovarium. Periode setelahnya disebut pascamenopause.
Dr. Kanadi menjelaskan bahwa waktu terjadinya menopause berkaitan dengan cadangan ovarium atau ovarian reserve.
Sel telur mulai terbentuk sejak masa janin, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai 6–7 juta. Jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar 1–2 juta saat lahir dan sekitar 300.000–400.000 ketika memasuki pubertas.
Sepanjang kehidupan reproduktif, banyak folikel mengalami degenerasi. Seiring berkurangnya cadangan ovarium, fungsi ovarium pada akhirnya menurun hingga menstruasi berhenti. Karena proses ini dipengaruhi oleh cadangan ovarium dan faktor lain, usia menopause setiap perempuan dapat berbeda.
Perubahan tubuh menjelang dan saat menopause

Fluktuasi hormon selama perimenopause dan penurunan estrogen setelah menopause dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh. Karena itu, dampak perimenopause pada wanita tidak terbatas pada perubahan siklus menstruasi.
Gejala yang dapat muncul adalah sebagai berikut.
- Perubahan siklus menstruasi, seperti menstruasi yang tidak teratur atau perubahan jumlah perdarahan.
- Gangguan tidur dan suasana hati, termasuk kesulitan tidur dan perubahan emosi.
- Keluhan vasomotor, seperti sensasi panas mendadak atau hot flashes.
- Gangguan konsentrasi dan kognitif, yang dapat dirasakan sebagai kesulitan berkonsentrasi.
- Nyeri saat menopause, termasuk keluhan pada sendi, otot, punggung, atau sakit kepala.
- Perubahan pada kulit dan rambut, termasuk kulit yang terasa lebih kering atau rambut yang menipis.
- Keluhan urogenital, seperti vagina kering, rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual, dan gangguan berkemih.
Tidak semua perempuan mengalami gejala yang sama. Intensitas dan jenis keluhan juga dapat berbeda sehingga penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Meski demikian, keluhan yang muncul selama perimenopause tidak selalu berkaitan langsung dengan perubahan hormon. Nyeri, misalnya, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan muncul di bagian tubuh yang berbeda.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali keluhan yang dialami dan tidak mengabaikannya, terutama jika nyeri berlangsung lama atau mengganggu kualitas hidup.
Tema “Chronic Pain at Midlife” pada World Menopause Day 2026 mengingatkan bahwa nyeri pada usia paruh baya perlu mendapat perhatian. Perubahan hormon dapat berkaitan dengan perubahan respons peradangan dan persepsi nyeri, tetapi nyeri yang menetap juga dapat disebabkan oleh kondisi lain.
Karena itu, nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan atau menopause. Pemeriksaan medis dapat membantu mengidentifikasi penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Vagina kering dan gangguan dasar panggul saat menopause

Menurut dr. Astrid, kesehatan dasar panggul juga perlu diperhatikan selama masa transisi menuju menopause hingga pascamenopause.
Selain perubahan hormon, faktor seperti kehamilan, usia, faktor genetik, operasi, trauma panggul, batuk kronis, dan kebiasaan mengangkat beban berat dapat memengaruhi fungsi dasar panggul.
Penurunan estrogen dapat membuat jaringan vagina menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis. Kondisi ini dapat menimbulkan vagina kering saat menopause, rasa gatal atau panas, serta nyeri ketika berhubungan seksual.
Keluhan urogenital yang berkaitan dengan menopause secara kolektif dikenal sebagai genitourinary syndrome of menopause (GSM).
Gangguan dasar panggul juga dapat berupa inkontinensia urine, yaitu keluarnya urine tanpa disengaja, misalnya ketika batuk atau bersin. Sebagian perempuan juga mengalami prolaps organ panggul, ketika organ seperti rahim atau kandung kemih turun ke arah vagina.
Pilihan penanganan bergantung pada jenis dan tingkat keparahan keluhan. Dokter dapat menyarankan latihan otot dasar panggul atau Kegel, pelembap vagina, maupun estrogen lokal jika sesuai.
Tidak hanya itu, keluhan berkemih yang berulang juga perlu dievaluasi karena tidak semuanya disebabkan oleh infeksi saluran kemih.
Menjaga kesehatan tulang selama perimenopause
Estrogen berperan dalam menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penguraian tulang. Ketika kadar estrogen menurun, penguraian tulang dapat berlangsung lebih cepat daripada pembentukannya sehingga risiko osteoporosis meningkat.
Kanadi menekankan pentingnya menjaga kecukupan kalsium untuk mendukung kepadatan tulang. Pasalnya, hambatan penyerapan kalsium dapat menurunkan kadar kalsium dalam darah sehingga tubuh mengambil cadangan kalsium dari tulang.
Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc
Selain memastikan asupan kalsium yang cukup, perempuan perlu menerapkan pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik yang sesuai, dan berkonsultasi dengan dokter mengenai faktor risiko osteoporosis.
Bisakah dampak perimenopause dicegah?
Perimenopause merupakan proses biologis yang tidak dapat dihentikan begitu saja, dan belum ada teknologi yang terbukti dapat menunda menopause secara pasti. Namun, perempuan dapat melakukan berbagai langkah untuk menjaga kesehatan dan mengelola gejala.
Perubahan gaya hidup, pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, serta tidur yang cukup dapat membantu mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Jika keluhan mengganggu kualitas hidup, dokter dapat mengevaluasi pilihan penanganan, termasuk terapi hormonal pada perempuan menopause yang memenuhi kriteria. Terapi ini memiliki manfaat dan risiko yang perlu dipertimbangkan secara individual bersama dokter.
Pada akhirnya, memahami dampak perimenopause pada wanita bukan sekadar mengenali tanda-tanda perubahan hormon. Hal yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa setiap perempuan dapat mengalami gejala yang berbeda.
Keluhan yang mengganggu kualitas hidup pun tidak harus diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa ditangani. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang paling sesuai.